Syekh Abdul Halim Pardede, Pendiri Masjid Raya di Parapat

avatar Mula Eka P.
  • URL berhasil dicopy
Syekh H Abdul Halim Pardede
Syekh H Abdul Halim Pardede
grosir-buah-surabaya

Syekh H Abdul Halim Pardede, ulama dan tokoh penyebar agama Islam di Kawasan Toba, Kabupaten Simalungun, dan Parapat (1886-1958). Syekh H Abdul Halim Pardede adalah tokoh penyebar Islam di kawasan Toba, Simalungun, khususnya di Parapat - Kecamatan Girsang Sipangan Bolon. Ia dikenal juga dengan gelar adat Lobe Tinggi Pardede.

Ia lahir di Balige pada tahun 1886. Ayahnya bernama Andreas Pardede dan abangnya bernama Johanes Pardede. Keduanya meninggal dalam agama Kristen Katolik. Sebelumnya ia beragama Katolik. Setelah ayah dan saudaranya meninggal dalam agama Katolik, ia kemudian berangkat menuntut ilmu Islam. 

Dalam sumber lain disebutkan, Syekh H Abdul Halim Pardede belajar ke Padangsidempuan selama 3 tahun, mempelajari Tauhid dan Fiqih yang diperuntukkan bagi mualaf-mualaf. Ada pula yang menyebut, Syekh H Abdul Halim Pardede belajar ke Tapanuli Selatan bersama beberapa kerabatnya. Menurut usia dan perjalanan hidupnya, kemungkinan besar ia belajar ke Janji Angkola Tapanuli Utara, kepada Syekh Ibrahim Sitompul, yang juga dikenal penyebar agama Islam d wilayah Taput.

Setelah menjadi muslim, Syekh H Abdul Halim Pardede menggunakan nama Lobe Tinggi Pardede. Sepulang dari Padangsidempuan dan Janji Angkola, ia bermukim di Balige dan berhasil mengislamkan: 

1) Ibunya boru Siahaan/Lumban Gorat, 

2) Adik perempuannya si Boru Tona yang kawin dengan marga Tampubolon, 

3) Keluarga istrinya bermarga Hutagaol.

Sekitar tahun 1916, penganut Islam di Balige dan sekitarnya (Mejan, Si Marmar, Parsuratan, Hinalang, Tambunan) sudah mencapai 150 rumah tangga. 

Setelah itu, merencanakan membangun masjid. Izin mendirikan masjid didapat pada 2 Januari 1918 yang diurus oleh Lobe Leman Tampubolon. Untuk pembangunan itu dibentuk Komite Masjid Balige tahun 1923 dengan susunan : Haji A. Manap sebagai Presiden, Lobe Tinggi Pardede (H. Abdul Halim Pardede) sebagai Vice Presiden, Haji M. Nawawi Nainggolan sebagai sekretaris. 

Selanjutnya, Syekh H Abdul Halim Pardede hijrah dan Dakwah di Parapat - Girsang Sipangan Bolon pada tahun 1927 dipelopori oleh tokoh bernama H. Abdul Halim Pardede tepatnya di Parapat. Tujuannya ke Girsang Sipangan Bolon adalah untuk melanjutkan misi menyebarkan agama Islam dan berdakwah. 

Kedatangannya disambut baik karena mendapat dukungan dari Raja Tanoh Jawa dan Raja Siantar yang sudah lebih dulu beragama Islam. Kehadirannya juga sangat dihormati masyarakat karena kecintaannya terhadap budaya dan adat Batak Toba. Syekh H Abdul Halim Pardede tetap memegang prinsip Dalihan Na Tolu adalah hal yang tidak mengganggu akidah. 

Metode dakwahnya: 

1) Berjalan kaki dari Parapat ke perkampungan di lereng gunung, Girsang, Mangundolok dan lainnya. Penyebaran dilakukan dengan cara berdakwah ke berbagai wilayah di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, 

2) Membuka kedai nasi Islamiah bersama anak istrinya di Parapat, dengan harapan para musafir Muslim yang melintas dari Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan menuju Medan bisa singgah makan/istirahat. 

Keberadaan warung itu juga diminta pengusaha bus agar ada tempat ibadah yang mudah dijangkau.

Pada tahun 1929, Syekh H Abdul Halim Pardede membeli sebidang tanah di sekitar Wisma Danau Toba sekarang untuk tapak masjid, namun mendapat tantangan dari Belanda hingga 3 kali dipanggil dan diinterogasi, akhirnya ia berhasil mendirikan sebuah musollah di lahan tersebut. 

Tahun 1940, Belanda kembali mengusik agar jangan membangun masjid permanen, karena rencananya didukung Raja Tanah Jawa dan Raja Siantar. Perkembangan Islam kemudian ditandai dengan dibangunnya sebuah surau, dan pada tahun 1952 dibangun sebuah masjid yang kini bernama Masjid Raya Taqwa Parapat. 

Selain masjid, juga dibangun sekolah-sekolah Islam (Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, Raudatul Athfal atau RA, Madrasah Tsanawiyah atau MTs), pengajian, belajar membaca Al-Qur'an, dan adanya pemakaman Islam. 

Syekh H. Abdul Halim Pardede wafat sekitar tahun 1958. Makam H. Abdul Halim Pardede dan istrinya terletak tepat di belakang Masjid Raya Taqwa Parapat yang dijaga dengan baik oleh pengurus setempat. 

Syekh H Abdul Halim Pardede dikenang sebagai sosok yang sangat gigih dalam menyebarkan agama Islam, selain berhasil mengislamkan masyarakat, juga berhasil membangun Masjid Raya Taqwa Parapat dan sangat menjunjung tinggi Dalihan Na Tolu. (*)