Pasang Surut Hidup Siti Hartati Murdaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Siti Hartati Murdaya
Siti Hartati Murdaya
grosir-buah-surabaya

Dunia bisnis Indonesia pernah mencatat nama Siti Hartati Murdaya sebagai fenomena yang luar biasa. Dilahirkan dengan nama Siti Hartati Tjakra pada 29 Agustus 1946—di mana nama "Hartati" diberikan langsung oleh Presiden Ir. Soekarno—ia berhasil mendaki puncak tertinggi dalam piramida finansial tanah air. Majalah Forbes bahkan pernah menobatkannya sebagai perempuan terkaya di Indonesia dengan taksiran kekayaan mencapai Rp 20,3 triliun (1,4 miliar USD).

Namun, seperti roda yang berputar, perjalanan hidup sang ratu bisnis ini tidak selalu mulus. Di balik kemegahan imperium bisnisnya, ada kisah tentang kerja keras yang ekstrem, pengabdian spiritual, hingga badai hukum yang sempat meruntuhkan kebebasannya.

Membangun Imperium Bisnis dari Sepatu Nike hingga JIExpo

Hartati bukanlah konglomerat yang instan. Sejak muda, ia dikenal memiliki etos belajar yang tinggi. Setelah meraih gelar Doktoranda (Dra.) dengan predikat magna cum-laude di bidang tata niaga dari Universitas Trisakti, ia memperdalam ilmu bisnisnya di lembaga elite dunia, termasuk Stanford University di Amerika Serikat dan National University of Singapore (NUS).

Kelihaian bisnisnya semakin terasah setelah ia menikah dengan pengusaha Murdaya Widyawimarta Poo pada tahun 1972. Bersama sang suami, ia mendirikan PT Central Cipta Murdaya (CCM Group) pada tahun 1984.

Lewat CCM Group, gurita bisnis Hartati merambah ke berbagai sektor yang sangat disegani, diantaranya :

Ratu Bisnis Nike di Indonesia

Pada tahun 1988, Hartati mengambil langkah berani dengan menggandeng pemegang merek global Nike untuk memproduksi sepatu olahraga di Indonesia melalui PT Hardaya Aneka Shoes Industry dan PT Nagasakti Paramashoes Industry. Usaha padat karya ini menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal dan belakangan melahirkan merek sepatu lokal terkenal, League.

Menguasai Aset-Aset Strategis

Langkah bisnisnya terus melebar ke proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Priok, industri kabel, kemitraan dengan Hewlett-Packard (HP), perkebunan kelapa sawit seluas 70.000 hektare di Sulawesi Tengah, hingga akuisisi aset bernilai triliunan rupiah, PT Jakarta International Expo (JIExpo/PRJ).

Pengabdian Umat dan Waktu Tidur yang Minim

Bagi orang terdekatnya, Hartati dikenal sebagai sosok yang disiplin dan religius. Sebagai pemeluk agama Buddha yang taat, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) sejak tahun 1998 hingga sekarang.

Di sela-sela kesibukannya mengelola lebih dari 42.000 karyawan dan puluhan anak perusahaan, Hartati juga aktif di panggung politik dan pemerintahan. Ia tercatat pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1997–1999, anggota MPR RI (1999–2004), serta anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) periode 2010–2012.

Begitu padatnya aktivitas membuat Hartati kerap mengorbankan waktu pribadinya. Dalam sehari, ia dikabarkan sering kali hanya memiliki waktu tidur selama 3 hingga 4 jam saja demi menyeimbangkan urusan bisnis, negara, dan pengabdian umat.

Sandungan Hukum di Perkebunan Sawit Buol

Namun, pepatah mengatakan bahwa tidak ada gading yang tak retak. Puncak kejayaan Hartati Murdaya harus menemui batu sandungan besar ketika namanya terseret dalam pusaran kasus korupsi.

Pada 4 Februari 2013, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 2 tahun 8 bulan penjara serta denda Rp150 juta kepada Hartati. Ia dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

Kasus ini bermula dari pemberian uang total sebesar Rp3 miliar kepada Bupati Buol, Amran Batalipu. Uang tersebut diberikan terkait pengurusan izin usaha perkebunan kelapa sawit milik perusahaannya, PT Hardaya Inti Plantation, di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Kasus ini menjadi salah satu pemberitaan paling menghebohkan pada masanya, mengingat posisi Hartati sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Indonesia.

Meskipun harus melewati masa-masa kelam di balik jeruji besi, setelah bebas, Hartati perlahan kembali menata hidup dan bisnisnya. Kisah hidup Siti Hartati Murdaya tetap menjadi salah satu potret paling dinamis dalam sejarah korporasi Indonesia—sebuah narasi tentang bagaimana kesuksesan finansial yang masif, kedisiplinan tingkat tinggi, dan realitas hukum dapat berjalin kelindan dalam satu garis takdir. (*)