Kisah dan Rekam Jejak Fenomenal Dokter Terawan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K).
Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K).
grosir-buah-surabaya

Dalam sejarah kedokteran modern Indonesia, sulit menemukan figur yang memantik perhatian publik begitu besar, dicintai oleh pasiennya, sekaligus didebatkan secara sengit oleh rekan sejawatnya seperti sosok Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K).

Bagi sebagian orang, ia adalah dokter militer bertangan dingin, sang "penyelamat" yang berhasil membebaskan mereka dari belenggu stroke lewat metode inovatifnya. Bagi sebagian yang lain, ia adalah sosok menteri yang menavigasi masa-masa awal badai pandemi COVID-19 di Indonesia.

Namun, di balik baju seragam jenderal dan jas dokternya, perjalanan hidup pria kelahiran 5 Agustus 1964 di Yogyakarta ini penuh dengan plot twist dan dinamika yang luar biasa. Bagaimana rekam jejak lengkap sang pencetus metode "cuci otak" ini? Mari kita bedah bersama!

Pengabdian dari Daerah Pelosok hingga Menembus Istana

Lahir di kawasan Sitisewu, Yogyakarta, Terawan muda meniti mimpinya dengan menempuh studi S-1 di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 1990. Jiwa nasionalismenya membawanya masuk ke jalur militer melalui Sepamilwa ABRI pada tahun yang sama.

Sebagai dokter tentara, Terawan tidak langsung duduk di rumah sakit mewah. Ia kenyang pengalaman lapangan dengan ditugaskan ke daerah pelosok mulai dari Lombok hingga Bali untuk mengemban tugas kesehatan militer.

Kariernya terus meroket seiring kepakarannya di bidang radiologi yang ia perdalam di Universitas Airlangga (S-2) dan Universitas Hasanuddin (S-3). Puncaknya, ia dipercaya menjabat sebagai Tim Dokter Kepresidenan pada tahun 2009, Kepala RSPAD Gatot Soebroto pada 2015, hingga dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Kesehatan pada Oktober 2019. Ia mengukir sejarah sebagai dokter militer aktif dengan pangkat tertinggi yang pernah memimpin Kementerian Kesehatan.

"Terawan Theory": Metode Cuci Otak yang Membelah Opini

Nama dr. Terawan benar-benar menjadi fenomena nasional berkat terobosannya yang dikenal sebagai Terawan Theory. Ia memodifikasi teknik Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk melancarkan sumbatan pembuluh darah di otak pasien stroke. Metode ini jamak dikenal masyarakat awam sebagai metode "cuci otak".

Di sinilah letak kefenomenalan seorang Terawan. Metode ini mendatangkan testimoni positif yang masif dari para elite, jenderal, hingga pejabat tinggi negara. Tokoh-tokoh besar seperti Prabowo Subianto, Dahlan Iskan, Aburizal Bakrie, hingga Mahfud MD secara terbuka mengaku merasakan langsung manfaat kesehatannya; penyakit seperti vertigo hingga gejala stroke mereka membaik secara signifikan.

Namun, di sisi lain, metode ini memicu benturan keras di dunia akademis kedokteran. Organisasi profesi menilai metode tersebut belum melalui uji klinis yang baku sesuai standar ilmiah. Polarisasi tajam ini mencapai puncaknya pada tahun 2022, ketika Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) memutuskan untuk memberhentikan dr. Terawan secara permanen dari keanggotaan IDI—sebuah keputusan yang sempat memicu perdebatan nasional yang riuh di media sosial.

Menghadapi Ujian Pandemi Global

Dinamika hidup dr. Terawan berlanjut saat ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan di masa krusial. Ketika COVID-19 mulai merebak di awal 2020, ia memimpin langsung evakuasi ratusan WNI yang terjebak di kapal pesiar World Dream dan mengawal masa karantina mereka hingga dinyatakan sehat walafiat.

Kendati demikian, gaya komunikasi krisisnya di awal pandemi tidak luput dari sorotan tajam publik. Beberapa pernyataannya, seperti meminta masyarakat untuk "enjoy saja" demi menjaga imun hingga argumen soal masker di awal pandemi—yang kala itu sebenarnya sempat linier dengan panduan awal WHO sebelum akhirnya direvisi secara global—menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan birokrasinya hingga terjadinya reshuffle kabinet di akhir tahun 2020.

Eksistensi yang Tak Pernah Pudar

Meski tidak lagi berada di struktur kementerian dan sempat bersitegang dengan organisasi profesi, dr. Terawan tidak berhenti berkarya. Keahliannya di bidang kedokteran militer diakui secara akademis dengan pengukuhan dirinya sebagai Profesor Kehormatan Ilmu Pertahanan dari Universitas Pertahanan RI pada tahun 2022.

Kisah perjalanan dr. Terawan memberikan sudut pandang menarik tentang dunia medis dan pengabdian: bahwa batas antara inovasi yang berani dan aturan main ilmiah yang baku sering kali melahirkan ruang perdebatan yang panjang. Namun satu yang pasti, dedikasi sang jenderal dokter untuk menyembuhkan pasiennya telah menuliskan cerita tersendiri dalam sejarah kesehatan Indonesia. (*)

*) Source : Nasrul Koto PSU