Asal Nama Soe di Nusa Tenggara Timur
Pada tahun 1905, ketika jarum waktu belum mengenal bising otomotif, jantung Pulau Timor adalah sebuah bentangan rahasia yang sunyi. Wilayah pedalaman yang kelak dinamai Timor Tengah Selatan (TTS) berdiri sebagai negeri di atas awan. Tingginya daratan membuat tempat itu dilingkupi hawa dingin yang menusuk tulang, hingga kabut tebal selalu datang memeluk bukit-bukit batu setiap pagi dan sore, menjadikannya sebuah kota membeku yang terisolasi dari dunia luar.
Suatu hari di antara tahun 1905 hingga 1906, keheningan alam pedalaman itu pecah oleh derap langkah kaki yang asing. Sepasukan serdadu kolonial Belanda, lengkap dengan seragam kaku dan senapan yang mengilap, tengah melakukan patroli wilayah dan survei pemetaan. Mereka berjalan terseok-seok, membelah dinding kabut tebal yang membatasi jarak pandang, kelelahan dan asing dengan geografi Timor yang berbukit-bukit.
Di sebuah ceruk yang rimbun, tepat di dekat sebuah sumber mata air alami, langkah sang komandan Belanda terhenti. Matanya menangkap sosok seorang pria lokal yang bertubuh legam, sedang sibuk dengan sebuah wadah bambu dan anyaman daun. Pria itu tengah khusyuk melakukan aktivitas paling sakral di tanah kering: meminum kehidupan langsung dari rahim perut bumi.
Sang perwira Belanda melangkah mendekat. Sambil memegang buku catatan sakunya dan menunjuk ke arah tanah dengan ujung larsnya, ia bertanya dengan suara bariton yang asing:
"Kawasan ini namanya apa?"
Bagi si pria Timor, suara itu hanyalah rentetan bunyi tanpa makna, bagaikan deru angin di ranting kering. Ia tidak mengerti bahasa orang-orang berkulit pucat itu. Namun, ketika matanya melihat jemari sang perwira menunjuk ke arah tanah—yang tepat berada di dekat wadah air dan tangannya yang sedang memegang timba—pikirannya langsung melompat pada sebuah kesimpulan sederhana. Ia mengira, orang asing yang tampak kehausan itu sedang bertanya tentang apa yang tengah dilakukannya.
Dengan senyum ramah khas penduduk pedalaman, ia membungkuk hormat dan menjawab dengan jujur dalam bahasa ibunya:
"Au soe oe..."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Dalam bahasa Uab Meto, untaian kata itu berarti sederhana: “Saya sedang menimba air.” Kata "Soe"merujuk pada aktivitas menimba atau wadah timba itu sendiri.
Namun, di telinga serdadu Belanda yang asing dengan lekuk lidah lokal, kalimat panjang itu menguap, meninggalkan satu patah kata yang tersangkut di indra mereka : Soe.
Sang perwira mengangguk-angguk puas. Tanpa menyadari adanya jurang bahasa yang lebar, ia merasa telah mendapatkan jawaban yang dicarinya. Dengan goresan tinta hitam di atas kertas surveinya, ia mengunci sebuah nama wilayah baru: S-O-E. Sebuah nama yang lahir dari benih kesalahpahaman yang jujur antara sebuah pertanyaan geografis dan jawaban sebuah aktivitas bertahan hidup.
Waktu pun menggelinding maju, membawa coretan saku serdadu itu ke dalam peta-peta resmi pemerintahan kolonial, hingga akhirnya mengkristal dalam administrasi modern.
Pria lokal yang menimba air itu mungkin tak pernah tahu bahwa ucapan sepatahnya telah meletakkan batu pertama bagi berdirinya sebuah kota. Kini, lebih dari seabad kemudian, kota yang berjarak 110 kilometer dari Kupang itu telah tumbuh menjadi ibu kota kabupaten yang ramai.
Namun, setiap kali angin dingin berembus dan selimut kabut putih turun mendekap sudut-sudut Kota Soe, alam seolah berbisik, mengingatkan kembali bahwa nama kota ini abadi dari setitik mata air dan sebuah jembatan rapuh dari dialog dua lidah yang salah dengar di bawah rindang hutan Timor masa lalu. (*)
Editor : Bambang Harianto