Isi Surat Presiden ke 5 Republik Indonesia kepada Ayatollah Mojtaba Khamenei
Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengirim sepucuk surat atas diangkatnya Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Surat tersebut diserahkan kepada Dutas Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi saat mengunjungi kediaman Ibu Megawati pada Selasa 10 Maret 2026.
Dalam pesannya, Megawati Soekarnoputri menilai, terpilihnya Mojtaba Khamenei melalui keputusan Majelis Pakar Iran menunjukkan kepercayaan besar dari ulama dan rakyat Iran di tengah situasi yang penuh tantangan.
Megawati Soekarnoputri juga mengaitkan peristiwa tersebut dengan pemikiran geopolitik Bung Karno, yang menekankan persatuan bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk membangun dunia yang lebih adil serta bebas dari imperialisme.
Megawati Soekarnoputri menilai semangat kemandirian dan kedaulatan Iran sejalan dengan prinsip Trisakti yang pernah digagas oleh Presiden pertama Indonesia.
Di akhir suratnya, Megawati Soekarnoputri berharap kepemimpinan Mojtaba Khamenei dapat membawa Iran keluar dari berbagai krisis sekaligus berkontribusi pada perdamaian dunia melalui dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Isi surat lengkapnya sebagai berikut :
Nomor : 015/EX/KU/III/2026
Lampiran : -
Perihal : Ucapan Selamat
Jakarta, 09 Maret 2026
Kepada Yang Mulia,
Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenel
Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran
di Tempat
Dengan rasa hormat dan penuh persaudaraan,
Sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, atas nama pribadi, keluarga besar Bung Karno, dan bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi persahabatan antarbangsa, saya menyampaikan ucapan selamat yang tulus atas terpilihnya Yang Mulia Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Rahbar (Pemimpin Tertinggi) Republik Islam Iran melalui keputusan rapat demokratis dari 88 anggota Majelis Pakar. Pemilihan ini berlangsung di tengah berbagai tantangan dan situasi yang tidak sepenuhnya kondusif, namun Yang Mulia telah mampu mendapatkan kepercayaan besar dari para ulama dan rakyat Iran. Pemilihan ini menjadi saksi nyata atas kepemimpinan, kecakapan, kedalaman ilmu, dan keteguhan Yang Mulia sehingga mampu menembus sekat-sekat perbedaan dan menyatukan kepemimpinan Iran.
Bung Karno, Proklamator, Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, yang juga merupakan ayahanda saya, selalu menekankan pentingnya persatuan nasional, kemandirian bangsa, dan kokoh di dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa. Bung Karno dalam seluruh sejarah perjuangannya terus menghimpun persaudaraan bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin guna membangun tata dunia baru dengan membebaskan diri terhadap segala bentuk imperialisme dan kolonialisme. Perjuangan tersebut dibangun melalui Konferensi Asia Afrika tahun 1955, Gerakan Non-Blok tahun 1961, Konferensi Anti Pangkalan Militer Asing tahun 1965, dan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) tahun 1965.
Dalam pandangan saya, seluruh pemikiran geopolitik Bung Karno tersebut merupakan upaya nyata untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan, dan disertai visi yang begitu kuat bagi perdamaian dunia.
Dengan melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh rakyat dan bangsa Iran saat ini, saya berpandangan bahwa rekam jejak sejarah peradaban bangsa Iran yang begitu panjang telah membentuk karakter dan semangat juang yang luar biasa. Bahkan di tengah berbagai tekanan dan sanksi ekonomi yang berlangsung begitu lama, bangsa Iran mampu hadir sebagai bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan atau yang dikenal dengan Trisakti Bung Karno.
Dengan pertimbangan tersebut, saya berkeyakinan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada Yang Mulia dapat melanjutkan jejak para pemimpin revolusi Republik Islam Iran terdahulu yang memiliki pandangan yang sama dengan pemikiran Bung Karno, khususnya di dalam perjuangan menegakkan keadilan global, menolak tunduk pada kekuatan neo-imperialisme, serta menjunjung tinggi martabat dan kedaulatan bangsa.
Sebagai bangsa, kami meyakini bahwa dunia sejatinya harus dibangun di atas prinsip hidup bersama secara damai (peaceful co-existence), kesetaraan, keadilan, serta kemanusiaan tanpa sekat. Prinsip ini merupakan cerminan dari falsafah dan ideology bangsa kami, Pancasila, serta termaktub dalam konstitusi kami. Bangsa kami selalu percaya bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh karenanya penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Nilai-nilai inilah yang membebtuk sikap kami untuk tidak tinggal diam terhadap berbagai bentuk penindasan dan imperialism baru. (*)
Editor : S. Anwar