Kisah Hidup Jenderal Agus Subiyanto yang Kini Jadi Panglima TNI
Garis takdir seseorang tidak ada yang tahu. Siapa sangka, seorang anak kolong yang masa kecilnya hidup prihatin di rumah panggung bambu dan pernah gagal masuk sersan binti (bintara), kini memegang tongkat komando tertinggi sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Ia adalah Jenderal TNI Agus Subiyanto. Dilantik pada 22 November 2023 menggantikan Laksamana Yudo Margono, Jenderal Agus memimpin institusi TNI dengan visi besar: PRIMA (Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif).
Di balik seragam bintang empatnya yang gagah, tersimpan kisah masa lalu yang penuh liku, air mata, hingga kecintaan mendalam pada dunia musik.
Masa Kecil yang Prihatin dan Perpisahan Orang Tua
Lahir di Baros, Cimahi Tengah pada 5 Agustus 1967, Agus merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Dedi Unadi dan Cicih Gunasih. Ayahnya adalah seorang pensiunan TNI AD dengan pangkat terakhir Sersan Kepala.
Saat sang ayah masih berpangkat Kopral, ekonomi keluarga mereka sangat pelit. Agus kecil harus tinggal di sebuah rumah panggung kecil berdinding bambu di Kota Cimahi. Demi menyambung hidup, ayahnya mengelola usaha 12 unit sewaan becak bernama "Putra Cijulang"—merujuk pada kampung halaman sang ayah di Pangandaran. Karena himpitan ekonomi, beberapa saudara Agus bahkan harus diasuh oleh kerabat di kampung.
Ujian hidup Agus bertambah saat usianya baru 5 tahun. Sang ibu kandung pergi meninggalkannya, hingga sang ayah akhirnya menikah lagi. Agus tumbuh besar dalam asuhan ibu tiri, sementara ayahnya yang bertugas sebagai intelijen militer sering kali harus meninggalkan rumah.
Tragedi Remaja: Ditolak Cinta hingga Kehilangan Ayah
Memasuki masa remaja, Agus tumbuh seperti pemuda pada umumnya. Uniknya, ketertarikannya pada dunia bela diri karate bermula dari alasan yang jujur: ia ingin melupakan kesedihan akibat ditolak oleh seorang gadis.
Namun, badai terbesar datang saat ia duduk di bangku SMA Cimindi (sekarang SMAN 13 Bandung). Pada tahun 1984, sang ayah meninggal dunia akibat kecelakaan tragis tertabrak mobil boks di Bandung. Kehilangan tulang punggung membuat keluarga Agus harus bertahan hidup hanya dengan mengandalkan uang pensiun sang ayah.
Di masa-masa sulit itu, musik menjadi pelarian positif. Agus membentuk sebuah band bernama TRAF. Bersama sahabatnya, ia aktif manggung dari festival ke festival di sekitar Cimahi, membawakan lagu-lagu bertenaga seperti Jarum Neraka hingga lagu milik Rod Stewart, Young Turks.
Titik Balik: Ditilang Polisi Militer dan Menuju Lembah Tidar
Ada satu cerita unik yang menjadi pemantik utama Agus terjun ke dunia militer. Suatu hari saat SMA, ia kedapatan berkendara tanpa memakai helm. Akibatnya, ia dibawa ke markas Detasemen Polisi Militer (Denpom) Baros dan sempat menerima tindakan fisik dari oknum tentara di sana. Alih-alih dendam, insiden ditilang itu justru memicu tekad kuat di hatinya: "Saya harus jadi tentara."
Perjalanan itu tidak langsung mulus. Agus sempat melamar ke Sekolah Calon Bintara (Secaba) AD, namun langsung gagal. Tidak patah arang, ia mencoba jalur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).
Hasilnya luar biasa. Pada tahun 1988, ia lulus taruna dan berhasil menjadi lulusan terbaik kedua di tingkat Provinsi Jawa Barat. Ia resmi menyandang status perwira infanteri setelah lulus Akmil pada tahun 1991.
Karier Militer, Operasi Tempur, dan Kedekatan dengan Tokoh Bangsa
Karier militer Agus ditempa di lapangan. Pertemuan pertamanya dengan Prabowo Subianto terjadi saat Prabowo menjabat Danyonif Para Raider 328 dan merekrut perwira-perwira terbaik untuk Kostrad. Agus terpilih, lalu menjalani serangkaian latihan berat tingkat kualifikasi pemburu, anti-teror, hingga bergabung dengan pasukan khusus Rajawali.
Agus juga kenyang dengan pengalaman operasi tempur, salah satunya saat dikirim ke Timor Timur pada tahun 1995. Keberhasilan dalam tugas operasi tersebut membawanya mendapatkan hadiah pendidikan komando di Kopassus.
Di sela-sela dinas militernya, Agus tetap menghidupkan jiwa seninya. Ia mendirikan Detasemen Musik bersama rekan-rekan tentaranya, bahkan sempat tampil di TVRI Yogyakarta mengiringi penyanyi legendaris Iga Mawarni. Jiwa seni ini pula yang terus merekatkannya dengan sesama rekan sejawat, termasuk mantan KSAD Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman.
Melesat ke Puncak Komando
Karier Agus Subiyanto melesat bak meteor dalam beberapa tahun terakhir. Setelah dipercaya mengemban posisi-posisi strategis, pada 25 Oktober 2023 ia dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Hanya berselang beberapa minggu kemudian, tepatnya pada 22 November 2023, Jenderal Agus resmi diambil sumpahnya di Istana Negara sebagai Panglima TNI.
Kisah hidupnya yang dramatis—dari anak kolong yang serba kekurangan hingga menjadi orang nomor satu di TNI—kini telah diangkat ke layar lebar melalui film biografi berjudul "Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian".
Kisah Jenderal Agus Subiyanto adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan pahitnya masa lalu bukanlah penghalang untuk menggapai mimpi tertinggi. (*)
Editor : Bambang Harianto