Lasiyah Soetanto, Sosok Pendekar Hukum Era Orde Baru
Di era modern saat ini, isu kesetaraan gender dan perlindungan hak-hak perempuan telah menjadi agenda utama pembangunan nasional. Namun, tahukah Anda siapa salah satu peletak batu pertama yang memperjuangkan hal tersebut di tingkat kabinet pemerintahan? Sosok itu adalah Lasiyah Soetanto, S.H.
Menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (kini disebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) dalam Kabinet Pembangunan IV (1983–1987), wanita kelahiran 13 Agustus 1924 ini adalah salah satu srikandi terbaik yang dimiliki Indonesia. Dari balik meja kementerian, ia mendedikasikan seluruh energi dan sisa hidupnya demi mengangkat harkat serta martabat kaum perempuan di seluruh penjuru tanah air.
Mengawali Pengabdian dari Guru Sekolah Kristen hingga Lulusan Hukum UGM
Sebelum melangkah jauh ke panggung politik nasional, Lasiyah mengawali pengabdiannya dari jalan sunyi dunia pendidikan. Jiwa kepemimpinannya ditempa dari interaksi sehari-hari sebagai seorang pendidik generasi muda.
Karier mengajarnya dimulai sejak usia muda pada tahun 1941 sebagai guru di Christelijke Schakelschool (Sekolah Kristen) di Wonogiri. Langkahnya kemudian berlanjut ke Yogyakarta, di mana ia mendedikasikan diri mengajar di berbagai sekolah ternama lintas latar belakang, mulai dari Neutraal School, SMP Puro Pakualaman, SGA Stella Duce, hingga SMA Bopkri.
Di sela-sela kesibukannya mendidik, Lasiyah yang haus akan ilmu pengetahuan berhasil merampungkan studi tertingginya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Gelar Sarjana Hukum inilah yang kelak menjadi senjata intelektual utamanya dalam menyusun draf-draf kebijakan yang berpihak pada keadilan bagi kaum perempuan.
Nakhoda Kowani yang Menembus Parlemen Senayan
Berbekal latar belakang hukum dan ketajaman berpikir, Lasiyah Soetanto mulai aktif di berbagai organisasi kewanitaan. Puncaknya, ia dipercaya memegang tongkat komando tertinggi sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kongres Wanita Indonesia (DPP Kowani)—sebuah federasi organisasi perempuan terbesar dan tertua di Indonesia.
Kepemimpinannya yang inklusif dan bervisi maju membuat gerbong politik Golkar meliriknya. Lasiyah kemudian berhasil melenggang ke Senayan sebagai Anggota MPR/DPR-RI. Di lembaga legislatif tersebut, ia dikenal sebagai legislator yang vokal dalam menyuarakan isu-isu keluarga, perlindungan anak, serta peningkatan kapasitas ekonomi perempuan pedesaan.
Gugur dalam Tugas di Tengah Pengabdian Bangsa
Keberhasilan dan integritasnya di parlemen membuat Presiden Soeharto tanpa ragu mendapuknya masuk ke dalam jajaran kabinet sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita pada tahun 1983. Di posisi ini, ia bergerak cepat merumuskan berbagai program makro untuk mengintegrasikan potensi perempuan ke dalam arus utama pembangunan nasional.
Namun takdir berkata lain. Di tengah puncak masa pengabdiannya yang gemilang, Lasiyah Soetanto mengembusen napas terakhirnya pada 2 November 1987 dalam usia 63 tahun. Ia gugur saat masih aktif mengemban tugas negara sebagai menteri.
"Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa, khususnya kaum perempuan Indonesia. Tongkat estafet kepemimpinannya di kementerian kemudian dilanjutkan oleh Sulasikin Murpratomo."
Meskipun fisiknya telah tiada, nama Lasiyah Soetanto akan selalu terukir dengan tinta emas dalam sejarah sebagai sosok 'Menteri Srikandi' yang membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri tegak memimpin di garda terdepan perubahan bangsa. (*)
Editor : S. Anwar