Jual Beli Cengkeh, Suyitno Slamet Kena Tipu Rp 2 Miliar Lebih
Kasus penipuan jual beli cengkeh dialami oleh Suyitno Slamet, warga Dusun Mutersari, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Dia kehilangan uang sebesar Rp 2 miliar lebih setelah kena tipu oleh Antonius Danang Supantoro (43 tahun) bin Tarsisius Suparge, warga Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.
Kasus penipuan ini berawal dari perkenalan antara Suyitno Slamet dengan Antonius Danang Supantoro melalui perantara Handi Siswanto. Kemudian pada hari dan tanggal yang sudah tidak diingat lagi tetapi terjadi dalam kurun waktu tahun 2021, Suyitno Slamet bertemu dengan Antonius Danang Supantoro di Kota Medan.
Dalam pertemuan tersebut, Antonius Danang Supantoro menyampaikan jika bisa mendatangkan cengkeh dari wilayah Medan, Sumatera Utara. Selanjutnya pada hari dan tanggal yang sudah tidak diingat lagi tetapi terjadi dalam kurun waktu tahun 2022, Suyitno Slamet bekerja sama dengan Antonius Danang Supantoro di bidang jual beli cengkeh dan usaha tersebut berjalan dengan lancar dan sukses.
Pada Rabu 27 November 2024 sekira pukul 11.00 WIB ketika Suyitno Slamet sedang berada di rumahnya yang beralamat di Dusun Mutersari, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Suyitno Slamet dihubungi oleh Antonius Danang Supantoro menggunakan aplikasi Whatsapp.
Tujuan Antonius Danang Supantoro menghubungi Suyitno Slamet guna menawarkan cengkeh dengan jumlah 7 ton. Saat itu, Suyitno Slamet sedang membutuhkan cengkeh dalam jumlah banyak dan kebetulan sebelumnya antara Suyitno Slamet dan Antonius Danang Supantoro sudah pernah usaha bersama dan sukses.
Pada 29 November 2024, Suyitno Slamet mengirimkan uang kepada Antonius Danang Supantoro melalui setor tunai ke rekening Bank BCA atas nama Antonius Danang Supantoro sebesar Rp 727.225.000.
Pada 9 Desember 2024, Antonius Danang Supantoro kembali menghubungi Suyitno Slamet menggunakan aplikasi Whatsapp untuk menawarkan cengkeh sebanyak 2.300 kg yang kemudian tawaran tersebut langsung disetujui oleh Suyitno Slamet.
Suyitno Slamet mentransfer ke rekening BCA atas nama Antonius Danang Supantoro sejumlah Rp 100.000.000 dan dikirim dari rekening BCA atas nama Handi Siswanto ke rekening BCA atas nama Antonius Danang Supantoro sebesar Rp 113.900.000.
Pada 6 Januari 2025, Antonius Danang Supantoro menyampaikan kembali melalui sarana aplikasi whatsapp jika ada stok cengkeh masuk ke gudang milik Antonius Danang Supantoro sebanyak 1.240 kg. Suyitno Slamet menyuruh Eko Budi Santoso untuk mengirimkan uang guna membeli cengkeh tersebut kepada Antonius Danang Supantoro ke rekening Bank BCA atas nama Antonius Danang Supantoro sebesar Rp 115.320.000.
Pada 24 Maret 2025, Antonius Danang Supantoro mengirim pesan Whatsapp yang berisi nota stock cengkeh dengan berat 4.510 kg dan meminta agar mengirim uang pembelian cengkeh tersebut ke rekening Bank BRI.
Pada 24 Maret 2025, Suyitno Slamet mengirimkan uang kepada Antonius Danang Supantoro dengan cara transfer ke rekening Bank atas nama Mangisi Dedy Putra sebesar Rp 450.000.000.
Pada 14 Mei 2025, Suyitno Slamet meminta laporan data stok cengkeh yang sudah terkumpul di Kota Medan kepada Antonius Danang Supantoro. Kemudian pada 15 Mei 2025, Antonius Danang Supantoro mengirim data jika stok cengkeh di Medan sudah terkumpul 16.599, yang nilainya sebesar Rp. 1.590.517.000.
Pada 21 Mei 2025, Antonius Danang Supantoro menawarkan cengkeh 8.000 kg. Kemudian 22 Mei 2025, Antonius Danang Supantoro menyampaiikan jika cengkeh sudah masuk ke dalam gudang Medan.
Pada 23 Mei 2025, Suyitno Slamet mengirim uang ke rekening BCA atas nama Antonius Danang Supantoro sebesar Rp 600.000.
Pada 26 Mei, 2025 Suyitno Slamet mengirim uang ke rekening BCA atas nama Antonius Danang Supantoro sebesar Rp 212.000.000.
Setelah semua uang tersebut dikirim dan diterima Antonius Danang Supantoro, ternyata cengkeh tersebut tidak dikirim sama sekali.
Pada 16 Juni 2025, Suyitno Slamet menyuruh agar cengkeh tersebut dikirim menggunakan kontainer besar, namun juga tidak dikirim.
Selanjutnya tanggal 11 Juli 2025, Suyitno Slamet telpon berkali-kali, namun tidak diangat oleh Antonius Danang Supantoro dan dijawab melalui Whatsapp, “Nanti akan di telpon balik”.
Setelah itu, nomor Antonius Danang Supantoro sudah tidak aktif dan tidak bisa dihubungi, sehingga sampai sekarang cengkeh tidak dikirim dan uang juga belum dikembalikan oleh Antonius Danang Supantoro.
Seluruh vidio dan foto yang pernah dikirimkan oleh Antonius Danang Supantoro kepada Suyitno Slamet melalui aplikasi WhatsApp untuk menunjukkan jenis cengkeh yang ditawarkan. Hal tersebut merupakan cara Antonius Danang Supantoro untuk meyakinkan Suyitno Slamet agar mau mentransfer sejumlah uang kepada Antonius Danang Supantoro melalui rekening BCA atas nama Antonius Danang Supantoro.
Namun, seluruh vidio dan foto jenis cengkeh yang dikirimkan oleh Antonius Danang Supantoro bukanlah stok cengkeh yang dimiliki oleh Antonius Danang Supantoro di dalam gudang milik Antonius Danang Supantoro. Akibat perbuatan Antonius Danang Supantoro tersebut, Suyitno Slamet mengalami kerugian sebesar sebesar Rp 2.402.517.000.
Suyitno Slamet lalu melaporkan Antonius Danang Supantoro ke Polisi. Dalam proses hukum, Antonius Danang Supantoro ditangkap dan dijadikan tersangka.
Antonius Danang Supantoro kemudian diproses hukum di Pengadilan Negeri Jombang. Dalam sidang putusan yang digelar pada Kamis, 9 April 2026, Antonius Danang Supantoro divonis dengan pidana penjara selama 2 tahun.
Ketua Majelis Hakim, Triu Artanti menyatakan, Antonius Danang Supantoro terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 486 KUHP. (*)
Editor : S. Anwar