Kisah Tragis Tan Malaka, Bapak Republik yang Terlupakan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sutan Malaka
Sutan Malaka
grosir-buah-surabaya

Ia adalah seorang pahlawan nasional yang hidupnya jauh lebih seru daripada film spionase. Memiliki belasan nama samaran, fasih berbagai bahasa, dan lolos dari kejaran polisi rahasia tiga benua (Eropa, Amerika, dan Asia). Namun tragisnya, ia justru gugur dieksekusi oleh tentara bangsa yang ikut ia bidani sendiri.

Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka—atau Tan Malaka—adalah salah satu pemikir paling radikal dan genius yang pernah dimiliki Indonesia. Saking besarnya kontribusi beliau, Majalah Tempo bahkan menjulukinya sebagai "Bapak Republik Indonesia".

Buronan Internasional demi Semboyan "Merdeka 100%"

Jauh sebelum Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan, Tan Malaka sudah menulis buku berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925 di Kanton, Tiongkok. Buku inilah yang menginspirasi para tokoh pergerakan nasional untuk berani memimpikan sebuah negara berbentuk republik.

Karena pemikiran radikalnya yang menolak tunduk pada penjajah, Tan Malaka diasingkan oleh Belanda pada tahun 1922. Dari sinilah petualangan globalnya dimulai. Selama 20 tahun, ia berpindah-pindah negara mulai dari Rusia, Jerman, Tiongkok, Filipina, Thailand, hingga Singapura.

Ia hidup dalam penyamaran total demi menghindari kejaran intelijen Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Kisah pelariannya yang legendaris ini begitu terkenal hingga menginspirasi roman populer yang menjulukinya sebagai "Patjar Merah Indonesia".

Pemikiran Besar: Mengawinkan Logika dan Perjuangan

Di tengah masa pelariannya yang penuh ancaman, Tan Malaka melahirkan dua mahakarya filsafat terbesar Indonesia:

Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika): Buku yang mengajak bangsa Indonesia keluar dari cara berpikir mistis dan takhayul, lalu beralih ke cara berpikir yang berbasis pada bukti dan fakta konkret.

Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi): Sebuah panduan taktis untuk mempertahankan kedaulatan negara melalui jalur militer mandiri tanpa kompromi.

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak bisa ditawar atau dinegosiasikan. Ketika tokoh-tokoh di Jakarta memilih jalur diplomasi dengan Belanda pasca-1945, Tan Malaka dengan lantang mendirikan Persatuan Perjuangan dan meneriakkan semboyan: "Merdeka 100%!"

Akhir Tragis di Kaki Gunung Wilis

Sikapnya yang tanpa kompromi dan selalu menjadi oposisi pemerintah membuat Tan Malaka memiliki banyak musuh politik. Ia bahkan sempat dipenjara oleh pemerintah RI tanpa pernah diadili selama 2,5 tahun.

Puncaknya terjadi di tengah kekacauan Agresi Militer Belanda II. Akibat kesalahpahaman dan konflik horizontal antarfaksi bersenjata di lapangan, Tan Malaka ditangkap oleh pasukan TNI dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Pada 21 Februari 1949, sang konseptor Republik ini dieksekusi mati dengan tembakan di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kediri. Jasadnya dimakamkan secara rahasia di tengah hutan, membuat namanya sempat hilang dan "terlupakan" dari buku-buku sejarah selama era Orde Baru.

Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Meskipun akhir hidupnya tragis, sejarah tidak bisa berbohong. Pada tahun 1963, Presiden Soekarno resmi menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Setelah puluhan tahun misteri menyelimuti keberadaan jasadnya, makamnya di Kediri akhirnya berhasil diidentifikasi pada tahun 2007. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, pada 21 Februari 2017, tanah dari pekuburannya dibawa pulang secara simbolis ke tanah kelahirannya di Sumatra Barat.

Tan Malaka adalah bukti nyata bahwa ada harga mati yang harus dibayar demi sebuah integritas dan kemerdekaan yang mutlak. (*)