KH Abdul Malik Ihsan, Pewaris Sanad Jampes dan Payung Awan Cincin
Bumi Jampes, Gampengrejo, Kediri, tidak pernah kehabisan paku bumi spiritual. Di sanalah mengabdi KH Abdul Malik (Gus Malik), seorang kiai pengayom umat yang mewarisi darah biru keulamaan level dunia.
KH Abdul Malik adalah putra ketiga dari al-Alim al-Allamah Syekh Ihsan Jampes—sang mualif kitab tasawuf mahakarya Siraj ath-Thalibin yang menjadi literatur wajib di Universitas Al Azhar Kairo dan kampus-kampus Islam mancanegara. Nasab emas ini bersambung kepada pendiri Pesantren Jampes, KH Dahlan, hingga Kiai Sholeh Banjarmlati.
Penjaga Benteng Jampes
Sejak tahun 1978, Gus Malik memegang tongkat estafet kepengasuhan Pondok Pesantren Al-Ihsan Jampes (meneruskan sang kakak, KH. Muhammad). Di bawah asuhan beliau yang sejuk, bersahaja, dan penuh cinta, Pesantren Jampes terus merawat tradisi keilmuan salaf dan membina ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.
Akhir Hayat yang Indah: Sepulang dari Ziarah Wali
Kewalian Gus Malik terpatri kuat di detik-detik akhir hayatnya. Pada Senin malam menjelang kepergiannya, tanpa mengeluh sakit sedikit pun, beliau baru saja tiba di kediaman pada pukul 01.00 dini hari sepulang dari ziarah ke makam Sunan Ampel (Surabaya) dan Sunan Bonang (Tuban).
Paginya, KH Abdul Malik bahkan masih sempat menemui para tamu. Namun takdir Ilahi memanggil; beliau mendadak jatuh sakit dan mengembuskan napas terakhirnya di hari Selasa (7/11/2006) pada usia 68 tahun.
Karamah Awan Cincin dan Pelangi
Sebuah fenomena alam yang menggetarkan hati terjadi pada siang hari saat prosesi pemakaman. Ketika ribuan petakziah mengantarkan jenazah menuju makam keluarga yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah duka, terik matahari yang tepat berada di atas kepala tiba-tiba meredup.
Di langit, perlahan muncul sebuah awan hitam berbentuk cincin yang dikelilingi oleh pendaran pelangi yang sangat indah. Awan cincin tersebut tepat menutupi matahari, memayungi seluruh peziarah dari rasa panas. Kalimat "Subhanallah" serentak bergemuruh dari lisan ribuan pelayat yang menengadah ke langit. Di detik itulah, umat bersaksi dengan mata kepala sendiri bahwa sosok yang sedang mereka antarkan adalah benar-benar seorang Kekasih Allah (Waliyullah) yang kepergiannya pun ditangisi dan dipayungi oleh semesta.
Sang Kiai telah berpulang, meninggalkan ribuan santri dan warisan kesejukan ilmu yang tak akan pernah pudar. Lahumul fatihah.. (*)
Editor : S. Anwar