Kapal Api, dari Pikulan Kopi Menjadi Perusahaan Kelas Dunia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Soedomo Mergonoto dan Go Soe Loet
Soedomo Mergonoto dan Go Soe Loet
grosir-buah-surabaya

Banyak pebisnis muda terjebak di satu pikiran ini : "Kalau dari awal udah susah banget, apa mungkin bisa jadi besar?"

Modal tipis. Pengalaman nol. Koneksi hampir tidak ada. Rasanya semua orang yang sukses seperti punya titik start yang lebih baik dari kamu.

Tapi Go Soe Loet (pendiri Kapal Api) mulai dari titik yang jauh lebih bawah dari itu. Dan anaknya, Soedomo Mergonoto, sempat jadi kernet bemo sebelum akhirnya jadi bos kopi nomor satu di Indonesia.

The Kapal Api Reality

Tahun 1920 : Go Soe Loet tiba di Surabaya saat berusia 16 tahun. Mulai dari jualan sayur keliling untuk bertahan hidup.

Tahun 1927 : Mulai produksi kopi racikan sendiri, dijual keliling pakai pikulan dari kampung ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Nama pertamanya Hap Ho Tjan bahasa Hokkien untuk "Kapal Api", karena pelanggannya para pelaut.

Tahun 1967 : Soedomo, sang anak, mulai bantu jualan kopi pakai sepeda ontel di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak. Belajar bisnis secara otodidak.

Tahun 1979 : PT Santos Jaya Abadi resmi berdiri. Nama Hap Ho Tjan diganti jadi Kapal Api.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun setelahnya, Kapal Api ekspor ke Arab Saudi, Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia.

Bagaimana satu keputusan mengubah semuanya?

Βapaknya jualan pikulan. Anaknya sempat jadi kernet bemo. Tidak ada titik start yang terlalu rendah.

Go Soe Loet merintis segalanya sendiri mulai dari menyangrai, menggiling, hingga menjajakan kopi dengan pikulan dari Jalan Panggung Surabaya sampai Pelabuhan Tanjung Perak, setiap hari, selama puluhan tahun.

Ketika Soedomo Mergonoto tumbuh dewasa, ayahnya justru menyuruhnya mencari penghasilan lain karena bisnis kopi masih kecil. Soedomo pun bekerja di perusahaan vulkanisasi ban. Tugasnya mengerok ban bekas. Sambil itu, dia jadi kernet bemo di akhir pekan untuk tambah uang.

Tapi dia tidak berhenti belajar soal kopi. Setiap kali membantu sang ayah, Soedomo selalu bertanya tentang seluk-beluk kopi dan cara kerja mesin produksinya.

"Tidak ada pekerjaan yang sia-sia kalau kamu tetap belajar dari setiap posisi yang kamu jalani," kata ayah Soedomo Mergonoto, Go Soe Loet.

Satu keputusan yang mengubah nasib brand :

Iklan TV Saat Semua Orang Masih Ragu

Tahun 1979, Soedomo Mergonoto mengambil alih bisnis kopi sang ayah dan mendirikan PT Santos Jaya Abadi. Langkah pertamanya yang berani : mengganti nama Hap Ho Tjan menjadi Kapal Api. Tapi langkah terbesarnya datang setelahnya.

Soedomo Mergonoto memutuskan mengiklankan Kapal Api di televisi pada awal tahun 1980-an di saat iklan TV masih dianggap strategi yang sangat mahal dan jarang dipakai pelaku usaha menengah.

Kapal Api jadi merek kopi pertama yang muncul di televisi Indonesia, bahkan menggandeng Paimo dari Srimulat sebagai bintang iklan. Bersamaan dengan itu, Soedomo juga merintis kopi kemasan, inovasi yang belum ada sebelumnya di industri kopi Indonesia.

Dua inovasi itu, iklan TV dan kopi kemasan mengubah usaha keluarga kecil jadi merek nasional dalam hitungan tahun.

Kapal Api berhasil menembus pasar kota-kota besar di luar Jawa - Palembang, Makassar, Medan, Pontianak. Lalu di tahun 1985, Soedomo Mergonoto mulai mengekspor ke luar negeri. Negara tujuan pertama Arab Saudi, disusul Taiwan dan Malaysia.

Ekspansi tidak berhenti disitu. Soedomo meluncurkan kopi susu ABC, Good Day untuk segmen anak muda, Ceremix, hingga Permen Relaxa.

Lalu di tahun 1992, dia merambah bisnis kedai kopi premium dengan membuka Excelso, gerai pertamanya di Plaza Indonesia Jakarta dan Plaza Tunjungan II Surabaya sekaligus.

Satu brand kopi berkembang jadi ekosistem bisnis lengkap. Yang awalnya cuma kopi pikulan untuk para pelaut, akhirnya masuk ke mall-mall paling premium di Indonesia.

Kapal Api bertahan selama 97 tahun. Kapal Api sudah melewati pergantian rezim, krisis moneter tahun 1998, pandemi, dan gelombang coffee shop modern yang mengubah cara orang minum kopi.

Kompetitor terus datang. Tren terus bergeser. Tapi dari Go Soe Loet dari pikulan kopi keliling sampai Soedomo Mergonoto yang membangun pabrik di Karawang (Jawa Barat), Sukodono (Sidoarjo), dan Semarang. Satu hal yang tidak pernah berubah : keuletan dan keseriusan dalam menjaga kualitas produk, yang diwariskan dari ayah ke anak.

Konsumen yang pertama kali minum Kapal Api di warung kecil dua dekade lalu masih menemukan rasa yang sama hari ini.

Brand yang bertahan lama, tahu persis mana yang harus terus berinovasi dan mana yang tidak boleh berubah sama sekali.

Dari pikulan kopi di gang sempit Surabaya ke 60% pasar kopi Indonesia. Ini bukan soal modal. Bukan soal koneksi. Tiga hal yang bikin Kapal Api tidak bisa digeser :

Mulai dari titik terendah dan tidak malu untuk belajar dari sana.

Ambil peluang yang orang lain masih anggap terlalu berani (iklan TV saat semua masih ragu).

Bangun ekosistem, jaga kualitas karena loyalitas konsumen dibangun dari konsistensi, bukan hype.

Go Soe Loet tidak pernah membayangkan kopinya akan dijual di Arab Saudi. Tapi dia tetap jalan setiap hari, pikulan di bahu, kopi di tangan. Dan dari sanalah semuanya dimulai. (*)

*) Source : Ngalup