Saat Insinyur Bertaruh Demi Pabrik Smelter Freeport Berdiri Gresik
Di saat negara lain cuma bisa mengimpor bahan mentah dari sumber daya mineral Indonesia, anak bangsa di Kabupaten Gresik nekat mendirikan pabrik peleburan tembaga single-line terbesar di bumi. Tapi di balik kemegahannya, ada pertaruhan teknik sipil yang bikin insinyur senam jantung.
Lokasi Smelter Freeport (PT Smelting) yang berada di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik ini berdiri di atas lahan reklamasi pantai dan bekas rawa yang super labil. Padahal di atasnya, mereka harus mendirikan tungku raksasa (Flash Smelting Furnace) yang menampung ribuan ton lelehan logam cair membara pada suhu sekitar 1.200° Celcius.
Satu-satunya cara menahan beban ekstrem itu ialah tim di lapangan harus menancapkan lebih dari 18 ribu tiang pancang raksasa jauh menembus dasar tanah. Toleransi pergeserannya mendekati nol.
Salah hitung sedikit saja sampai pondasinya amblas, lelehan tembaga 1.200° C bisa bocor, memicu ledakan dahsyat, dan melenyapkan investasi senilai Rp 58 triliun dalam sekejap.
Di bawah tekanan tenggat hilirisasi nasional dan bayang-bayang risiko keselamatan jiwa, ribuan insinyur serta pekerja lokal bertahan. Mereka membuktikan kalau anak bangsa sanggup mengeksekusi rekayasa metalurgi paling rumit di dunia. Hasilnya luar biasa.
Smelter ini sanggup mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga dan memurnikan hingga 50 ton emas murni tiap tahunnya. Bukti berkelas kalau Indonesia bukan lagi sekadar pengekspor tanah mentah, tapi penguasa teknologi pemurnian logam tingkat tinggi.
Sekilas tentang PT Smelting
PT Smelting adalah perusahaan peleburan dan pemurnian tembaga pertama di Indonesia. Pendirian PT Smelting dimulai ketika PT Freeport Indonesia mengundang Mitsubishi Materials Corporation (MMC) untuk bekerja sama membangun perusahaan peleburan dan pemurnian tembaga di Indonesia pada tahun 1994. Pembangunan PT Smelting berlangsung dari tahun 1996 hingga 1998.
Pada awal pendiriannya, pabrik PT Smelting dirancang untuk memproduksi 200.000 ton katoda tembaga per tahun. PT Smelting kemudian melakukan ekspansi empat kali pada tahun 2004, 2006, 2009, dan 2023 sehingga kapasitas produksi meningkat menjadi 342.000 ton tembaga per tahun. Pada 30 Juni 2024, pemegang saham utama PT Smelting telah berubah dari Mitsubishi Materials Corporation menjadi PT Freeport Indonesia.
PT Smelting menggunakan teknologi Mitsubishi dalam proses peleburan tembaga dan teknologi ISA dalam proses pemurnian tembaga. Proses Mitsubishi merupakan proses peleburan dan konversi berkelanjutan, ramah lingkungan dan ekonomis karena mampu menghasilkan tembaga anoda dengan kemurnian tinggi dan emisi rendah. Teknologi ISA mampu menghasilkan tembaga katoda dengan kemurnian 99,99% (LME Grade A) dengan waktu operasi yang lama, produktivitas tenaga kerja yang tinggi, tingkat keamanan yang tinggi, dan biaya produksi yang rendah.
Dari proses pengolahan tembaga PT Smelting, terdapat beberapa produk sampingan yang dihasilkan yaitu asam sulfat, terak tembaga, gipsum, lumpur anoda, dan tembaga tellurida. Semua produk ini dapat dijual dan digunakan oleh banyak konsumen di dalam dan luar negeri. PT Smelting selalu menjaga agar limbah tidak melebihi ambang batas yang ditentukan dan mematuhi standar serta peraturan dan hukum lingkungan yang telah ditetapkan.
PT Smelting telah memperoleh sertifikasi ISO 9001 dan ISO 14001. Selain itu, PT Smelting juga menerapkan program 5S untuk selalu menjaga produktivitas optimal dan menerapkan Kaizen untuk perbaikan berkelanjutan. Berbagai penghargaan telah diraih oleh PT Smelting, seperti: PROPER Green, Green Industry Award, dan Juara 2 dalam penghargaan efisiensi energi nasional.
PT Smelting juga aktif terlibat dalam pemberdayaan masyarakat melalui Pengembangan Masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan lingkungan, termasuk program keanekaragaman hayati. (*)
Editor : Bambang Harianto