Kisah di Balik Nama Mandala pada Tommy Soeharto

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Tommy Soeharto
Tommy Soeharto
grosir-buah-surabaya

Nama Hutomo Mandala Putra atau yang akrab disapa Tommy Soeharto sudah sangat melekat di telinga masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu putra dari Presiden ke-2 RI, Soeharto, gerak-gerik dan kiprahnya di dunia bisnis serta politik selalu menjadi sorotan. Namun, di balik nama besarnya hari ini, ada lembaran sejarah bangsa dan kisah masa kecil yang penuh drama yang jarang diketahui publik.

Bagaimanakah asal-usul nama 'Mandala' yang disandangnya, dan seperti apa momen mendebarkan yang dialaminya saat masih balita? Simak ulasan kisahnya berikut ini.

Asal-usul Nama 'Mandala': Pengingat Operasi Militer Besar RI

Tommy dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 Juli 1962. Ia merupakan anak kelima dari pasangan Mayor Jenderal TNI Soeharto dan Siti Hartinah (Ibu Tien). Kelahirannya bertepatan dengan momen krusial dalam sejarah pertahanan Indonesia.

Pada Januari 1962, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat sebuah operasi militer besar yang bertujuan untuk mengusir penjajah Belanda dari wilayah Papua Barat dan menyatukannya ke pangkuan Ibu Pertiwi. Menariknya, panglima yang ditunjuk untuk memimpin komando krusial tersebut tidak lain adalah ayah Tommy sendiri, Mayjen TNI Soeharto.

Dalam buku autobiografinya, Soeharto secara khusus menulis bahwa nama tengah Tommy, yaitu Mandala, sengaja dipilih sebagai pengingat abadi atas operasi militer besar yang tengah dipimpinnya saat itu. Nama tersebut menjadi simbol perjuangan, ketegasan, dan momentum sejarah nasional.

Tragedi Sop Buntut Panas Tiga Hari Sebelum G30S/PKI

Salah satu kenangan masa kecil Tommy Soeharto yang paling dramatis—dan secara tidak langsung memengaruhi lini masa sejarah Indonesia—terjadi pada 27 September 1965. Saat itu, Tommy baru menginjak usia tiga tahun.

Ketika sedang asyik bermain dengan adiknya, Mamiek, di kediaman keluarga di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat, Tommy kecil tidak sengaja menabrak ibunya yang sedang membawa panci berisi sop buntut panas menuju ruang makan. Akibat kejadian itu, cairan panas tumpah dan mengenai wajah serta tubuh Tommy.

Ibu Tien yang panik langsung memberikan pertolongan pertama dengan mengoleskan minyak hati ikan kod ke kulit Tommy yang melepuh, sebelum akhirnya melarikan sang putra ke RSPAD Gatot Subroto di kawasan Senen.

Momen di Rumah Sakit yang Mengubah Jalannya Sejarah

Akibat luka bakar tersebut, Tommy harus menjalani perawatan intensif. Sang ayah, Soeharto, dengan setia menjenguk dan menjaga Tommy di rumah sakit selama tiga malam berturut-turut. Keberadaan Soeharto di rumah sakit ini kelak tercatat sebagai salah satu momen paling krusial dalam sejarah modern Indonesia.

Pada malam hari tanggal 30 September 1965, menjelang terjadinya peristiwa kudeta berdarah oleh elemen militer (G30S/PKI), Soeharto masih berada di RSPAD Gatot Subroto untuk menemani Tommy. Menjelang tengah malam, Ibu Tien meminta Soeharto untuk pulang ke rumah demi menjaga anak bungsu mereka, Mamiek, yang ditinggal bersama pembantu.

Soeharto menuruti permintaan istrinya, kembali ke rumah sekitar pukul 00.15 dini hari, lalu beristirahat. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 04.30 pagi tanggal 1 Oktober, Soeharto dibangunkan dengan kabar darurat mengenai penculikan dan penembakan para jenderal. Banyak sejarawan menilai, keputusan Soeharto berada di rumah sakit dan kepulangannya yang tepat waktu menjadi salah satu faktor yang membuatnya luput dari target pergerakan malam itu.

Pada malam tanggal 1 Oktober 1965, demi alasan keamanan, Tommy bersama ibunya dan saudara-saudaranya akhirnya dievakuasi dari rumah sakit dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman di kawasan Kebayoran Baru dengan pengawalan ketat.

Tumbuh Menjadi Putra yang Gesit

Setelah melewati masa-masa kecil yang penuh dinamika sejarah, Tommy tumbuh besar di lingkungan keluarga Cendana. Dalam biografi resmi Ibu Tien yang terbit tahun 1992, sang ibu menggambarkan Tommy sebagai anak yang memiliki karakter berbeda dari kakak-kakak lakoninya, Sigit dan Bambang.

Tommy dikenal sebagai pribadi yang cenderung lebih gesit, aktif, dan memiliki kedekatan emosional yang sangat dalam dengan sang ibu. Karakter gesit inilah yang kelak membentuk jiwa wirausaha dan kecintaannya pada dunia olahraga otomotif serta balap nasional di masa mudanya.

Membaca kisah masa kecil Tommy Soeharto membuka mata kita bahwa di balik nama-nama besar tokoh nasional, selalu ada cerita humanis, kehangatan keluarga, serta takdir sejarah yang saling bertautan erat. (*)