Yukka Harlanda Dirikan Bisnis Sepatu Brodo Bermodal Rp 7 Juta
Yukka Harlanda, mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), punya satu masalah yang terdengar sepele : ukuran kakinya 45-46. Di Indonesia, ukuran itu hampir tidak ada di pasaran. Kalau ada, modelnya tidak menarik. Kalau modelnya bagus, harganya Rp 2 juta ke atas karena harus impor.
Setiap kali butuh sepatu formal, Yukka Harlanda harus merogoh kocek jauh lebih dalam dari teman-temannya hanya untuk tampil layak. Sampai temannya menyarankan satu tempat yang selama ini tidak pernah dia perhatikan : Cibaduyut, Bandung.
Keputusan yang Lahir dari Penolakan
Yukka Harlanda pergi ke Cibaduyut dengan satu tujuan: pesan sepasang sepatu untuk dirinya sendiri. Hasilnya, ditolak puluhan pengrajin. Tidak ada yang mau terima order satu pasang saja. Sampai akhirnya satu pengrajin bernama Syaiful mau menerima.
Yukka Harlanda menyerahkan desain dari referensi internet yang dia modifikasi sesuai seleranya sendiri. Hasilnya mengejutkan. Kualitasnya mumpuni, bahan premium, harga Rp 300 ribu- Rp 500 ribu.
Yukka Harlanda keliling kampus dengan sepatu barunya. Semua teman bertanya: beli di mana? Dari pertanyaan itu lahir satu ide yang tidak pernah dia rencanakan sebelumnya.
Rp 7 Juta dan 40 Pasang Sepatu
Yukka Harlanda mengajak Putera Dwi Karunia untuk patungan. Rp 3,5 juta dari tabungan Yukka Harlanda, Rp3,5 juta dari Putera. Total Rp 7 juta. Mereka pesan 40 pasang sepatu kulit di Cibaduyut.
Dijual di pameran kampus ITB dengan harga R p375 ribu per pasang. Sold out.
"Seumur hidup saya baru berjualan dan memegang uang cash sebanyak itu," kata Yukka Harlanda.
Dari 40 pasang yang sold out di hari pertama, lahirlah Brodo, nama dari komik Italia tentang kaldu ayam, dipilih karena mengandung kata "Bro" yang identik dengan pria.
Produk pertama yang pernah kamu buat atau jual, apa yang paling kamu ingat dari momen pertama kali laku?
Tantangan yang Menguji Segalanya
Brodo mulai viral. Order masuk dari mana-mana. Tapi pertumbuhan cepat membawa masalah baru: sistem produksi yang belum siap, kualitas yang tidak konsisten, dan permintaan yang jauh melampaui kapasitas.
Setelah sempat tumbuh pesat selama tujuh tahun, ambisi ekspansi membuat mereka kewalahan secara finansial. Pandemi COVID-19 memperparah kondisi bisnis.
Yukka Harlanda tidak menyerah. Dia kembali ke prinsip awal: perkuat produk, perkuat tim, dan jangan tumbuh lebih cepat dari yang bisa ditanggung sistem.
Pola Pikir: Produk yang Solid Adalah Fondasi Segalanya
Setelah melewati masa-masa sulit, Yukka mengubah satu hal mendasar: tidak ada lagi kompromi soal kualitas.
"Selama produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang baik, maka penjualan akan mengikuti dengan sendirinya," kata Yukka Harlanda.
Dia juga menyadari satu hal: banyak pengrajin Cibaduyut yang produknya lebih bagus dari Brodo. Tapi mereka tidak bisa scale up karena timnya terlalu sederhana dan tidak mau investasi di talent.
Brodo memilih berbeda. Investasi di tim. Investasi di kualitas. Biarkan produk yang berbicara.
Hasilnya...
Pada 2013, Brodo berhasil menjual lebih dari 6.000 pasang sepatu dengan omzet Rp 300 juta per bulan.
Brodo kini memiliki 10 toko cabang di Tangerang, Jakarta, Depok, Bandung, Makassar, Bekasi, Surabaya, Bogor, dan Yogyakarta. Hampir 900 ribu pengikut di Instagram.
Dari masalah kaki ukuran 46 yang tidak bisa beli sepatu, ke brand sepatu pria paling ikonik Indonesia yang bertahan 15 tahun.
Yukka Harlanda tidak berhasil karena punya visi bisnis yang besar dari awal. Brodo lahir dari masalah pribadi yang sangat spesifik: tidak bisa menemukan sepatu ukuran 46 dengan harga wajar.
Dia berhasil karena satu kebiasaan vang konsisten: selesaikan Dasalah yang ada di depanmu dengan apa yang ada di tanganmu sekarang.
Satu hal yang bisa kamu terapkan hari ini : identifikasi satu masalah dalam hidupmu yang ternyata juga dialami banyak orang lain tapi belum ada yang selesaikan dengan benar. Di sana seringkali tersimpan ide bisnis yang paling kuat. (*)
Editor : S. Anwar