Muncul Dualisme Yayasan, BEM Universitas Nahdlatul Ulama Bangil Demo

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Aksi demo yang digelar BEM UNUBA di area kampus
Aksi demo yang digelar BEM UNUBA di area kampus
grosir-buah-surabaya

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) menggelar aksi demontrasi pada Kamis (9/4/2026) sore. Demo dipicu oleh munculnya dualisme pengurus Yayasan Panca Wahana yang menaungi Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) tersebut.

Puluhan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) demo untuk menyuarakan aspirasi dan keresahan mereka. Aksi diawali dengan kegiatan istighosah bersama dan tabur bunga di depan kantor Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangil. Dilanjutkan dengan orasi yang berisi kritikan dan pertanyaan terhadap yayasan dan pengurus Nahdlatul Ulama. 

Mahasiswa memprotes munculnya dua Surat Keputusan (SK) pengurus Yayasan Panca Wahana yang menaungi kampus Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) tersebut. Mahasiswa resah dan khawatir, ijazah yang dikeluarkan Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) tidak diakui karena Rektor yang baru dianggap abal-abal.

Disebut abal-abal, karena Rektor yang diangkat ini dipilih oleh Yayasan Panca Wahana yang lama dan masa khidmatnya berakhir pertengahan tahun 2025. Mahasiswa menuding, pengangkatan Rektor oleh Yayasan Panca Wahana yang masa berakhirnya habis itu cacat hukum.

Mustofa, Anggota BEM Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) mengatakan, banyak beberapa hal yang menjadi tuntutan mahasiswa kali ini. Demo ini diputuskan dilakukan setelah pihak Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) tidak menemui mahasiswa atau membalas surat yang dikirimkan.

"Makanya, kami dan teman-teman turun aksi demo di depan kampus. Kami ingin, apa yang menjadi pertanyaan teman-teman mendapatkan jawaban, karena melalui forum dan surat tidak pernah ditemui. Jalan buntu," kata Mustofa.

Paling mengganjal, ungkap Mustofa, adalah terkait adanya dua Yayasan Panca Wahana yang sama–sama mengklaim bertanggung jawab atas Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA). Dia menuntut adanya kejelasan, karena jika dibiarkan imbasnya berdampak pada masa depan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA).

"Kampus baru berubah menjadi Universitas. Namun tiba-tiba ada konflik di internal yayasan. Terus nasib mahasiswa bagaimana ke depan. Kalau konflik ini berkelanjutan, kasihan teman-teman yang mau lulus. Ijazahnya bagaimana. Jangan sampai masa depan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang menjadi korbannya," kata Mustofa.

Dia mengaku resah tentang nasib legalitas ijazah yang dikeluarkan Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) karena adanya konflik di internal Yayasan Panca Wahana.

"Kami minta konflik dualisme Yayasan Panca Wahana ini segera diselesaikan. Kami tidak ingin legalitas ijazah kami dipertanyakan, karena itu menjadi syarat administrasi yang menjadi bekal untuk menitih karir mahasiswa ke depan," urainya.

Mahasiswa UNUBA mendesak Rektor yang baru menunjukkan legalitas dan bukti yang sah atas amanah yang diembannya. Jika tidak bisa, Yayasan Panca Wahana yang sah juga segera mengambil langkah strategis lanjutan untuk menyelesaikannya.

"Sehingga, kami tidak menjadi korban dari pertarungan kekuasaan. Kami hanya butuh kepastian saja. Hari ini, keresahan dan pertanyaan kami terkait legalitas rektor yang baru belum mendapat jawaban," pungkasnya. (Dik)