Hasil Investigasi BGN di Kasus Keracunan Massal MBG di SMPN 1 Tulung
Ratusan siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Tulung, Kabupaten Klaten, mengalami keracunan massal usai menyantap hidangan yang disediakan dari Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (29/4/2026). Dari informasi yang dirilis Dinas Kesehatan Klaten, setidaknya ada 584 siswa yang keracunan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para korban keracunan banyak yang dibawa ke Puskesmas Majegan dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jatinom untuk mendapatkan pertolongan medis. Sebelumnya, terdapat 970 siswa SMPN 1 Tulung menerima hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sesaat setelah menyantap hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG), para siswa mengalami mual, pusing, diare, dan sakit perut. Kemudian mereka segera dibawa ke Puskesmas Majegan, Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jatinom, RS PKU Muhammadiyah Delanggu.
Makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ayur Vera Sorogaten ke 16 sekolah di wilayah Tulung. Menu yang dikonsumsi saat kejadian terdiri dari nasi, telur puyuh, tempe, dan sop galantin.
Setelah mengalami keracunan, Dinas Kesehatan Klaten mengambil sampel makanan untuk diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) guna memastikan penyebab pasti keracunan. Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) juga melakukan investigasi terkait penyebab ratusan siswa keracunan.
“Sebanyak 584 dari 970 siswa atau 60,2 persen melaporkan gejala, dengan keluhan utama sakit perut, diare, mual, dan muntah yang umumnya muncul sekitar enam jam setelah makan,” kata Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN), Arie Karimah Muhammad.
Arie Karimah Muhammad lalu mengajukan permohonan uji sampel lab pada Kamis, 30 April 2026. Hasil investigasi Badan Gizi Nasional (BGN) di kasus keracunan massal MBG di Klaten menyebutkan :
Jumlah korban dirujuk ke Faskes Puskesmas Majegan terdiri dari 77 siswa SMP usia 14 tahun (mayoritas), 11 siswa dirawat inap selama 3-4 hari, 66 siswa menjalani rawat jalan.
Obat yang diberikan terdiri dari Antidiare attapulgit, Antimuntah ondansetron, Antasida, Ranitidine, Lacto-B dan zinc untuk pemulihan pascadiare.
Dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) KU Muhammadiyah Jatinom terdiri dari 11 siswa dirujuk, 6 dirawat inap, 5 rawat jalan. Lama perawatan selama 2 sampai 6 hari.
Keluhan utama yaitu buang air besar (BAB) cair, nyeri perut, mual dan muntah 5-10 kali.
Penanganan medis yang dilakukan dengan cara suntikan ondansetron, Ketorolac, Ranitidin, Infus Ringer Laktat, Antibiotik cefixime atau cefotaxime. Diberikan pada pasien dengan leukosit mencapai 22.000-an. Normal 5.000-10.000.
Jumlah siswa yang mengalami gejala sebanyak 584 dari 970 siswa (setara 60,2%).
Gejala utama yang dialamai siswa yaitu sakit perut (90%), diare (76%), mual (56%). Gejala umumnya muncul sekitar 6 jam setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasil Laboratorium
Dari hasil pemeriksaan laboratorium, di dalam mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terdapat E coli. Pada menu telur puyuh sebanyak 1.800 dan gelatin sebanyak 370. Padahal syarat aman : < 1,1.
Hasil Pemeriksaan Total Coliform
Air bersih dari sumur resapan : 200
Air galon isi ulang untuk memasak : 10
Syarat aman: 0
Hasil ini menunjukkan adanya kontaminasi pada sumber air yang digunakan.
Kesimpulan Investigasi
Keracunan dinilai terjadi akibat kecerobohan pihak SPPG, antara lain :
- Memasak menu berkuah yang sudah dilarang Badan Gizi Nasional (BGN) (sup timlo).
- Mitra dan tim SPPG sebelumnya sudah dijelaskan alasannya hingga memahami aturan tersebut.
- Menyajikan telur puyuh yang sudah dikupas sejak pukul 11 malam dan dibiarkan di suhu ruang hingga waktu pemorsian.
Temuan Krusial Investigasi
Angka E.coli pada telur puyuh yang dikupas menunjukkan kemungkinan adanya penjamah makanan yang tangannya masih terkontaminasi bakteri E.coli dari tinja. Diduga tidak dilakukan pembersihan tangan menggunakan sabun atau cairan antiseptik sebelum proses penanganan makanan.
Karena itu, seluruh biaya pengobatan dan perawatan korban selayaknya ditanggung penuh oleh pihak mitra dan yayasan. (*)
Editor : S. Anwar