Nenek Buyut Gus Dur dan Kaitan Pernikahan Ning Inayah Wahid
Nyai Ratu Mandoko Puteri atau lebih dikenal dengan nama Kanjeng Ratu Putri adalah seorang putri dari Sunan Kalijaga yang pindah ke Kabupaten Sumenep, sebuah tempat yang berada di ujung timur Pulau Madura dan menjadi pusat kota di masanya. Beliau dimakamkan di Asta Tinggi Sumenep (area pemakaman raja-raja Sumenep).
Salah satu misi Kanjeng Ratu Putri adalah mengembangkan Toriqot Qodiriyah. Salah satu tarekat sufi tertua dan terbesar yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077-1166 Masehi). Kanjeng Ratu Putri ini juga dikenal sebagai sosok yang pertama kali memprakarsai gerakan Civil society, sebuah kekuatan di luar pemerintahan yang ada di Kabupaten Sumenep.
Kanjeng Ratu Putri ini menikah dengan Ki Ageng Pengging (Raden Kebo Kenanga), putra dari Sri Makurung Prabu Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) dan Ratu Pembayun (putri Brawijaya V).
Lalu melahirkan anak yang dikenal sebagai Joko Tingkir. Atau yang dikenal juga sebagai Sultan Hadiwijaya, pendiri sekaligus Sultan Pajang pertama. Dari jalur inilah, 500-600 tahun kemudian lahir Gus Dur (Abdurrahman Wahid).
Dalam salah satu safari ke Sumenep, pernah ada seorang perempuan sepuh (misterius, karena setelah salaman dengan Gus Dur tiba-tiba lenyap dalam kerumunan) yang menerobos kerumunan jama'ah pengajian. Para Banser dan teman-teman menghadang perempuan tersebut, tetapi Gus Dur melarangnya dan mengatakan "biarkan saja, itu Mbah (nenek) buyut saya".
Maka hadir dan ditakdirkannya Ning Inayah Wulandari Wahid mendapatkan jodoh dari tanah Sumenep adalah bagian silaturahimi dan penyatuan rindu para leluhur beliau sejak era akhir kerajaan Majapahit, kerajaan Islam Pajang, Mataram Islam hingga Indonesia Raya.
Siapa Suami Inayah Wulandari, Putri bungsu Gus Dur?
Beliau adalah Dr KH Muhammad Shalahuddin A. Warits, salah satu putra Pondok Pesantren Annuqayah sekaligus pengasuh Annuqayah Daerah Lubangsa Raya. Annuqayah merupakan Pondok Pesantren Serikat atau Ponpes Federal yang mempunyai pondok wilayah yaitu wilayah Lubangsa Raya, Lubangsa Selatan, Utara, Lubangsa Tengah, Latee, Kusuma, Sawajarin dan masih ada lainnya, yang masing-masing memiliki Kiyai khos, semacam Kiyai utama.
Annuqayah ini berhasil melakukan orkestrasi pendidikan dengan baik. Kombinasi pendidikan tradisional, pendidikan agama dan pendidikan modern. Di sana ada jenjang TK hingga Universitas. Universitas Annuqayah yang dikomandani oleh Dr KH Mohammad Husnan sedang keren-kerennya saat ini.
Mengapa bermodel Federasi? Secara singkat adalah karena putra-putri Annuqayah alim-alim dan banyak digemari oleh masyarakat. Bahkan ada yang sakti mandraguna plus sastrawan Nasional seperti K. M Faizi . Sosok nyentrik yang selalu tampil seolah-olah bukan Kiyai padahal Kiyai banget.
Annuqayah ini lahir sebelum ada Indonesia yaitu pada tahun 1887 Masehi. Didirikan oleh KH Muhammad Syarqawi yang berasal dari Kudus Jawa Tengah sekaligus lulusan Saudi Arabia. Konon, beliau menerima wasiat dari K Gemma asal Prenduan Sumenep yang sedang menunaikan ibadah Haji di Makkah. K Gemma menitipkan istrinya, Nyai Khodijah sebelum beliau wafat di tanah Arab. Wafatnya karena sakit bukan karena serangan isriwil tentunya.
Dengan Nyai Khodijah ini lahir putra-putri beliau diantaranya adalah K Idris Syarqawi lalu punya putra, antara lain adalah KH Muqsith
Kemudian KH Muhammad Syarqawi nikah lagi dengan Nyai Qomariyah/Mariyah (putri KH Idris Petapan) melahirkan putra-putri antara lain adalah KH Muhammad Ilyas dan KH Abdullah Sajjad, yang kemudian keduanya bestian (akrabnya istimewa daripada saudara lainnya) lalu K Sajjad dipercaya sang kakak untuk memimpin Laskar Sabilillah dalam melawan penjajah. Dan akhirnya, KH Abdullah Sajjad ini gugur di tangan penjajah Belanda.
Dari KH Abdullah Sajjad ini diantaranya lahir KH Ahmad Basyir lalu lahir Prof Dr KH Abdul A'la dan saudara-saudari beliau.
KH Ahmad Basyir ini juga bestian dengan KH A Warits (Abanya Ra Mamak atau Dr KH. Shalahuddin A Warits). Satunya Jadi pimpinan parpol PPP dan satunya lagi memimpin PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). KH A Warits yang Ketua PPP (Partai Persatuan Pembangunan) membawa dan mendeklarasikan PKB Sumenep untuk diserahkan kepada KH Ahmad Basyir bin Abdullah Sajjad. Harmony politik yang keren. Namun jasa politik dan demokrasi ini sering terlupa oleh generasi kekinian.
Mari kita lihat nasab muassis Annuqayah tersebut. Kira-kira inilah silsilah KH Muhammad As-Syarqawi (Muassis Annuqayah) yaitu bin R Sudikromo bin R Mertowijoyo bin R Tirto Kusumo bin R. Aryo Hiring bin R Aryo Penjangkringan bin Pangeran Krapyak Dipokusumo bin Pangeran Krapyak Yudo Bongso bin Panembahan Kuleco Sumotruno bin Panembahan Mekaos Hunggo Kusumo bin Kanjeng Sinuhun Ja'far Shadiq (Sunan Kudus).
Sunan Kudus sangat terkenal soal keluasan ilmu dan toleransinya. Padahal beliau adalah putra dari salah satu panglima perang Kerajaan Demak. Namun begitulah hidup, setiap episode ada orangnya dan setiap orang ada episodenya. (*)
*) Penulis : Ajimuddin Elkayani (Alumnus IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta)
Editor : S. Anwar