Israel Hancurkan Gedung Universitas Sains dan Teknologi Iran
Agresi Israel terhadap Iran tidak hanya menargetka fasilitas militer, tapi juga pendidikan. Gedung Universitas Sains dan Teknologi Iran dilaporkan hancur akibat serangan bom udara Israel pada Jumat, 27 Maret 2026.
Helyeh Doutaghi selaku Dosen Universitas Sains dan Teknologi Iran melihat langsung puing-puing gedung Universitas Sains dan Teknologi Iran yang hancur diserang Militer Israel.
“Hari ini adalah salah satu hari paling mengerikan dalam hidup saya sebagai seorang akademisi. Saat berjalan melewati Universitas Sains dan Teknologi Iran, sebuah universitas negeri peringkat atas di Iran, saya terkejut melihat kehancurannya,” kata Helyeh Doutaghi disampaikan pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Disampaikan Helyeh Doutaghi, pada Februari 2026, Universitas Sains dan Teknologi Iran dipenuhi mahasiswa, ramai di antara ruang kelas. Sekarang, sebagian kampus hancur, ruang kelas berantakan, lorong-lorong dipenuhi debu dan pecahan kaca.
“Aku melihat kantor-kantor profesor terbakar. Sebuah bangunan yang baru direnovasi, tempat para mahasiswa berkumpul untuk berbagai program, bersosialisasi, dan menjalani kehidupan, hancur lebur. Seorang mahasiswa, sambil menangis, berkata kepada saya: ‘Ruang kantor profesor saya masih sedikit terbakar. Di situlah saya biasa menunggu jam konsultasi. Untuk mengajukan pertanyaan. Untuk mengajukan banding atas nilai saya.’ Ini adalah universitas yang sama yang meluncurkan satelit Omid dan Zafar 2 milik Iran, simbol pencapaian teknologi dalam negeri,” kata Helyeh Doutaghi.
Seminggu yang lalu, dia menyebutkan, salah satu profesor Universitas Sains dan Teknologi Iran dibunuh oleh militer Israel. Kemarin, militer Israel membomnya.
“Dari sanksi hingga pembunuhan yang ditargetkan, hingga pemboman pusat penelitian dan universitas, terdapat pola yang jelas: de-pembangunan & de-industrialisasi/ pembongkaran sistematis pembangunan asli suatu bangsa, basis industrinya, dan kemampuannya untuk berdiri sendiri. Kita tidak akan pernah lupa bahwa ketika para penjahat perang Amerika dan Zionis secara terang-terangan menargetkan universitas, sekolah, rumah sakit/ membunuh profesor dan anak-anak, dan setelah 2 tahun genosida, para intelektual Barat masih memperdebatkan apakah akan mengesahkan resolusi BDS yang simbolis dan tidak dapat ditegakkan secara hukum. Foto-foto diambil oleh saya, laporan lengkap akan segera menyusul,” tegasnya. (*)
Editor : Bambang Harianto