Calon Taruna Akademi TNI dari Riau Gagal Lolos, Ungkap Surat ATENSI KASAL
Pupus sudah harapan Rahmat Ghaza Al Ghazali untuk menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia telah 3 kali mencoba peruntungan menjadi calon Taruna Akademi TNI, namun yang membuatnya sangat kecewa ialah seleksi calon Taruna Akademi TNI tahun 2025 ini.
Diduga, saat mengikuti seleksi calon Taruna Akademi TNI tahun 2025 ini, rankingnya diubah. Rahmat Ghaza Al Ghazali mengikuti seleksi calon Taruna Akademi TNI sejak tahun 2023 hingga tahun 2025. Setiap tahunnya, ia selalu berhenti di titik yang sama : gugur di tahap parade daerah.
Meskipun berkali-kali gagal, tekadnya tidak pernah surut. Namun seleksi calon Taruna Akademi TNI tahun 2025 ini membuatnya bukan hanya kecewa. Tapi juga merasa dikhianati.
Dalam proses seleksi terbaru, Rahmat Ghaza Al Ghazali menemukan sebuah kejanggalan dalam proses seleksi calon Taruna Akademi TNI tahun 2025 ini. Dia melihat sehelai dokumen tak resmi sebelum pengumuman resmi keluar dari Panitia.
Dalam dokumen tersebut tertulis bahwa dirinya berada di peringka ke-22. Padahal, kuota yang dikirim ke Panitia Pusat semestinya mencakup peringkat ke-22. Anehnya, nama peserta di peringkat 26 justru yang dikirim menggantikan posisi Rahmat Ghaza.
Rahmat menyoroti bahwa pergantian tersebut disebut dilakukan berdasarkan “ATENSI KASAL”, sebuah istilah yang baginya menyiratkan intervensi dari pihak atas. Rahmat bertanya-tanya, apakah benar seleksi yang seharusnya objektif bisa diubah begitu saja hanya karena sebuah atensi? Apakah ada celah dalam sistem yang memungkinkan orang-orang tertentu mendapatkan jalan lebih mudah?
Kekecewaan Rahmat bukan hanya karena dirinya tidak lolos. Tapi karena ia merasa sistem telah mengkhianati keadilan. Rahmat bukan siapa-siapa. Hanya pemuda dari Desa di Kota Riau yang ingin mengabdikan dirinya untuk negara.
Rahmat tidak membawa nama besar, tidak punya koneksi, hanya bermodalkan semangat dan kerja keras. Tapi dia mulai bertanya-tanya dalam hati : apakah latar belakang seperti dirinya tidak cukup untuk membela negeri ini?
Tiga kali gagal di titik yang sama membuat Rahmat mempertanyakan nasibnya. Tapi lebih dari itu, dia juga mempertanyakan harapan orang kecil di negeri ini. Apakah negeri ini hanya berpihak pada mereka yang punya jabatan dan kekuasaan? Apakah tidak ada tempat bagi anak-anak dari daerah yang ingin maju tanpa titipan?
Melalui unggahannya, Rahmat menyampaikan permohonan dengan nada penuh harap kepada Panglima TNI dan Presiden Republik Indonesia. Ia meminta agar ada penyelidikan atas proses seleksi ini. Ia tidak ingin hanya membela dirinya, tapi memperjuangkan keadilan yang seharusnya berlaku untuk semua peserta seleksi.
Rahmat tahu perjuangannya tidak mudah. Tapi dia memilih untuk bersuara. Ia ingin kisanya menjadi sorotan agar anak-anak muda lain yang berjuang dengan tulus tidak lagi merasa kecil di hadapan sistem yang bisa dibelokkan.
Rahmat percaya, jika keadilan tidak ditegakkan sekarang, maka akan makin banyak Rahmat lain yang patah sebelum sempat berjuang.
Kini, harapan Rahmat bergantung kepada hati nurani para pemimpin negeri ini. Ia tidak meminta dikasihani, hanya ingin diberi kesempatan yang sama. Karena bagi Rahmat, mimpi untuk mengabdi pada negeri adalah hak semua anak bangsa, bukan hanya milik mereka yang punya jalur khusus.
Berikut penuturan lengkap yang disampaikan oleh Rahmat Ghaza Al Ghazali :
Saya Rahmat Ghaza Al Ghazali salah satu casis/Catar yang mengikuti seleksi penerimaan Taruna Akademi TNI dengan no tes 031.25.CATAR.0165/P di Panselinda Riau yang berlokasikan di Landasan Udara (Lanud) Rusmi Nurjadin Pekanbaru.
Saya telah mengikuti tes rekrutmen TNI sebanyak tiga kali, mulai dari seleksi Akmil tahun 2023 hingga seleksi Akademi TNI tahun 2025. Namun, dalam ketiga kesempatan tersebut, saya selalu dinyatakan gugur pada tahap yang sama: parade daerah. Pada seleksi tahun ini, sebelum hasil perangkingan diumumkannya secara resmi oleh panitia, saya menemukan sebuah dokumen yang menunjukkan kejanggalan.
Dokumen tersebut menyatakan bahwa posisi saya di peringkat 22, yang seharusnya termasuk dalam kuota pengiriman pusat, telah digantikan oleh peserta dari peringkat 26. Penggantian ini disebutkan terjadi atas pertimbangan "ATENSI KASAL".
Dokumen tersebut saya temukan pada Jumat, 27 Juni 2025 pukul 14.05 WIB. Pada saat sebelumnya, yaitu pada 26 Juni 2025, saya dan seluruh casis (calon siswa) atau Catar (Calon Taruna) dari Riau mendapatkan informasi melalui grup WhatsApp, bahwa kami disuruh berkumpul untuk pengumuman akhir yang mana peserta yang lolos akan melanjutkan tesnya di tingkat pusat. Pada hari tersebut, yaitu hari Jumat 27 Juni 2025, kami seluruh Casis atupun Catar Panselinda Riau berkumpul di Landasan Udara (Lanud) Rusmi Nurjadin Pekanbaru.
Pada jam 13.30 WIB, masih ada beberapa Casis ataupun Catar yang belum datang, dan kami berkumpul dan masuk ke ruangan kelas B untuk menunggu Casis ataupun Catar yang belum datang tersbut.
Pada Jumat, 27 Juni 2025 tersebut, saya membawa bekal ataupun makanan untuk dimakan pada saat sambil menunggu pengumuman. Dan kebetulan masih ada waktu dan saya memakan makanan yang saya bawa. Setelah sya makan, saya mencari tisu ataupun kertas untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di lantai. Namun, kertas yang saya temukan bukanlah kertas kosong belaka, namun kertas berisikan berita acara ataupun dokumen yang menyatakan nama saya digeser ataupun digantikan oleh peringkat 26. Pada saat itu, sebelum saya menggunakan kertas tersebut, saya membuka terlebih dahulu karena kertas tersebut ditemukan dalam keadaan berlipat-lipat.
Pada saat itu, saya tdaki ada memberitahu kepada siapapun bahwa saya menemukan kertas tersebut. Kertas tersebut saya simpan terlebih dahulu karena saya ingin mendengarkan langsung pengumuman dari pantia resmi, apakah benar nama saya tidak lulus dan digantikan sebagaimana isi surat tersebut.
Dan ternyata benar. Setelah pengumuman, panitia menyampaikan yang tidak melanjutkan tes di tingkat pusat. Dan nama saya dipanggil yang pertama yang tidak lolos. Selanjutnya nomor tes dipanggil. Para Casis atau Catar dikasih surat bahwasanya kami gugur tidak terpilih yang dikarenakan alokasi atupun kuota.
Setelah itu, kami pulang bersama-sama. Dan malam harinya, saya berpikir bagaimana saya untuk menanyakan apakah surat itu benar atau tidak. Keesokan harinya, saya tanya ke Panitia dan memfotocopi terlebih dahulu surat itu.
Saya tanya ke Panitia, apakah benar itu sesuai yang telah diseleksi dan berdasarkan nilai yang sebenarnya bahwa nilai saya lebih tinggi. Dan saya menanyakan kedua poin pertimbangan tersebut.
Panitia menjawab, mungkin saja nilainya lebih tinggi dari kamu. Dan saya menanyakan lagi, apakah “ATENSI KSAL” itu benar. Dan panitia menjawab, mungkin saja ada muatan dari KASAL.
Saat itu saya berpikir bagaimana saya minta keadilan kepada Bapak Panglima TNI. Pada proses Catar Akademi TNI tahun sebelumnya masih bisa saya bilang transparan. Karena nilai TKD (tes kemampuan dasar) kami ketahui, dan kami nilai sendiri bahwasanya apakah kami layak untuk lanjut tes pusat atau tidak.
Dan nilai tes tahun ini tidak kami ketahui. Dan yang kami ketahui hanya nilai TKD dan nilai jasmani. Namun tidak seluruhnya kami ketahui dari nilai tes tersebut. Kerana nilai postur tidak ada yang mengetahuinya.
Yang kami ketahui hanya nilai lari, push up, sit up, serta run. Kemudian saya bertanya-tanya dalam diri saya, apakah orang dari desa yang tidak memiliki background tertentu tidak bisa menjadi seorang Taruna dan mengabdikan dirinya kepada bangsa ini.
Mohon segala hormat kepada Bapak Panglima TNI untuk menindaklanjuti dan saya minta keadilan atas seleksi Catar Akademi TNI agar proses seleksi TNI ini berlangsung secara transparan dan penuh keadilan. Karena kami orang desa hanya penuh dengan semangat tekad dan doa orang tua yang memberkati kami. (*Anhar)
Editor : S. Anwar