Rahmah El Yunusiyah, Perempuan Pertama yang Meraih Gelar Syaikhoh

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Rahmah El Yunusiyah
Rahmah El Yunusiyah
grosir-buah-surabaya

Dalam sejarah pendidikan Islam modern, nama Rahmah El Yunusiyah berdiri tegak sebagai simbol keberanian dan kecerdasan seorang perempuan Indonesia yang melampaui batas zamannya. Meski harus berhadapan dengan keterbatasan sosial dan budaya pada awal abad ke-20, Rahmah berhasil menorehkan tinta emas, ia menjadi perempuan pertama dari Indonesia yang dianugerahi gelar “Syaikhoh” oleh Universitas Al Azhar, Mesir. 

Patut diakui ini merupakan sebuah pengakuan yang hingga kini masih menjadi kebanggaan bangsa.

Rahmah lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada tahun 1900, dari keluarga yang sarat dengan nilai-nilai keilmuan dan religiusitas. Ayahnya adalah seorang ulama dan qadhi (hakim agama), sementara kakeknya dikenal sebagai ahli ilmu falak sekaligus pimpinan tarekat Naqsyabandiyah. Sejak kecil, Rahmah tumbuh dalam atmosfer yang memadukan kecintaan terhadap ilmu dan semangat dakwah.

Rahmah muda dikenal sebagai pribadi yang haus ilmu. Beliau belajar agama di Sekolah Diniyah yang dikelola oleh kakaknya, serta berguru langsung kepada ulama besar seperti Haji Abdul Karim Amrullah, ayah dari Buya Hamka, juga kepada Tuanku Mudo dan Abdul Hamid. 

Namun, semangat belajarnya tidak berhenti di ilmu agama semata. Beliau juga mendalami pengetahuan umum dan ilmu kebidanan di Rumah Sakit Umum, menunjukkan bahwa baginya ilmu tidak boleh dibatasi sekat gender atau bidang.

Mendirikan Madrasah Diniyah Putri

Pada masa itu, perempuan sering kali dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak perlu menempuh pendidikan tinggi. Namun, Rahmah justru menjadikannya tantangan. Beliau bermimpi melahirkan generasi perempuan Muslim yang berilmu, mandiri, dan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat.

Maka, pada tahun 1923, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang. Madrasah ini adalah lembaga pendidikan pertama di Indonesia (bahkan di Asia Tenggara) yang secara khusus didirikan untuk perempuan. Di awal perjalanannya, sekolah ini hanya memiliki 71 murid, sebagian besar ibu muda yang sudah berkeluarga. Bertempat di serambi Masjid Pasar Usang, para siswi belajar agama, bahasa Arab, dan sains modern. Hal itu merupakan perpaduan yang revolusioner pada masanya.

Empat tahun kemudian, pada tahun 1927, Rahmah melakukan perjalanan panjang ke Aceh dan Sumatera Utara untuk menggalang dana sekaligus melakukan studi banding. Beliau menghadap para sultan, memaparkan gagasannya tentang pentingnya pendidikan perempuan, dan mengunjungi berbagai lembaga pendidikan untuk memperkaya wawasan. Usahanya membuahkan hasil. Akhirnya berdirilah gedung dan asrama baru yang menampung ratusan murid dari berbagai daerah Nusantara.

Kegigihan Hajjah Rahmah El Yunusiyah membuat lembaga pendidikannya tumbuh pesat. Pada tahun 1926, Rahmah El Yunusiyah lalu membuka Menjesal School, sekolah baca-tulis bagi perempuan yang belum bisa membaca. Lalu, pada tahun 1934, Rahmah mendirikan Taman Kanak-Kanak (Freubel School) dan Sekolah Menengah setingkat HIS, bahkan kemudian membuka jenjang pendidikan berjenjang tujuh tahun di Sekolah Diniyah Putri, terdiri atas tingkat Ibtidaiyah (empat tahun) dan Tsanawiyah (tiga tahun).

Puncaknya, pada tahun 1937, Rahmah meluncurkan program Kulliyat Al-Mu’allimat Al-Islamiyah, yaitu lembaga pendidikan tiga tahun untuk mencetak calon guru perempuan. Dan dari sinilah muncul banyak pendidik dan tokoh perempuan yang kemudian berkontribusi besar bagi pendidikan Islam di Nusantara.

Pengakuan Dunia Islam dan Gelar Syaikhoh dari Al-Azhar

Kiprah Rahmah tak hanya menginspirasi Indonesia, tetapi juga menggema hingga ke dunia Islam. Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar, Syaikh Abdurrahman Taj, datang langsung ke Padang Panjang untuk melihat secara dekat Perguruan Diniyah Putri. Beliau terkesan luar biasa mendapati sistem pendidikan yang dikembangkan Rahmah, terutama kurikulumnya yang seimbang antara ilmu agama dan pengetahuan umum, menjadi inspirasi bagi Al-Azhar untuk mendirikan pendidikan khusus perempuan di Kairo.

Sebagai bentuk penghargaan, pada tahun 1957, Universitas Al-Azhar menganugerahkan kepada Rahmah El Yunusiyah gelar kehormatan “Syaikhoh”, menjadikannya perempuan pertama dalam sejarah yang menerima gelar tersebut dari lembaga Islam tertua dan paling bergengsi di dunia.

Begitulah, Syaikhoh Rahmah El Yunusiyah bukan sekadar pendidik, melainkan pembaru sosial yang melihat pendidikan sebagai jalan pembebasan bagi kaum perempuan. Gagasan-gagasannya menjadi fondasi bagi lahirnya banyak sekolah perempuan di seluruh Indonesia. Rahmah El Yunusiyah menegaskan bahwa Islam tidak pernah menutup pintu ilmu bagi perempuan, bahkan justru mengangkat martabat mereka melalui ilmu dan amal.

Kini, jejaknya masih hidup di Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, yang terus mencetak generasi perempuan cendekia, sholehah, dan berdaya.

Semoga kisah perjuangan Syaikhah Rahmah El Yunusiyah menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya perempuan, untuk terus menyalakan api ilmu, keberanian, dan keikhlasan dalam membangun peradaban. (*)