Acub Zainal Jadi Bapak Arema dan Sang Pembangun Papua

avatar Mahmud
  • URL berhasil dicopy
Acub Zainal
Acub Zainal
grosir-buah-surabaya

Dalam catatan sejarah militer, politik, dan olahraga Indonesia, nama Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Acub Zainal (19 September 1927 – 4 Oktober 2008) menempati posisi yang sangat legendaris. Jenderal purnawirawan bintang satu ini dikenal luas sebagai sosok berkarakter kuat, visioner, dan bertangan dingin. Rekam jejak emasnya terentang kokoh mulai dari menjaga kedaulatan tanah Papua sebagai Panglima Kodam, memimpin lompatan pembangunan sebagai Gubernur, mengarsiteki lahirnya klub sepak bola legendaris Arema Malang, hingga berkiprah di dunia korporasi raksasa properti nasional.

Nakhoda Militer dan Pembangunan di Bumi Cendrawasih

Kisah pengabdian Acub Zainal di tanah Papua dimulai dari jalur militer. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Tjenderawasih untuk periode 1970–1973. Selama memimpin teritorial di ujung timur Indonesia tersebut, ia menerapkan pendekatan yang humanis dan sangat dekat dengan masyarakat adat setempat.

Keberhasilannya merangkul hati rakyat Papua membuat pemerintah pusat mempercayakan kepemimpinan sipil kepadanya. Ia dilantik menjadi Gubernur Papua (kala itu bernama Irian Jaya) untuk periode 1973–1975. Begitu menjabat, Acub Zainal langsung bergerak cepat melakukan modernisasi wilayah. Agenda utama pemerintahannya berfokus pada infrastruktur pelayanan publik dan fasilitas pemuda, yang diwujudkan lewat perombakan total Kantor Gubernur Papua, pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Jayapura, serta memugar Stadion Mandala menjadi stadion modern yang megah dengan fasilitas tribun yang representatif.

Sang Pelopor Olahraga dan Bapak Pendiri Arema

Kecintaan Acub Zainal pada dunia olahraga, khususnya sepak bola, telah mendarah daging. Di ranah nasional, ia merupakan salah satu pengurus teras PSSI pada dekade 1980-an yang vokal mendorong kemajuan kompetisi. Di Papua, ia mempelopori gairah sepak bola lokal dengan menggelar kejuaraan antarkabupaten bergengsi yang memperebutkan Piala Acub Zaenal.

Langkah monumental sang jenderal di kancah sepak bola tanah air terukir nyata ketika ia membidani lahirnya dua klub sepak bola profesional. Ia mendirikan Perkesa 78, sebelum akhirnya mencatatkan legasi emas yang abadi dengan memrakarsai berdirinya klub Arema Malang pada 11 Agustus 1987. Bersama putranya, Lucky Acub Zaenal—yang kelak menjadi pembalap dan tokoh sepak bola nasional—ia membangun fondasi Singo Edan menjadi klub yang disegani, militan, dan menjadi identitas serta kebanggaan arek-arek Malang.

Kiprah Sukses di Dunia Bisnis dan Properti

Setelah purnatugas dari dunia militer dan birokrasi, ketajaman manajerial Acub Zainal rupanya dilirik oleh dunia usaha. Ia memutuskan terjun ke dunia wirausaha dan dipercaya menduduki posisi puncak sebagai Direktur PT Pakuwon Jati Tbk dari tahun 1984 hingga 2007. Di bawah kendalinya, perusahaan properti yang berkantor pusat di Surabaya ini sukses melejit pesat, salah satunya melalui pengelolaan Tunjungan Plaza, yang menjelma menjadi pusat perbelanjaan paling ikonik di Jawa Timur. Setelahnya, ia terus mengawal perusahaan sebagai komisaris.

Akhir Perjalanan sang Jenderal Multitalenta

Garis pengabdian tokoh multitalenta ini akhirnya purna pada 4 Oktober 2008. Brigjen (Purn.) Acub Zainal mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 81 tahun di Jakarta.

Ia pergi dengan meninggalkan legasi yang sangat berlapis dan hidup di tengah masyarakat. Namanya akan selalu dikenang oleh masyarakat Papua sebagai sang pembangun yang meletakkan batu pertama infrastruktur modern, dihormati oleh dunia korporasi sebagai pengusaha yang tangguh, serta abadi di hati jutaan suporter Aremania sebagai bapak pendiri yang menyalakan api kejayaan sepak bola Malang. (*)

*) Source : Nasrul Koto