Kisah Hebat AA Navis Pencipta Novel Robohnya Surau Kami
Bagi siapa saja yang pernah mengenyam bangku sekolah di Indonesia, judul cerpen Robohnya Surau Kami tentu sudah tidak asing lagi. Karya satire yang terbit pertama kali pada tahun 1956 ini begitu membekas karena keberaniannya mengkritik kemunafikan dalam beragama. Di balik mahakarya tersebut, ada sosok genius bernama Haji Ali Akbar Navis, atau yang lebih dikenal sebagai A.A. Navis.
Lahir di Padangpanjang pada 17 November 1924, putra asli Minangkabau ini bukan sekadar penulis biasa. Ia adalah seorang kritikus budaya, jurnalis, akademisi, bahkan politikus yang mendedikasikan hidupnya untuk menyuarakan kebenaran secara jujur, tajam, dan tanpa tedeng aling-aling.
Didikan Merdeka dari INS Kayutanam
Karakter kritis dan kemandirian berpikir AA Navis tidak tumbuh begitu saja. Ia merupakan lulusan dari Ruang Pendidik INS Kayutanam (lulus tahun 1946), sebuah lembaga pendidikan legendaris bentukan Mohammad Syafei. Di sekolah ini, para siswa tidak hanya dijejali teori, tetapi ditempa untuk berpikir merdeka, kreatif, dan mandiri—sebuah fondasi kuat yang nantinya membentuk gaya penulisan Navis yang sangat analitis dan peka terhadap ketimpangan sosial.
Sebelum dikenal sebagai begawan sastra, Navis sempat menjalani berbagai profesi unik. Mulai dari menjadi pegawai pabrik porselen di Padangpanjang, kepala bagian kesenian di Bukittinggi, hingga menjadi dosen luar biasa di Universitas Andalas. Ia juga merupakan jurnalis ulung yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian Semangat dan manajer umum percetakan Singgalang.
Kritik Pedas Terhadap Sistem Pendidikan yang "Kaku"
Sepanjang hidupnya, AA Navis sangat vokal menyuarakan keprihatinannya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Menurutnya, sekolah-sekolah di Indonesia sering kali gagal mendidik siswa untuk berpikir mandiri.
"Siswa hanya diberi pengajaran untuk menerima pengetahuan tanpa diberikan kesempatan untuk berpikir secara kritis. Anak-anak tidak diajarkan untuk menulis dengan baik, padahal menulis dapat membuka pikiran mereka."
Bagi AA Navis, membaca dan menulis karya sastra adalah kunci penting untuk melatih kepekaan dan daya kritis anak bangsa. Tanpa sastra, masyarakat akan kesulitan melihat kenyataan sosial yang sebenarnya, termasuk mengenali karakter manusia-manusia munafik di sekitar mereka.
Sang Politikus yang Tetap Nyentrik
Tidak banyak sastrawan yang berani terjun langsung ke dunia politik praktis tanpa kehilangan idealisme mereka. Namun, A.A. Navis membuktikannya. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari fraksi Golkar selama satu dekade (1972–1982).
Di tengah ketatnya sensor politik era Orde Baru, Navis tetap dikenal sebagai sosok legislator yang vokal, berani, dan kerap melontarkan humor satir yang membuat para pejabat merah telinga namun tak bisa membantah kebenarannya.
Warisan yang Abadi Melampaui Zaman
AA Navis wafat pada 22 Maret 2003 di Padang, meninggalkan seorang istri, Aksari Yasin, dan tujuh orang anak (termasuk Gemala Ranti yang kini menjabat sebagai salah satu kepala dinas di Sumbar).
Meskipun jasadnya telah tiada, warisan pemikirannya tetap abadi. Melalui puluhan buku, ratusan makalah, dan cerpen-cerpen legendarisnya, sang "Pencemooh Ulung" dari Ranah Minang ini terus berbisik kepada kita: menjaga agar "surau-surau" keimanan, moralitas, dan keadilan di negeri ini tidak lekas roboh diterpa zaman. (*)
Editor : S. Anwar