Kiai Nahdlatul Ulama Tak Takut Malaikat Demi Tidak Menjabat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kyai Nahdlatul Ulama
Kyai Nahdlatul Ulama
grosir-buah-surabaya

Hari ini banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan. Semakin tinggi posisi, semakin besar kebanggaannya. Tapi para kiai besar justru sering menunjukkan hal yang sebaliknya. 

Mereka tidak sibuk mencari kedudukan, bahkan banyak yang berusaha menghindarinya. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena mereka memahami bahwa jabatan bukan kemuliaan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mungkin itulah mengapa orang yang paling layak memimpin sering kali justru orang yang tidak berambisi untuk memimpin

Dulu, di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), ada tradisi yang sangat unik dan mulia, bukan berebut jabatan, tapi berebut menolak jabatan.

Gus Mus (Mustofa Bisri) pernah bercerita, para kiai tidak ingin menjadi pemimpin, karena mereka tahu jabatan bukan kemuliaan, tapi amanah berat. 

Ketika Kiai Hasyim Asy'ari wafat, para kiai seperti Kiai Bisri Syamsuri dan Kiai Wahab Hasbullah menolak menggantikan beliau. Mereka merasa tidak pantas.

Barulah akhirnya, setelah desakan banyak pihak, Kiai Wahab bersedia dengan mengganti sebutan Rais Akbar menjadi Rais Am, tanda kerendahan hati seorang ulama sejati.

Ketika Kiai Wahab sepuh dan sakit, para 3 muktamirin sepakat menunjuk Kiai Bisri Syansuri sebagai pengganti. Namun Kiai Bisri berkata, "Selama masih ada Kiai Wahab, meski hanya bisa tiduran, saya tak akan mau mengganti." 

Sebuah pelajaran adab dan penghormatan yang luar biasa.

Setelah Kiai Wahab wafat, barulah Kiai Bisri menerima amanah Rais Am. Tapi tak lama kemudian beliau pun wafat. Maka para kiai kembali bermusyawarah mencari pengganti. Dan terpilihlah nama besar : KH As'ad Syamsul Arifin.

Namun apa yang terjadi? Kiai As'ad justru menolak keras. Beliau berkata lantang : "Meskipun Malaikat Jibril turun dari langit untuk memaksa saya, saya pasti akan menolak!"

Betapa dalam kesadarannya, jabatan bukan kehormatan, melainkan beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kiai As'ad bahkan menunjuk nama lain, "Yang pantas itu Kiai Mahrus Aly!" 

Tapi Kiai Mahrus langsung menjawab, "Jangankan Malaikat Jibril, kalaupun Malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tidak bersedia!"

Dua wali besar saling menolak jabatan, saling mendorong satu sama lain karena takut tak bisa menunaikan amanah. 

Akhirnya, KH Ali Maksum Krapyak yang tak hadir dalam forum itu ditunjuk menjadi Rais Am. Begitu mendengar keputusan itu, beliau menangis dan mengurung diri di dalam rumah.

Menerima amanah bukan dengan senyum kemenangan, tapi dengan air mata dan rasa takut kepada Allah. (*)

*) Source : Dawuh Guru