Fakta Minum Obat Sebabkan Penyakit Ginjal
Ada yang beranggapan, minum obat yang diresepkan oleh dokter menyebabkan penyakit ginjal. Ha itu tidak sepenuhnya benar. Pada faktanya, justru minum obat akan membuat pasien terhindar dari penyakit.
Terkait itu, dr Adam Prabata berkisah, dia sering mendengar dari pasiennya bahwa minum obat bisa memicu penyakit ginjal. Sehingga pasiennya jadi tidak mau minum obat.
“Padahal, obatnya itu malah sebenarnya untuk melindungi organ-organ mereka, seperti liver dan ginjal. Ujungnya malah penyakit pasiennya jadi gak terkontrol,” katanya.
Dia menjelaskan, pertama, tidak ada yang namanya “obat kimia” sebagai satu kategori. Semua obat, termasuk jamu, herbal, suplemen, itu adalah zat kimia. Air pun zat kimia, namanya H2O. Yang membedakan obat dari racun bukan jenisnya, tapi dosisnya.
Kedua, tentang obat bisa membahayakan liver. Hal itu dibenarkan. Beberapa obat memang dimetabolisme di hati. Tapi hati manusia punya kemampuan metabolisme yang luar biasa, dan obat-obatan yang lolos uji klinis dan disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah melewati serangkaian tes hepatotoksisitas.
Malah data menunjukkan di Amerika Serikat, suplemen herbal menyumbang hampir 20% kasus drug-induced liver injury di Amerika. Di Indonesia, data BPOM menunjukkan produk herbal disita karena mengandung bahan aktif tersembunyi tanpa standar dosis.
Ketiga, tentang obat membahayakan ginjal. Risiko penurunan kondisi ginjal memang ada pada beberapa kelas obat tertentu. Tapi ini tidak berlaku untuk semua obat.
Selain itu, untuk pasien yang memang perlu obat-obatan tersebut, manfaat klinisnya jauh lebih besar dari risikonya, dengan monitoring yang tepat.
Kesimpulannya, narasi seperti ini bahwa obat kimian menyebabkan ginjal, terutama bagi orang yang harus konsumsi obat jangka panjang. Ujung-ujungnya adalah ketakutan, hingga tidak minum obat, dan pasien malah turun kondisinya, bahkan muncul komplikasi yang berbahaya. Semoga bermanfaat!
Editor : S. Anwar