Kisah Diplomat yang Memilih Membesarkan 8 Anaknya dalam Kemiskinan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Haji Agus Salim
Haji Agus Salim
grosir-buah-surabaya

Bagaimana mungkin seorang menteri yang menguasai tujuh bahasa asing, dihormati oleh raja-raja Timur Tengah, dan menjadi ujung tombak kedaulatan sebuah negara besar, harus hidup berpindah-pindah kontrakan sempit, menghadapi atap bocor, bahkan kesulitan hanya untuk membelikan segelas susu bagi anak-anaknya?

Inilah kisah Haji Agus Salim, sang "The Grand Old Man" Indonesia yang memilih jalan sunyi kemiskinan demi menjaga harga diri bangsa.

Nama lahirnya sangat indah: Masjhoedoelhaq, yang berarti "Pembela Kebenaran". Sejak belia, pria kelahiran Koto Gadang pada 8 Oktober 1884 ini telah menunjukkan kejeniusan yang luar biasa. Ia lulus sebagai alumnus terbaik di HBS (sekolah menengah elite kolonial) se-Hindia Belanda.

Kecerdasannya melampaui zaman. Tanpa teknologi modern, ia berhasil menguasai 7 bahasa asing secara fasih: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, hingga bahasa Jepang. Dengan modal intelektual sehebat itu, Agus Salim bisa saja memilih hidup bergelimang harta dengan bekerja di bawah bendera kolonial atau menjadi ekspatriat kaya di luar negeri. Namun, hatinya telah digadaikan untuk sebuah tanah air bernama Indonesia.

Gelar Menteri dalam Rumah yang Bocor

Pasca kemerdekaan, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Di pundaknyalah misi suci pengakuan kedaulatan RI di kancah internasional dipertaruhkan. Lidahnya yang tajam dan diplomasinya yang memikat berhasil mengetuk pintu hati dunia internasional untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

Namun, mari kita tengok apa yang terjadi di balik tirai diplomasi internasional yang megah itu. Ketika kembali ke rumah, Haji Agus Salim melepaskan jas menterinya dan kembali menjadi rakyat biasa yang didera kesusahan ekonomi. Bersama istri tercintanya, Zaenatun Nahar Almatsier, ia membesarkan anak-anaknya di sebuah rumah kontrakan sempit di gang kumuh Jakarta dan Yogyakarta.

Ada satu fragmen sejarah yang begitu menguras air mata. Saat musim hujan tiba, atap kontrakan Haji Agus Salim bocor di mana-mana. Alih-alih mengeluh atau menggunakan wewenangnya sebagai menteri untuk meminta fasilitas mewah dari negara, Agus Salim justru mengajak istri dan anak-anaknya tersenyum. Mereka menaruh ember-ember untuk menampung rintik hujan, lalu bernyanyi bersama menikmati harmoni suara air yang jatuh. Bagi Agus Salim, kemiskinan fisik tidak boleh merenggut kekayaan jiwa keluarga mereka.

Beliau memegang teguh prinsip: "Leiden is Lijden" — Memimpin adalah menderita. Jalan memimpin bukanlah jalan kemudahan, melainkan jalan mendaki yang penuh dengan pengorbanan.

Home Schooling karena Tak Mampu Membayar Sekolah

Kemiskinan yang dipilih secara sadar oleh Agus Salim ini tentu berdampak langsung pada anak-anaknya. Dari 10 anak yang dilahirkan, dua meninggal sewaktu kecil, menyisakan delapan anak yang harus dibesarkan. Karena menolak berkompromi dengan sistem kolonial dan tidak memiliki uang yang cukup untuk sekolah formal, Agus Salim memilih untuk mendidik anak-anaknya sendiri di rumah (home schooling).

Di dalam rumah kontrakan yang sederhana dan beralaskan tikar, Haji Agus Salim membuka madrasah kehidupannya sendiri. Ia dan istrinya menjadi guru utama. Mereka diajarkan bahasa asing, sejarah, sastra, agama, dan yang terpenting: integritas.

Pernah suatu ketika, seorang sahabat datang berkunjung dan merasa iba melihat sang menteri tidak memiliki uang sepeser pun bahkan hanya untuk sekadar membelikan susu bagi bayinya yang sedang menangis. Sahabat tersebut mencoba memberikan bantuan uang, namun dengan halus dan penuh wibawa, Agus Salim menolaknya jika bantuan tersebut dianggap sebagai bentuk belas kasihan yang merendahkan martabatnya. Beliau hanya menerima pinjaman yang benar-benar akan dikembalikannya saat ia memiliki rezeki dari hasil menulis atau berkhotbah.

Warisan Abadi Sang Pembela Kebenaran

Dunia jurnalistik dan politik terus digelutinya hingga akhir hayat. Karangan kritis dan mendalam milik beliau dimuat di berbagai media legendaris seperti Neraca, Mustika, Fajar Asia, Hindia Baru, Keng Po, Dunia Islam, hingga Pujangga Baru. Ia juga memimpin Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto, membakar semangat rakyat untuk lepas dari belenggu penjajahan.

Hingga wafatnya pada 4 November 1954, Haji Agus Salim tidak meninggalkan warisan berupa tanah yang luas, rumah mewah, atau tabungan bank yang melimpah. Ia hanya meninggalkan sebuah nama yang bersih, kain kafan, dan keteladanan yang tak ternilai harganya. Ia membuktikan kepada sejarah bahwa kehormatan seorang manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari apa yang telah ia korbankan untuk sesamanya.

Kisah hidup Haji Agus Salim adalah tamparan keras bagi kita semua di era modern ini, di mana kekuasaan sering kali dikejar demi kemewahan. Melalui air mata yang menetes saat membaca kisahnya, kita diajak untuk kembali merenungkan: sudahkah kita memberi yang terbaik untuk bangsa ini, atau justru kita yang terus-menerus menuntut dari negara?