Asal Usul Nama Ketintang di Surabaya
Ketintang merupakan sebuah wilayah di Kecamatan Gayungan yang berada di Surabaya Selatan, dan dikenal karena menjadi pusat aktivitas mahasiswa di dua kampus yang berdiri di sini. Namun pernahkah kalian tahu, kenapa namanya Ketintang?
Apakah ada cerita di baliknya?
Cerita tutur yang berkembang mengatakan bahwa dulu di wilayah ini ada pande besi terkenal yang bernama Mbah Wijil. Nama Mbah Wijil merupakan pemberian dari seorang pembesar di Kerajaan Majapahit.
Menurut cerita banyak orang, ia juga merupakan keturunan dari Empu Gandring. Setelah memenangkan pertarungan dengan makhluk gaib penunggu wilayah, Mbah Wijil membuka area sawah dan tempat tinggal.
Untuk mengolah sawahnya, ia menggunakan peralatan sederhana dari logam yang ia buat sendiri. Alat pertanian milik Mbah Wijil membuat heran penduduk sekitar, dan akhirnya Mbah Wijil membantu warga untuk membuat alat pertanian sendiri.
Mbah Wijil meninggalkan kegiatannya di sawah dan sibuk menjadi seorang pandai besi. Setiap hari, ia menempa besi untuk dijadikan cangkul, mata bajak, kapak, arit, dan peralatan lainnya.
la pun mengajarkan kepada warga sekitar dan akhirnya daerah itu terkenal sebagai daerah pandai besi. Bunyi besi yang ditempa menjadi alat-alat pertanian terdengar setiap hari di daerah tersebut.
"Keting!"
"Ketang!"
"Keting!"
"Ketang!"
Dan akhirnya daerah tersebut dikenal dengan nama "Ketintang"
Pengamat sejarah, Nanang Purwono, mengatakan bahwa Ketintang dulunya merupakan bagian dari wilayah Kampung Karangrejo yang berupa pekarangan dan sawah. Sesepuh kampung yang babat alas diyakini adalah Mbah Wijil, yang juga membangun langgar di wilayah tersebut (sekarang menjadi Masjid Al-Muttaqin).
Mbah Wijil atau Ki Wijil dimakamkan di samping Masjid Al-Muttaqin di Jalan Ketintang Barat Gang II.
Setiap tahun digelar haul Mbah Wijil yang acaranya dilakukan dua bulan sebelum bulan puasa.
Pusat dari wilayah ini adalah di Ketintang Kulon atau yang sekarang menjadi Ketintang Barat. Kawasan ini menjadi tempat produksi alat-alat pertanian dari bahan besi dan suasana kampung penuh dengan suara besi yang ditempa oleh warga.
Bunyi 'ting' dan 'tang' terdengar setiap hari, dan akhirnya wilayah ini diberi nama Ketintang. (*)
*) Source : Sapa Warga Surabaya
Editor : S. Anwar