Megawati Soekarno Putri Dapat Beras Piher dari Orang Karo

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Megawati Soekarno Putri saat diberi penghargaan oleh orang Karo
Megawati Soekarno Putri saat diberi penghargaan oleh orang Karo
grosir-buah-surabaya

Di tahun 1993, masyarakat Suku Karo perantauan dari Provinsi Sumatera Utara melakukan silaturahmi di Jakarta. Acaranya dibuat di Pusdikes Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) Cililitan. Megawati Soekarno Putri diundang untuk hadir. 

Megawati Soekarno Putri awalnya tak percaya, karena masa itu adalah era Orde Baru. Gerak-gerik Megawati Soekarno Putri dibatasi dan diawasi oleh rezim. 

Megawati Soekarno Putri bilang secara verbatim ke pihak yang mengundang : "Ini zaman Orde Baru. Saya mungkin tidak akan ditangkap. Apa kalian (Orang Karo) yakin?" 

Orang Karo mengatakan yakin. Megawati Soekarno Putri datang ke acara itu. Ia mendapat kehormatan mendapatkan "beras piher", sebuah simbol bagi budaya Karo agar Megawati Soekarno Putri sehat, panjang umur dan jauh dari bahaya.

Setelahnya, Megawati Soekarno Putri disematkan marga atau semacam nama keluarga beru (untuk perempuan) Perangin-angin. Megawati Soekarnoputri beru Perangin-angin. 

Megawati Soekarno Putri amat terharu. Ia merasa terhormat diberi penghargaan dari orang Karo. Apalagi disitu ada Selamat Gintings, salah satu orang yang "menjaga" Soekarno atau Bung Karno saat diasingkan ke Berastagi Kabupaten Karo oleh Belanda pada 22 Desember 1948. 

Saat agresi militer II, yang mana Belanda ingin masuk kembali ke Indonesia. Soekarno tidak sendirian diasingkan ke Karo, ada Agus Salim dan Sutan Sjahrir juga. Mengetahui Soekarno ditahan di Berastagi, para pejuang Karo sudah bersiap untuk melepaskannya. Bahkan sangkin antusiasnya, di Karo sudah ada 7 Batalion yang jumlahnya 7.000-an pejuang dan Tentara Rakyat yang siap bertempur dengan Belanda. 

Ada 3 Resimen waktu itu yang berjuang di Karo. Salah satunya, Pasukan Halilintar yang dipimpin oleh Mayor Selamat Gintings. Orang yang selanjutnya bergabung ke Partai Nasionalis Indonesia (PNI) ikut Bung Karno. 

Mengetahui kekuatan pejuang Karo yang luar biasa dan sulit untuk dihadang. 4 Januari 1949, Belanda akhirnya memindahkan Sukarno ke Parapat, Kabupaten Simalungun. Bung Karno memang hanya 12 hari di Kabupaten Karo. Namun, itu sudah cukup menyatukan jiwa dan perasaan masyarakat Karo terhadap Bung Karno. 

Atas dasar sejarah ini, orang Karo di Jakarta tak peduli risiko saat harus ditangkap saat bersilaturahmi pada Megawati Soekarno Putri. Di masa revolusi saja mereka berani, apalagi pasca kemerdekaan. Kecintaan Orang Karo pada Bung Karno sama dengan kecintaan mereka pada Megawati Soekarno Putri. (*)

*) Source : Kakekhalal