KH Mas Mansur, Pahlawan Bangsa dari Surabaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KH Mas Mansur
KH Mas Mansur
grosir-buah-surabaya

Nama KH Mas Mansur (1896–1946) terukir kuat sebagai salah satu arsitek pergerakan nasional. Menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ke-4 (1937–1942), ia bukan sekadar pemimpin umat, melainkan pemikir progresif yang diperhitungkan di tingkat nasional. Reputasinya membawa dirinya masuk dalam kelompok legendaris "Empat Serangkai" bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara.

Lahir dari keluarga ulama terpandang di Surabaya dan memiliki darah bangsawan Madura, Mas Mansur dibesarkan dalam tradisi keilmuan Islam yang kuat sebelum akhirnya merantau demi menuntut ilmu.

Pengembaraan Intelektual dan Semangat Pembaruan

Jejak pemikiran progresif Mas Mansur ditempa lewat perjalanan spiritual yang panjang di tiga pusat peradaban Islam:

Jawa dan Madura : Nyantri kepada ulama legendaris Kiai Kholil Bangkalan serta mendalami kitab di Pesantren Sidoresmo.

Mekkah : Belajar kepada Kiai Mahfudz Termas pada 1908, sebelum akhirnya hijrah akibat pergolakan politik di Arab Saudi.

Kairo, Mesir : Menempuh studi di Universitas Al-Azhar. Di kota inilah, Mas Mansur menyaksikan langsung gelora nasionalisme dan gerakan pembaruan Islam global yang kelak memengaruhi corak perjuangannya di tanah air.

Gebrakan di Sarekat Islam, Taswir Al-Afkar, dan Jalur Pena

Sepulang ke Indonesia pada 1915, Mas Mansur langsung terjun ke dunia pergerakan dengan bergabung ke Sarekat Islam (SI) di bawah H.O.S. Tjokroaminoto.

Gelisah melihat masyarakat Surabaya yang masih diselimuti kabut kekolotan, ia bersama KH Abdul Wahab Chasbullah (pendiri NU) mendirikan majelis diskusi Taswir al-Afkar (Cakrawala Pemikiran). Wadah ini sukses memantik lahirnya berbagai sekolah mandiri bernuansa nasionalis. Selain itu, Mansur aktif mengasah pena dengan menerbitkan majalah Soeara Santri dan Djinem untuk mengajak umat Islam berpikir maju dan meninggalkan kemusyrikan.

Nahkoda Progresif Muhammadiyah

Mas Mansur resmi bergabung dengan Muhammadiyah pada tahun 1921. Kariernya yang cemerlang membawanya terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada Kongres ke-26 di Yogyakarta tahun 1937, mewakili restu dari angkatan muda yang menginginkan perubahan.

Selama memimpin, ia membawa dua gebrakan besar:

Disiplin Organisasi : Memindahkan penyelesaian urusan persyarikatan dari rumah pribadi ke kantor resmi secara profesional.

Ijtihad Perbankan : Menelurkan fatwa kontekstual bahwa bunga bank secara hukum adalah haram, namun dimaafkan (diperbolehkan) untuk sementara waktu demi menyelamatkan roda ekonomi umat Islam yang sedang terpuruk kala itu.

Akhir Hayat di Balik Jeruji Besi

Kiprah politiknya semakin meluas saat ikut memprakarsai berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) dan masuk ke dalam jajaran Empat Serangkai di era pendudukan Jepang. Namun, karena tidak tahan melihat kekejaman Jepang terhadap rakyat, ia memilih mundur dan kembali ke Surabaya.

Saat perang kemerdekaan pasca-proklamasi pecah, Mas Mansur yang sedang sakit menolak berdiam diri. Ia turun ke garis depan membakar semangat pemuda melawan tentara NICA (Belanda). Akibatnya, ia ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Kalisosok.

Di dalam dinginnya sel tahanan itulah, KH Mas Mansur mengembuskan napas terakhirnya pada 25 April 1946. Atas jasa dan pengorbanannya yang luar biasa, Pemerintah Republik Indonesia (RI) menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1964. (*)