Kisah Syekh Abdul Qadir Al Jailani dan Isterinya yang Tak Pernah Mengeluh

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
grosir-buah-surabaya

Syekh Abdul Qadir Al Jailani Alaihi Salam (AS) sebelum menjadi Qutb al-Awliya' yang masyhur, pernah hidup dalam kemiskinan yang sangat berat di Baghdad, Irak. Rumahnya kecil, tanah berdebu, atap bocor bila hujan. 

Syekh Abdul Qadir Al Jailani mengajar siang malam di madrasah, dan nafkah hariannya sering tak sampai lima dirham. Isterinya, Sayyidah Fatimah binti Abi Shalih Abdullah al-Jili, seorang wanita solehah, hidup bersamanva dalam keadaan itu bertahun-tahun. 

Kadang-kadang di rumah hanya ada tepung gandum secupak, kadang-kadang kosong sama sekali. Suatu hari, sudah tiga hari tiada apa yang masuk dapur. Anak-anak kecil menangis lapar. 

Sayyidah Fatimah memanaskan periuk kosong di atas tungku, tuang air dan sedikit garam, lalu aduk-aduk sambil berzikir supaya anak-anak rasa ada sesuatu yang dimasak. 

Syekh Abdul Qadir Al Jailani pulang petang itu dengan wajah letih. Syekh Abdul Qadir Al Jailani lihat periuk kosong, lihat anak-anak yang duduk senyap menahan lapar, lihat isterinya yang tetap tersenyum. Sayyidah Fatimah angkat periuk, tunjuk isinya yang hanya air garam. 

"Ini sahaja vang ada, ya Abd al-Qadir Tapi aku beritahu anak-anak: “Ini sup istimewa ibu, tunggu ayah balik kita makan sama-sama.”

Syekh Abdul Qadir Al Jailani duduk di lantai, tarik isterinya duduk di sisinya, lalu pegang tangannya erat-erat.

"Fatimah, engkau boleh marah kepadaku. Engkau boleh mengeluh. Engkau boleh minta aku cari kerja lain, tinggalkan pekerjaan ini. Aku tak akan salahkan engkau.” 

Sayyidah Fatimah tersenyum, mata berkaca-kaca lalu menjawab: "Ya Abd al-Qadir. Aku nikah dengan engkau, bukan dengan uang engkau. Aku serahkan nafkah zahirku kepada engkau, dan engkau serahkan nafkah batinmu kepada Allah. Kalau aku mengeluh sekarang, berarti aku tak percaya pada pilihan engkau, dan engkau tak percaya pada janji Allah, kita berdua akan rugi." 

Malam itu, mereka makan roti kering yang tinggal sehelai, dibagi tujuh bagian kecil untuk tujuh orang. Anak-anak tidur dengan perut kosong, tapi hati mereka tenang kerana ibu bapaknya tidak bertengkar. 

Tepat tengah malam, pintu rumah kecil itu diketuk kuat. Syekh Abdul Qadir Al Jailani buka pintu. Di luar berdiri seorang lelaki tua berjubah hijau, bawa dua karung besar. 

Dia tunduk di kaki Syaikh, lalu berkata: "Ya Syaikh, tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Baginda berpesan: ‘Pergi ke rumah Abdul Qadir di daerah ini. Berikan semua yang dibutuhkan dia dan keluarganya, kerana malam in mereka tidur dalam kelaparan, tapi lidah mereka basah dengan zikir. Ini emas, perak, gandum, kurma, minyak, pakaian... semuanya milik tuan sekarang.''

Syekh Abdul Qadir Al Jailani menangis. Syekh Abdul Qadir Al Jailani tak langsung ambil karung itu. 

Syekh Abdul Qadir Al Jailani pandang isterinya yang berdiri di belakang, lalu bertanya: "Fatimah, apa kau mau aku terima semua ini sekarang?" 

Sayyidah Fatimah menjawab dengan tenang: "Terima saja, ya Abd al-Qadir. Bukan kerana kita perlukan, tapi kerana Allah mau kita tahu. Dia tak pernah lupa hamba-Nya yang tak pernah mengeluh atas ketentuan-Nva." 

Seiak malam itu, rumah kecil mereka tak pernah kosong lagi. Tapi yang lebih ajaib, Sayyidah Fatimah tetap memasak dengan periuk vang sama, tetap hidup sederhana. Dan setiap kali ada orang datang minta bantuan, dialah yang paling cepat membuka karung dan memberi. 

Syekh Abdul Qadir Al Jailani kemudian berkata kepada murid-muridnya: "Nafkah seorang suami bukan hanya emas dan perak vang dia bawa pulang. Nafkah yang paling besar ialah ketenangan yang dia berikan kepada hati isterinya. Dan nafkah seorang isteri yang paling maha ialah sabar dan ridha yang dia hadiahkan kepada suaminya. Apabila kedua-duanya bertemu, Allah sendiri yang turun menjadi penjaga dapur mereka.” 

*) Kisah ini diriwavatkan dalam al-Bahjat al-Saniyvah dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir, dan meniadi ibrah besar dalam tariqat Qadiriyyah hingga hari ini.