Jejak Mohamad Hasan Dari Jurnalis hingga Komandan Kodiklatad
Dalam jajaran perwira tinggi elit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), nama Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Mohamad Hasan menempati posisi yang sangat diperhitungkan. Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1993 ini merupakan potret nyata perwira komando berdarah Minangkabau yang memiliki karier cemerlang di korps baret merah.
Sejak 30 Desember 2024, jenderal bintang dua yang dikenal tegas namun humanis ini resmi mengemban amanat besar sebagai Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Dankodiklatad). Sebelum menduduki kursi pimpinan pusat pendidikan AD tersebut, posisi terakhir yang dipegangnya adalah Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Masa Kecil dan Julukan "Si Doel" di Ranah Minang
Mohamad Hasan lahir di Bandung pada 13 Maret 1971. Darah militer mengalir deras dari sang ayah, Nazir Zubir, yang merupakan seorang anggota TNI, sedangkan ibunya bernama Asni. Meski lahir di tanah parahyangan, akar budaya Hasan tertanam kuat di kampung halamannya, Jorong Gantiang Koto Tuo, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Saat duduk di kelas 2 SMP, Hasan pindah ke kampung halaman leluhurnya. Ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Simpang Candung dan kemudian di SMA Negeri 1 IV Angkat Candung (kini SMA Negeri 1 Ampek Angkek).
Semasa SMA, Hasan remaja memiliki sisi unik yang jarang diketahui publik. Ia sangat piawai menulis hingga dijuluki "Si Doel" oleh teman-temannya karena karya tulisannya acapkali memajang mading (majalah dinding) sekolah. Bakat intelektual dan literasi inilah yang kelak ikut membentuk ketajaman analisisnya di dunia militer. Setelah lulus SMA, ia memantapkan langkah masuk ke Akademi Militer dan lulus pada tahun 1993 di kecabangan Infanteri Kopassus.
Dalam kehidupan pribadinya, Hasan dikaruniai dua orang anak bernama Mahesa Kar'an dan Gabriela Anatasya.
Kenyang Pengalaman di Berbagai Medan Operasi
Sebagai prajurit komando elit Kopassus, Mohamad Hasan adalah perwira lapangan yang kenyang dengan asam garam pertempuran. Kepemimpinan taktis dan mental bajanya ditempa di berbagai wilayah konflik paling bergejolak di Indonesia:
Operasi Timor Timur (1995): Menjadi medan penugasan tempur pertamanya sebagai perwira muda untuk menjaga kedaulatan negara.
Operasi Irian Jaya (1999): Turut serta dalam misi pengamanan wilayah sengketa dan operasi teritorial di bumi Papua.
Operasi Nemangkawi (2019): Terlibat langsung dalam operasi penumpasan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua, sebuah misi modern yang membutuhkan integrasi intelijen dan tempur yang tinggi.
Menakhodai Pusat Pendidikan Angkatan Darat
Rekam jejaknya yang komplet—mulai dari memimpin pasukan elit, mengawal operasi teritorial, hingga memegang tongkat komando strategis di Kostrad—membuat negara mempercayakan posisi Dankodiklatad kepada dirinya.
Di bawah kepemimpinannya, Kodiklatad memegang peranan vital sebagai dapur utama dalam merumuskan doktrin tempur, standardisasi sistem pendidikan, serta penggodokan latihan bagi seluruh prajurit TNI Angkatan Darat di seluruh Indonesia agar siap menghadapi tantangan geopolitik modern.
Perjalanan hidup Mohamad Hasan dari seorang anak nagari di Canduang yang hobi menulis mading hingga sukses menjadi jenderal bintang dua penguasa Kodiklatad adalah inspirasi luar biasa. Beliau adalah bukti nyata bahwa kombinasi antara ketajaman intelektual dan keberanian di medan laga mampu melahirkan pemimpin militer yang disegani di tingkat nasional. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar