Saafroedin Bahar Jadi Benteng Hak Adat di Komnas HAM
Di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI), kita sering melihat sosok jenderal yang dikenal karena ketangguhannya di medan tempur. Namun, sangat jarang kita menemukan perwira tinggi yang sekaligus diakui secara luas sebagai ilmuwan sosial-politik, budayawan, dan pemikir ulung kenegaraan.
Kombinasi luar biasa itu ada pada diri Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Saafroedin Bahar (10 Agustus 1937 – 6 Juli 2018) gelar Sutan Majolelo. Putra asli Padang Panjang, Sumatera Barat ini adalah sosok "Jenderal Berotak Berlian" yang mendedikasikan hidupnya untuk keutuhan bangsa, keadilan hukum, dan kelestarian adat nusantara.
Arsitek Pemikiran Politik di Jantung Istana Negara
Kapasitas akademis Saafroedin yang di atas rata-rata membuatnya ditarik ke pusat kekuasaan tertinggi di Jakarta. Saafroedin Bahar menjadi salah satu tokoh kunci di Sekretariat Negara (Setneg) Republik Indonesia yang sangat dipercaya untuk merumuskan arah kebijakan strategis bangsa.
Beberapa posisi elit yang pernah diembannya antara lain:
Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara Bidang Politik : Menjadi konseptor dan pemikir di balik layar dalam menganalisis dinamika politik nasional.
Asisten Menteri Sekretaris Negara Bidang Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Berada di garda depan dalam merajut kemajemukan Indonesia dan meredam potensi konflik daerah.
Anggota Fraksi ABRI di MPR RI: Ikut mewarnai jalannya perumusan ketetapan-ketetapan penting negara.
Menjadi Pasukan Terdepan Pembela Hak Adat di Komnas HAM
Sisi paling menyentuh dari perjalanan hidup seorang Saafroedin Bahar terjadi setelah beliau purnatugas dari militer dan birokrasi. Jiwa ksatria yang sejatinya melindungi rakyat justru makin membara. Beliau terpilih menjadi salah satu Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Di lembaga independen ini, Saafroedin Bahar memegang posisi krusial sebagai Komisioner Bidang Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat. Jenderal asal Serambi Mekah ini menjadi benteng pertahanan yang paling vokal di tingkat nasional untuk memperjuangkan agar tanah ulayat, hukum adat, dan eksistensi suku-suku asli di seluruh pelosok Indonesia diakui secara resmi oleh undang-undang. Bagi Saafroedin Bahar, melestarikan masyarakat adat adalah cara menjaga fondasi asli keindonesiaan.
Dosen Pascasarjana UGM yang Tak Pernah Lupa Akar Budaya
Keilmuan peraih gelar Doktor Ilmu Politik ini juga sangat diakui di dunia akademis. Beliau dipercaya menjadi Dosen Program Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, menularkan ilmu ketatanegaraan dan sosiologi politik kepada calon-calon pemimpin masa depan.
Hebatnya, meski sudah melanglang buana dari panggung birokrasi Jakarta hingga menara gading akademis Yogyakarta, Saafroedin Bahar tidak pernah melepas identitas kulturalnya. Saafroedin Bahar selalu aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan Minangkabau dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai luhur adat di perantauan maupun kampung halaman.
Kisah hidup Dr. Saafroedin Bahar memberikan pelajaran mahal bagi kita semua, khususnya generasi muda Sumatera Barat : Bahwa menjadi seorang pembela tanah air tidak selalu tentang angkat senjata, melainkan tentang bagaimana ketajaman pemikiran, kedalaman ilmu, dan keberanian bersuara bisa menyelamatkan hak-hak rakyat yang terpinggirkan. (*)
Editor : Bambang Harianto