Yara International Kurangi Produski Pupuk Akibat Kenaikan Harga Gas
Industri pupuk Eropa sekali lagi dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat tingginya harga gas alam. Bagi Yara International, langkah yang diambil sudah jelas, ketika biaya produksi amonia lebih tinggi daripada harga pasar yang berlaku, maka produksi akan dikurangi dan impor menjadi pilihan yang lebih menarik.
Pada 22 Oktober 2026, produsen pupuk asal Norwegia, Yara, melaporkan bahwa pengurangan produksi amonia mereka di Eropa telah mencapai 270.000 ton per kuartal per tanggal 16 Oktober 2026, meningkat dibandingkan dengan 150.000 ton pada kuartal ketiga.
Pengurangan produksi pupuk jadi dan produk industri juga meningkat, mencapai 140.000 ton per kuartal, naik dari 115.000 ton pada kuartal ketiga.
Perbedaan ini penting untuk dicatat. Angka-angka tersebut mencerminkan tingkat pengurangan produksi Yara, bukan penutupan kapasitas secara permanen.
Strategi Yara adalah mengurangi kelebihan produksi amonia, sembari tetap mempertahankan output di lokasi yang membutuhkan amonia untuk produk hilir dengan margin lebih tinggi. Perusahaan menjelaskan bahwa sekitar 50 persen dari produksi amonia mereka di Eropa terintegrasi dengan produksi urea.
Sebagian besar dari output terintegrasi ini digunakan untuk urea industri dan Amidas—sejenis pupuk yang mengandung urea dan belerang—yang marginnya tetap positif selama kuartal ketiga.
Perusahaan memperkirakan dapat mengurangi kapasitas produksi amonia di Eropa hingga sekitar 1 juta ton per tahun tanpa harus menurunkan volume produksi pupuk jadi, yakni dengan memanfaatkan kelebihan amonia dari pabrik-pabrik yang terintegrasi serta menyesuaikan tingkat produksi dan impor.
Gambaran Lebih Luas di Eropa
Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh Yara. Dalam diskusi mengenai kinerja kuartal ketiga, para eksekutif perusahaan merujuk pada estimasi industri yang menunjukkan bahwa pengurangan produksi amonia di Eropa bisa mencapai sekitar 25–28%. Mereka juga menyoroti penurunan tingkat operasional di perusahaan produsen lain, termasuk SKW Piesteritz dari Jerman.
Persentase ini merupakan estimasi untuk keseluruhan industri, bukan angka pengurangan khusus untuk Yara saja.
Dampaknya terhadap pasar nitrogen cukup signifikan. Menurunnya produksi amonia di dalam negeri dapat meningkatkan ketergantungan Eropa terhadap impor amonia dan pupuk nitrogen. Pada saat yang sama, tingginya harga gas menekan keekonomian produksi, sementara pembelian musiman untuk tahun 2027 masih tertinggal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, penurunan volume produksi tidak serta-merta berarti harga pupuk akan naik. Dampak akhirnya akan bergantung pada ketersediaan impor, pasokan ekspor global, harga gas, serta permintaan. (*)
Editor : S. Anwar