Muhammad Iqbal, Darah Pariaman Menembus Panggung Politik Nasional

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal
grosir-buah-surabaya

Dinamika politik tanah air bergerak semakin cepat menjelang kontestasi elektoral. Menghadapi peta persaingan yang ketat, partai politik berlomba-lomba menunjuk juru bicara (jubir) tangguh sebagai garda terdepan sekaligus etalase komunikasi publik. Langkah strategis ini juga diambil oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan menunjuk 10 jubir (juru bicara) utama. Salah satu sosok yang mencuri perhatian di deretan tersebut adalah Dr. Muhammad Iqbal, Ph.D., Psikolog.

Bukan sekadar politisi biasa, pria bergelar Associate Professor ini merupakan kombinasi langka antara seorang akademisi, praktisi psikologi, dan ahli ketahanan nasional yang memiliki akar kultural kuat di ranah Minang.

Darah Pariaman yang Menempa Diri di Medan dan Jakarta

Meski lahir di Kota Medan pada 25 September 1980 dan menyelesaikan masa sekolahnya di Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 5 Medan pada tahun 1999, Muhammad Iqbal memiliki ikatan emosional yang erat dengan Sumatra Barat. Kedua orang tuanya merupakan putra-putri asli yang berasal dari Nagari Pilubang Sungai Rambah, Kecamatan Sungai Limau, Pariaman.

Setamat SMA di Medan, Iqbal memilih merantau ke Jakarta untuk mendalami ilmu perilaku manusia. Ia merengkuh gelar Sarjana Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2003.

Jiwa kepemimpinan dan ketekunannya mulai terlihat pasca-kelulusan. Iqbal sempat mengabdi sebagai staf Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta sekaligus menjadi asisten psikolog di Klinik Syahid UIN Jakarta.

Petualangan Akademis dan Beasiswa Internasional

Dunia akademik tampaknya menjadi panggilan hidup bagi Iqbal. Pada tahun 2004, ia mendapatkan peluang emas untuk melanjutkan studi S2 di School of Psychology & Human Development Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Tak puas sampai di sana, ia langsung tancap gas menyelesaikan program S3 (Ph.D) di kampus yang sama dan berhasil lulus pada tahun 2012.

Sepanjang menempuh pendidikan doktoral, portofolio internasional Iqbal tercatat sangat mentereng. Pada tahun 2010, ia meraih beasiswa untuk mengikuti pendidikan singkat di ILO Labour Migration Academy yang diselenggarakan oleh ILO International Training Center di Turin, Italia.

Setahun berikutnya, pada 2011, ia terpilih sebagai salah satu penerima program Asian Graduate Students Fellowship di Asia Research Institute (ARI) National University of Singapore (NUS). Kinerjanya yang impresif membuat NUS kemudian mendapuknya sebagai asisten peneliti di lembaga riset bergengsi tersebut selama tiga bulan.

Karier Birokrasi, Penghargaan Dosen, hingga Menjadi Dekan

Sekembalinya dari Singapura, Iqbal langsung berkontribusi di pusat pemerintahan. Ia dipercaya menjadi Konsultan/Tenaga Ahli di Direktorat Pendidikan dan Agama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta menjadi Tenaga Ahli di DPR RI.

Di dunia pendidikan tinggi, karier Iqbal melesat tajam. Mengawali kiprah sebagai dosen Psikologi di Universitas Mercu Buana Jakarta, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) periode 2012–2016. Puncaknya, ia terpilih menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana untuk periode 2017–2021.

Sebagai pendidik, rentetan penghargaan berhasil diraihnya, antara lain Dosen Berprestasi Universitas Mercu Buana (2017), Juara 3 Pemilihan Dosen Berprestasi Kopertis Wilayah 3 / LLDIKTI Kemendikbudristek (2017), Best Presenter dalam Temu Ilmiah Nasional Dies Natalis Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, serta Penulis Terbaik Penerbit Gema Insani (2021).

Saat ini, di tengah kesibukan politiknya, Iqbal tetap aktif menularkan ilmunya sebagai dosen tetap dengan jenjang akademik Lektor Kepala (Associate Professor) di Program Studi Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta.

Berguru pada Senior PKS dan Menjadi Kepercayaan Presiden Partai

Titik balik karier politik Muhammad Iqbal terjadi pada tahun 2014 ketika ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli bagi Wakil Ketua MPR RI, Dr. M. Hidayat Nur Wahid (HNW). Di bawah bimbingan langsung HNW yang merupakan politisi senior sekaligus Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, Iqbal menyerap banyak ilmu strategis tentang dinamika politik, konstitusi, dan wawasan kebangsaan.

Kapasitasnya semakin paripurna setelah ia lulus dari Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA-54) Lemhannas RI pada tahun 2016. Berbekal keahlian di bidang ketahanan nasional dan psikologi tersebut, Iqbal kini dipercaya menjadi salah satu pengajar di Lemhannas RI.

Kedekatan strategis dan kompetensi yang dimilikinya membuat Presiden PKS, Ahmad Syaikhu, mengangkat Iqbal sebagai Staf Khusus Presiden PKS Bidang Pendidikan dan Ketahanan Nasional sejak tahun 2020. Berada di lingkaran utama partai, Iqbal memegang peran krusial. Ia mendampingi Presiden PKS dalam berbagai safari politik, melakukan analisis taktis, konsolidasi, hingga menjadi konseptor di balik pidato-pidato politik pimpinan PKS.

Sentuhan Psycho-Entrepreneur

Di luar dunia politik dan kampus, suami dari Kisma Fawzea serta ayah dari tiga anak ini juga sukses mengepakkan sayap sebagai seorang Psycho-Entrepreneur.

Ia mengomandani biro konsultan psikologi dan SDM di bawah bendera Rumah Counseling dan PT Namary Insan Solusi. Lewat perusahaan ini, Iqbal sering diundang untuk memberikan pelatihan, motivasi, serta jasa riset dan analisis bagi berbagai perusahaan swasta maupun lembaga pemerintah.

Dari dunia riset, menembus birokrasi, hingga kini menjadi salah satu "pengeras suara" resmi PKS, Dr. Muhammad Iqbal membuktikan bahwa politik hari ini membutuhkan sentuhan ilmiah, pendekatan psikologis yang matang, serta pemahaman mendalam tentang ketahanan bangsa. Kehadirannya di panggung nasional sekaligus menegaskan bahwa ranah Minang, khususnya Pariaman, tidak pernah kehabisan stok pemikir strategis untuk masa depan bangsa. (*)