Alasan Susilo Bambang Yudhoyono Melukis Setelah Kehilangan Ibu Ani

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono
grosir-buah-surabaya

Sebuah kanvas putih, kuas yang menari perlahan, dan goresan warna yang mendalam kini menjadi pemandangan karib di keseharian Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasca-melepaskan hiruk-pikuk panggung politik dan birokrasi negara, Susilo Bambang Yudhoyono justru menemukan kembali jiwanya yang sempat tertidur pulas selama puluhan tahun: seni lukis.

Bagi masyarakat yang mengikutinya di media sosial, karya-karya lanskap alam indah ciptaan Susilo Bambang Yudhoyono lewat SBY Art Studio selalu berhasil mencuri perhatian. Namun di balik keindahan gradasi warna langit, gunung, dan ombak yang ia tuangkan, tersimpan sebuah kisah emosional yang sangat menyentuh hati.

Melukis bukan sekadar mengisi waktu luang bagi seorang purnawirawan jenderal, melainkan sebuah medium penyembuhan jiwa (healing) setelah kehilangan belahan jiwanya, Almarhumah Ibu Ani Yudhoyono.

Cinta yang Terhenti di Tengah Tugas Negara

Tidak banyak yang tahu bahwa darah seni telah mengalir di tubuh SBY sejak ia masih remaja di Pacitan, Jawa Timur. Jauh sebelum memegang senjata dan memimpin bangsa, Susilo Bambang Yudhoyono muda adalah seorang remaja yang gemar mencoretkan kuas di atas kanvas. Ia sangat mengagumi keindahan alam tanah kelahirannya.

Namun, takdir membawanya ke jalan yang berbeda. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan masuk ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) pada tahun 1970-an, hobi melukis itu terpaksa harus ia kubur dalam-dalam. Disiplin militer yang ketat, tugas operasi di medan tempur, hingga amanah berat memimpin Republik Indonesia selama dua periode (2004–2014) membuat Susilo Bambang Yudhoyono tidak memiliki waktu lagi untuk menyentuh kuas. Kanafas putihnya berganti dengan dokumen negara dan peta strategi.

Kehilangan Ibu Ani: Badai Terhebat dalam Hidup SBY

Tahun 2019 menjadi titik terkelam dalam hidup Susilo Bambang Yudhoyono. Ibu Kristiani Herawati, atau Ibu Ani Yudhoyono—wanita yang setia mendampinginya dari era menjadi prajurit miskin hingga duduk di kursi tertinggi Istana Merdeka—berpulang ke keharibaan Yang Maha Kuasa setelah berjuang melawan kanker darah.

Kepergian Ibu Ani meninggalkan lubang yang sangat besar dan rasa duka yang mendalam di hati SBY. Berbulan-bulan setelah pemakaman, Susilo Bambang Yudhoyono kerap terlihat murung. Kehilangan sosok penopang hidup membuat hari-harinya di Cikeas terasa begitu sunyi dan hampa. Di sinilah, keluarga dan para sahabat dekatnya mulai memikirkan cara agar sang jenderal bisa bangkit dari kesedihannya.

Kanvas dan Kuas sebagai Terapi Penyembuh Luka

Melihat sang ayah yang terus didera kerinduan, putra-putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mencoba memicu kembali memori masa remaja Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka mendukung penuh sang ayah untuk kembali menyentuh kuas dan cat minyak.

Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya memutuskan untuk mendirikan SBY Art Studio di kediamannya. Di studio kecil inilah, keajaiban itu perlahan terjadi.

Bagi Susilo Bambang Yudhoyono, melukis berubah menjadi sebuah terapi psikologis (katarsis). Ketika kata-kata tak lagi mampu mengungkapkan besarnya rasa rindu kepada sang istri, Susilo Bambang Yudhoyono menumpahkannya melalui pilihan warna di kanvas. Setiap goresan kuas adalah bentuk komunikasi sunyinya dengan kenangan masa lalu.

"Diilhami Pacitan" dan "I Understand More the Meaning of Life"

Karya-karya Susilo Bambang Yudhoyono didominasi oleh lukisan pemandangan alam berskala besar (lanskap)—mulai dari deburan ombak pantai selatan yang kokoh, megahnya Gunung Lawu, hingga kedamaian langit fajar.

Salah satu lukisannya yang paling viral berjudul "Diilhami Pacitan", sebuah bentuk nostalgia mendalam pada tanah kelahirannya yang juga sangat dicintai oleh Almarhumah Ibu Ani. Melalui lukisan lainnya yang diberi tajuk "I Understand More the Meaning of Life" (Aku Lebih Memahami Arti Kehidupan), Susilo Bambang Yudhoyono seolah mengirimkan pesan kepada publik bahwa lewat seni, ia belajar menerima kenyataan, berdamai dengan takdir, dan menemukan kedamaian batin yang baru.

Kini, melihat Susilo Bambang Yudhoyono berdiri tegak di depan kanvas dengan celemek penuh noda cat bukan lagi sekadar melihat seorang mantan presiden yang sedang mengisi hari tua. Kita sedang melihat seorang pria yang berhasil menyembuhkan luka hatinya melalui keindahan seni, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah mati—ia hanya berganti wujud menjadi karya seni yang abadi. (*)