Muzani Syukur, Jendral yang Selamatkan Uang Negara Triliunan Rupiah

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Letjend TNI (Purn) Muzani Syukur
Letjend TNI (Purn) Muzani Syukur
grosir-buah-surabaya

Nama Letjend TNI (Purn) Muzani Syukur mungkin lebih dikenal di kalangan militer sebagai mantan Panglima Siliwangi yang tegas. Namun, di balik seragam lorengnya, Pria kelahiran Muara Labuh, pada 5 November 1943 ini memiliki rekam jejak yang jarang dimiliki perwira lain. 

Akar Kepemimpinan Muzani Syukur dari Nagari Pasir Talang, Muara Labuh

Lahir di Jorong Kampung Palak, Nagari Pasir Talang, Muara Labuh, Muzani Syukur tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai kepemimpinan.

Ayahnya adalah seorang Wali Nagari yang dihormati, sementara kakeknya adalah Ulama besar di Muara Labuh hingga di kabupaten yang dulunya masih termasuk Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Karakter jujur dan berani yang ditempa di ranah Minang inilah yang membawa nya lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) 1965 dan menapaki karier gemilang di TNI Angkatan Darat.

Puncak Karier Militer: Dari Siliwangi hingga Danjen Akabri

Karier Letjend (Purn) H Muzani Syukur adalah cerminan prajurit infanteri sejati. Ia pernah menduduki posisi-posisi paling strategis di TNI AD, antara lain:

- Pangdam III/Siliwangi (1993) : Memimpin komando teritorial utama di Jawa Barat.

- Inspektur Jenderal Angkatan Darat (Irjenad): Menjadi pengawas internal tertinggi di Angkatan Darat.

- Komandan Jenderal (Danjen) Akabri : Kawah candradimuka tempat ia menempa calon perwira dari seluruh matra.

Kepercayaan Susilo Bambang Yudhoyono dan Penyelamatan Aset Negara 

Hubungan profesional antara H Muzani Syukur dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah terjalin lama, yaitu sejak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi bawahannya di Yonif Linud 330/Kujang. Susilo Bambang Yudhoyono yang mengenal betul ketegasan Muzani Syukur, kemudian memintanya membantu di pemerintahan sipil.

Keberhasilan H Muzani Syukur dalam Penyelamatan uang negara itu, terjadi ketika H Muzani Syukur dipercaya oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), untuk memimpin penindakan operasional dalam menanggulangi Penambangan tanpa izin, Penyelundupan BBM dan penanggulangan pencurian dan perusakan instalasi listrik, melalui Keputusan Presiden (Keppres) nomor 25 thn.2000. 

Operasi itu berjalan lebih kurang 2,5 tahun, selesai ketika Susilo Bambang Yudhoyono, mundur sebagai Menko Polhukam, untuk mencalonkan diri sebagai Calon Presiden. Muzani Syukur ingin dipercepat untuk tidak menimbulkan berbagai pendapat.

Hasilnya pun sangat fantastis. Ketegasan sang Jenderal di lapangan berhasil menyelamatkan potensi kerugian uang negara hingga Rp 3 triliun. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa, yang membuktikan bahwa integritas militer sangat efektif jika diterapkan dalam menjaga aset ekonomi bangsa.

Masa Pensiun dan Warisan "Jejak Sang Infanteri" 

Setelah menanggalkan seragam loreng, Muzani Syukur tetap dipercaya memegang kendali di perusahaan strategis. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Komisaris Utama di PT Timah dan PT Semen Padang. Pengalamannya dalam pengawasan dan operasional menjadikan perusahaan tersebut tetap berdiri kokoh dan bersih dari praktek menyimpang. 

Bahkan hari ini, Muzani Syukur masih dipercaya sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang di Surat Keputusan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Perjalanan hidupnya kini telah dibuku kan dalam Biografinya berjudul "Jejak Sang Infanteri". Buku tersebut bukan sekadar memoar, melainkan panduan bagi generasi muda, tentang bagaimana seorang putra daerah dari pelosok Solok Selatan bisa menjadi Jendral dan Tokoh Nasional yang ditakuti para perusak aset Negara.

Letjend (Purn) Muzani Syukur adalah bukti nyata bahwa pengabdian seorang prajurit tidak berhenti di medan perang, melainkan terus berlanjut hingga ke medan pengamanan kekayaan rakyat demi kemakmuran Indonesia. (*)