Apria Putra, Penyelamat Ratusan Manuskrip Ulama Klasik Minangkabau

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Apria Putra
Apria Putra
grosir-buah-surabaya

Upaya penyelamatan warisan intelektual Islam di Nusantara, khususnya di Tanah Minang, kerap kali lahir dari kegigihan individu yang mendedikasikan hidupnya demi ilmu pengetahuan. Salah satu sosok muda yang konsisten melakukan syiar dan penyelamatan sejarah tersebut adalah Apria Putra.

Lahir pada 1 April 1989, pria asal Mungo, Kabupaten Lima Puluh Kota ini dikenal luas sebagai seorang dosen, peneliti filologi, sekaligus mubalig yang aktif menggerakkan literasi surau di Sumatera Barat. Saat ini, ia mengabdi sebagai tenaga pengajar filologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

Penyelamat Ratusan Manuskrip Surau Klasik

Langkah monumental yang dilakukan Apria Putra adalah melakukan perburuan dan penyelamatan (penyelamatan naskah kuno) dari surau ke surau di berbagai pelosok Sumatera Barat. Hingga kini, ia berhasil mengumpulkan sekitar 350 manuskrip berharga yang memuat karya tulis asli para ulama klasik Minangkabau, serta 50 manuskrip lainnya berupa stempel resmi, gambar, dan dokumen bersejarah.

Ratusan koleksi berharga yang bernilai sejarah tinggi tersebut kini ia rawat dan simpan dengan baik di sebuah perpustakaan pribadi yang diberi nama Kutubkhanah al-Asyirah an-Naqsyabandiyah. Penamaan perpustakaan ini diambil sebagai bentuk takzim kepada tarekat yang ia ikuti.

Merawat Sejarah Lewat Digitalisasi dan Literasi Digital

Apria tidak sekadar mengumpulkan kertas-kertas tua. Ia aktif meneliti isi naskah tersebut, melakukan transliterasi, dan memublikasikan hasilnya dalam bentuk cetak agar bisa diakses oleh generasi hari ini.

Gerakan Literasi Digital:

Untuk menjangkau generasi muda yang lebih luas, Apria mengasuh sebuah blog pribadi yang sangat populer di kalangan pencinta sejarah Islam lokal bernama Surau Tuo. Lewat blog tersebut, serta beberapa portal keislaman seperti tarbiyahislamiyah dan jaringansantri, ia rutin menulis ulasan mendalam mengenai biografi dan kiprah ulama-ulama "Kaum Tuo" Minangkabau.

Mendirikan Al-Husam Bersama Ustaz Abdul Somad

Kiprah Apria Putra di dunia dakwah semakin diperkuat melalui gerakan pendidikan masyarakat. Pada Juni 2023, ia bersama sejumlah dai muda di Sumatera Barat menginisiasi pembentukan Al-Husam.

Gerakan ini berfokus pada penggalakan kembali kajian kitab kuning (kitab turats) secara langsung di tengah-tengah masyarakat, mengembalikan fungsi surau sebagai pusat peradaban ilmu. Gerakan mulia ini pun mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari dai kondang nasional asal Riau, Ustaz Abdul Somad (UAS).

Melalui perpaduan peran sebagai akademisi di kampus, peneliti manuskrip kuno, dan mubalig di tengah masyarakat, Apria Putra terus membuktikan bahwa warisan intelektual ulama Minangkabau masa lalu tidak akan hilang ditelan zaman, melainkan tetap hidup dan relevan menjadi suluh bagi masa depan. (*)