Meutia Hatta, Putri Bung Hatta yang Sukses Jadi Menteri dan Guru Besar UI
Bagi masyarakat Indonesia, nama Mohammad Hatta atau Bung Hatta adalah simbol integritas, kecerdasan, dan kesederhanaan bangsa. Ternyata, nilai-nilai luhur sang Proklamator tersebut mengalir deras dalam diri putri sulungnya, Prof. Dr. Meutia Farida Swasono, M.A., atau yang lebih dikenal dengan nama Meutia Hatta.
Ibarat peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Meutia Hatta sukses mengukir prestasinya sendiri yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar bersandar pada nama besar sang ayah, melainkan seorang srikandi tangguh yang diakui sebagai akademisi ulung sekaligus politisi yang disegani di tanah air.
Dari Ruang Kuliah hingga Menjadi Guru Besar UI
Ketertarikan Meutia pada manusia dan kebudayaan membawanya mendalami ilmu Antropologi di Universitas Indonesia (UI). Konsistensinya di dunia akademik teruji lewat keberhasilannya menyelesaikan program sarjana (1974), magister (1983), hingga meraih gelar doktor (S3) pada tahun 1991 di kampus yang sama.
Puncak pencapaian akademiknya terjadi pada tahun 2006, di mana ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia.
Sejak mulai mengajar pada tahun 1979, Prof. Meutia dikenal sebagai salah satu perintis ilmu Antropologi Kesehatan di Indonesia. Risetnya sangat humanis dan membumi. Ia bahkan rela masuk ke wilayah pedalaman dan komunitas terpencil, termasuk melakukan studi etnografi kesehatan yang mendalam di wilayah Pegunungan Jayawijaya, Papua.
Ia meneliti bagaimana budaya memengaruhi respons masyarakat terhadap wabah penyakit, pola makan, hingga menyoroti pentingnya kesehatan mental dalam keharmonisan keluarga.
Mengabdi untuk Negara di Kursi Kabinet
Darah perjuangan Bung Hatta yang mengalir di tubuhnya membuat Meutia tidak bisa tinggal diam melihat kondisi bangsanya. Selain aktif melestarikan pemikiran sang ayah melalui Yayasan Hatta (di mana ia menjabat sebagai Ketua Umum periode 2002–2005), Meutia akhirnya memutuskan terjun ke dunia kebijakan publik.
Pada tahun 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memanggilnya untuk mengabdi sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Selama lima tahun menjabat, ia menjadi corong utama yang memperjuangkan hak-hak perempuan, perlindungan anak, serta penguatan peran ibu dalam ketahanan keluarga di pelosok negeri.
Karier politiknya kian matang saat ia dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) pada periode 2008–2010. Setelah purna tugas sebagai menteri, pengabdiannya berlanjut di lingkaran istana sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dari tahun 2010 hingga 2014.
Warisan Nyata Sebuah Integritas
Prof. Meutia Hatta adalah role model nyata bagi generasi muda, khususnya kaum perempuan Indonesia. Ia menunjukkan bahwa warisan terbaik dari seorang tokoh bangsa bukanlah harta, melainkan keteladanan, integritas, dan semangat untuk terus belajar dan mengabdi.
Mewarisi sifat bersahaja dari Bung Hatta, ia sukses membimbing ribuan mahasiswa dan melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan. Profilnya adalah bukti bahwa nama besar keluarga digenggamnya bukan sebagai fasilitas, melainkan sebagai tanggung jawab besar untuk terus mengharumkan nama bangsa. (*)
Editor : Bambang Harianto