Kisah Evalinda Pasang Surut di Bisnis d BestO
Tahun 1998, semua gerainya tutup dalam semalam. Modalnya tinggal 10 ekor ayam pinjaman. Dari sana Evalinda membangun jaringan ayam goreng lokal terbesar yang belum banyak orang tahu.
Latar Belakang yang Tidak Terduga
Evalinda Amir adalah alumni Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), alumnus tahun 1987. Sebelum merintis bisnis, ia sempat menjalani profesi sebagai dokter hewan.
Tapi ada satu hal yang mengganggunya sejak lama. Kondisi ekonomi keluarganya tidak pernah mudah. Kakaknya yang bekerja sebagai Dosen honorer harus ikut menanggung biaya kuliahnya karena ayahnya tidak sanggup lagi membiayai.
Pengorbanan itu tidak pernah dia lupakan. Dan dari sana, lahir satu tekad yang tidak pernah padam : ubah nasib keluarga dengan cara apapun yang bisa dilakukan.
Keputusan yang Mengejutkan Semua Orang
Evalinda menghabiskan setahun penuh mempelajari resep ayam goreng. Setiap bertemu orang yang suka masak, dia minta pendapat tentang racikannya. Pada tahun 1994, formula yang pas akhirnya ketemu. Lalu didirikanlah usaha KuFC.
Dua dokter hewan yang seharusnya mengobati hewan memilih jalan yang tidak ada yang duga : menggorengnya.
Tahun 1997, omzet KuFC sudah Rp 5 juta sehari. Suaminya resign dari kantornya untuk fokus ekspansi. Semua terasa sempurna. Tapi kesalahan satu sudah tertanam diam-diam : setiap keuntungan langsung diputar buka cabang baru, tanpa ada tabungan yang disiapkan untuk kondisi darurat
Krisis yang Tidak Bisa Dihindari
"Akhirnya bangkrut, tutup semua. Di situlah mulai kesulitan kehidupan saya yang sesungguhnya," kata Evalinda.
Tahun 1998. Jakarta bergejolak. Hampir semua gerai KuFC tutup dalam waktu singkat. Evalinda menanggung utang Rp 50 juta.
Karyawan yang tidak bisa digaji dipulangkan dengan hanya ongkos jalan.
"Tahun 1998 karena bangkrut, enggak bisa gaji. Tapi kami bilang, kami masih punya utang sama kamu, gajimu. Kami pulangkan karyawan hanya untuk ongkos saja."
Bahkan di titik paling hancur itu, Evalinda memastikan tidak ada orang lain yang ikut tenggelam bersamanya.
Cara Bangkit
Tidak ada investor yang datang. Tidak ada pinjaman bank. Tidak ada jalan pintas. Evalinda bangkit dengan cara paling sederhana yang bisa dia lakukan : berjualan kue basah yang dijajakan ke kedai-kedai minuman di pelosok Jakarta.
Dia meminjam 10 ekor ayam untuk dijual. Dagangannya habis. Dia pinjam lagi, jual lagi. Pelan-pelan modal terkumpul. Karyawan yang dulu dirumahkan dipekerjakan kembali satu per satu.
Dari Rp 50 juta minus, dia tidak menunggu keajaiban. Dia mulai dari 10 ekor ayam pinjaman.
Ilmu yang Tidak Dimiliki Kompetitor Lain
Tahun 2005. Flu burung melanda Indonesia. Semua orang takut makan ayam. Bisnis ayam goreng di seluruh Indonesia terdampak.
Evalinda tidak panik. Dia menggunakan satu hal yang tidak dimiliki pesaingnya : gelar dokter hewan. Di setiap outlet, Evalinda menempel profilnya sebagai dokter hewan untuk meyakinkan konsumen bahwa ayam yang dijual bebas dari flu burung.
Saat kompetitor kehilangan kepercayaan pelanggan, Evalinda justru memperkuatnya dengan kredensial yang selama ini tidak pernah dia anggap sebagai keunggulan bisnis.
Hasilnya...
Nama Kentuku (KuFC) tidak lolos paten karena dianggap terlalu mirip KFC. Eva diminta mencari nama lain. Lahirlah d'BestO pada tahun 2011 - dari kata "The Best To" yang diucapkan dalam logat Jawa.
Dari gerobak kaki lima di tahun 1994, d'BestO kini memiliki lebih dari 300 mitra di seluruh Indonesia. Tersebar di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jambi, dan Sumatera Utara.
Dari utang Rp 50 juta dan 10 ekor ayam pinjaman, ke ratusan gerai yang menyerap ratusan tenaga kerja termasuk dari kalangan dhuafa.
Insightnya?
Evalinda tidak bangkit karena kondisinya mudah. Dia bangkit karena satu kebiasaan yang tidak pernah berubah : mulai dari apa yang ada di tangan sekarang, bukan menunggu kondisi yang sempurna.
10 ekor ayam pinjaman. Kue basah yang dijajakan keliling. Ilmu dokter hewan yang dijadikan senjata saat flu burung melanda.
Satu hal yang bisa kamu terapkan hari ini : identifikasi satu aset yang kamu punya sekarang - keahlian, jaringan, atau pengalaman yang belum pernah kamu manfaatkan sepenuhnya untuk bisnismu.
Seringkali yang paling berharga adalah yang selama ini kamu anggap biasa. (*)
Editor : S. Anwar