Mengenal Abdoel Moeis, Jurnalis dan Pahlawan Nasional Pertama Indonesia
Indonesia tidak kekurangan figur pemberani di masa kolonial. Salah satu yang paling menonjol adalah Abdoel Moeis (ejaan baru: Abdul Muis). Lahir di Sungai Puar, Minangkabau pada 3 Juli 1886, putra dari pasangan Soelaiman Dt Toemanggoeng dan Siti Djariah ini mengukir sejarah besar.
Abdoel Moeis bukan sekadar penulis, melainkan seorang jurnalis dan nasionalis sejati yang mendedikasikan hidupnya demi kemerdekaan Indonesia. Atas jasa-jasanya yang luar biasa, Presiden Soekarno menobatkannya sebagai orang pertama yang menerima gelar Pahlawan Nasional.
Gagal Jadi Dokter, Tajam di Dunia Jurnalistik
Latar belakang pendidikan Abdoel Moeis sebenarnya cukup mentereng. Setelah lulus dari Europeesche Lagere School (ELS), ia sempat melanjutkan studi ke STOVIA, sekolah kedokteran bergengsi di Jakarta yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, garis takdir berkata lain. Masalah kesehatan memaksanya berhenti di tengah jalan sebelum sempat menyandang gelar dokter.
Moeis kemudian memulai karier sebagai klerk (juru tulis) di Departemen Onderwijs en Eredienst (Departemen Pendidikan zaman Belanda) berkat bantuan dari sang Direktur, Mr Abendanon. Sayangnya, kehadiran Abdoel Moeis disana mendapat resistensi dan sentimen negatif dari karyawan Belanda lainnya. Merasa tidak nyaman, setelah dua setengah tahun bekerja, ia memutuskan hengkang dan beralih ke dunia jurnalistik di Bandung.
Dunia surat kabar rupanya menjadi panggung asli seorang Abdoel Moeis:
Tahun 1905 : Bergabung sebagai dewan redaksi majalah politik Bintang Hindia. Namun, majalah ini dilarang terbit oleh pemerintah kolonial pada 1907.
Tahun 1907–1912 : Sempat banting setir menjadi menteri lumbung di Bandungsche Afdeelingsbank selama lima tahun.
Tahun 1912 : Kembali ke dunia pers dengan menjadi korektor di surat kabar berbahasa Belanda, Preanger Bode. Berkat kemampuan bahasa Belandanya yang ciamik, hanya dalam waktu tiga bulan ia langsung melejit menjadi hoofdcorector (korektor kepala).
Pena Sebagai Senjata Perjuangan
Langkah politik Moeis kian mantap saat ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1913. Ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda, koran legendaris yang memelopori rubrik "Pojok". Di sinilah Moeis memegang kendali penuh atas redaksi, penerbitan, hingga pemasaran. Koran ini pun bertransformasi menjadi tulang punggung perjuangan SI di Bandung.
Bersama Ki Hadjar Dewantara di Komite Bumiputera, Moeis dengan berani menentang rencana pemerintah Belanda yang ingin merayakan 100 tahun kemerdekaan mereka dari Prancis di tanah jajahan.
Kariernya terus menanjak hingga pada tahun 1917, ia diutus SI ke Belanda untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan tersebut, Moeis juga berhasil melobi tokoh-tokoh elite Belanda untuk mendirikan sekolah teknik tinggi di Priangan, yang kini kita kenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Setahun berselang, pada tahun 1918, ia ditunjuk sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Central Sarekat Islam.
Jeruji Besi dan Pengasingan di Kota Garut
Keberanian Moeis lewat orasi dan tulisan kerap membuat kuping pemerintah kolonial merah. Pada Juni 1919, sebuah insiden berdarah terjadi di Toli-Toli, Sulawesi Utara. Seorang pengawas Belanda tewas dibunuh usai Moeis berpidato di sana. Ia dituding telah menghasut rakyat untuk menolak kerja rodi. Akibatnya, Moeis disalahkan dan dijebloskan ke dalam penjara.
Tak kapok, setelah bebas ia terus bergerak. Melalui harian berbahasa Belanda De Express, ia gencar mengecam tulisan-tulisan kaum kolonialis. Pada tahun 1920, ia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian dan sukses memimpin aksi mogok buruh di Yogyakarta setahun kemudian.
Aksi puncaknya terjadi pada tahun 1923 saat ia pulang ke Padang, Sumatera Barat. Moeis menggalang kekuatan dengan mengundang para penghulu adat untuk bermusyawarah melawan pemberlakuan pajak yang mencekik masyarakat Minangkabau.
Gerah dengan aksi provokatifnya, pemerintah Belanda menjatuhkan hukuman berat :
Dilarang Berpolitik
Dikenakan passentelsel (larangan tinggal di Sumatera Barat dan larangan keluar dari Pulau Jawa).
Diasingkan ke Garut, Jawa Barat.
Namun, di kota pengasingan inilah coretan emas lainnya lahir. Di sela-sela masa penahanannya di Garut, Abdoel Moeis berhasil merampungkan novel mahakaryanya yang melegenda hingga kini, Salah Asuhan.
Pengabdian Tanpa Batas hingga Akhir Hayat
Meski ruang geraknya dibatasi, Moeis tetap mengabdi pada masyarakat setempat. Pada 1926 ia terpilih menjadi anggota Regentschapsraad (Dewan Kabupaten) Garut, dan enam tahun kemudian diangkat sebagai Regentschapsraad Controleur hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942. Karena faktor usia, ia sempat pensiun pada tahun 1944.
Namun, gairah nasionalismenya kembali membara pasca-proklamasi kemerdekaan. Ia aktif dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan dan bahkan sempat diminta menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Guna memajukan wilayah Jawa Barat dan masyarakat Sunda, ia juga menginisiasi berdirinya Persatuan Perjuangan Priangan.
Sang sastrawan sekaligus pejuang tangguh ini akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di Kota Bandung pada 17 Juni 1959. Abdoel Moeis wafat dengan meninggalkan dua orang istri dan 13 orang anak. Jasadnya kini terbaring damai di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung, meninggalkan warisan intelektual dan semangat perlawanan yang tak akan pernah pudar oleh zaman. (*)
Editor : S. Anwar