Kota Surabaya Pasca Diserahkan oleh Pakubuwono II Belanda

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kota Surabaya pada zaman Kolonial Belanda
Kota Surabaya pada zaman Kolonial Belanda
grosir-buah-surabaya

Di tahun 1743, Pakubuwono II menandatangani surat perjanjian dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk menyerahkan wilayah Surabaya kepada kolonial Belanda. Tanpa perlu lama, Belanda langsung membangun berbagai bangunan untuk mendukung kegiatan mereka. 

Kanal dan tembok kota dibangun di wilayah mendekati muara Sungai Kalimas di utara Surabaya. Undang-Undang Wijkenstelsel tahun 1843 mengatur pembagian kawasan di wilayah ini. Pembangunan kota dibatasi oleh Sungai Kalimas dan Jembatan Merah

Bagian barat dari Jembatan Merah diperuntukkan untuk orang-orang Eropa, termasuk pemukiman dan juga gedung-gedung pemerintahan. Sedangkan bagian timur dari jembatan diperuntukkan bagi warga Asia seperti Tionghoa, Arab, dan juga pribumi Melayu

Gedung-gedung perkantoran yang dibangun oleh Belanda ini terletak di sisi kanan dan kiri Heerenstraat (sekarang Jalan Rajawali) dan mengikuti pola penataan kota di Belanda. Heerenstraat atau yang berarti ‘Jalan Para Tuan’ merupakan kawasan elit dan pusat bisnis juga pemerintahan di wilayah Kota Bawah Surabaya atau benedenstad. Sedangkan di seberangnya, merupakan tempat pemukiman dan juga perdagangan bagi masyarakat Tionghoa, Arab, juga Melayu.

Di tahun 1871, tembok kota diruntuhkan oleh Belanda karena jumlah penduduk semakin banyak dan juga pembangunan kota semakin masif. Seiring dengan ditetapkannya Surabaya sebagai gemeente atau Kotamadya, maka Belanda membangun kantor pemerintahan baru (stadhuis) di daerah Ketabang yang sekarang menjadi Gedung Balai Kota Surabaya.

Pembangunan dan perkembangan kota beralih ke wilayah selatan kota, terutama di daerah Darmo, Gubeng, Ambengan, Keputran, Ketabang, Diponegoro, Kayoon, juga Arjuno.

Pemukiman dan gedung-gedung baru juga rumah sakit didirikan di wilayah ini, dan akhirnya disebut dengan Kota Atas atau bovenstad. Di Bovenstad, seperti di daerah Darmo, bangunan dan tata ruang lebih terencana dan juga lapang.

Tidak seperti gedung-gedung di Benedenstad yang lebih compact dan tidak memiliki halaman, bangunan di Bovenstad atau Kota Atas ini dibangun layaknya villa dimana rumah atau bangunar. memiliki halaman yang terbilang luas di depannya. 

Kawasan Darmo adalah salah satu area yang menjadi tempat hunian untuk kaum elit di zaman kolonial Belanda. Bahkan jejak bangunannya masih bisa kita linat dan rasakan jika melewati area Darmo. (*)