Saldi Isra Dua Kali Gagal Ujian, Kini Jadi Hakim Mahkamah Konstitusi
Pernahkah kamu merasa hancur karena kegagalan yang datang berturut-turut? Jika hari ini kamu sedang berada di titik itu, luangkan waktu sejenak untuk membaca kisah hidup pria luar biasa yang satu ini.
Siapa sangka, salah satu penjaga hukum tertinggi di negara kita saat ini—seorang Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)—dulunya adalah seorang pemuda kampung yang sempat terpuruk karena gagal ujian masuk kuliah sampai dua kali.
Dialah Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., MPA. Pria kelahiran Paninggahan, Solok, Sumatera Barat, yang membuktikan bahwa takdir tidak ditentukan oleh dari mana kita memulai, melainkan seberapa tangguh kita berjuang.
Tamparan Kegagalan di Awal Langkah
Saldi lahir dan tumbuh di lingkungan yang sangat sederhana. Ayah dan ibunya adalah petani di Solok yang menggantungkan hidup dari tanah. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, kuliah tentu menjadi impian yang teramat mewah dan berat.
Jalan menuju mimpi itu pun tidak langsung mulus. Saat mencoba peruntungan ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada tahun 1988, namanya tidak lolos. Tahun berikutnya, 1989, ia mencoba lagi. Hasilnya? Tetap sama: Gagal.
Bayangkan beban mental seorang anak petani di kampung saat gagal dua kali berturut-turut. Namun, Saldi menolak untuk menyerah pada keadaan. Pada percobaan ketiga di tahun 1990, ketekunannya berbuah manis. Ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.
Melesat Menjadi Lulusan Terbaik dan Pendekar Antikorupsi
Begitu mendapatkan kesempatan kuliah, Saldi tidak menyia-nyiakannya. Kecerdasannya meledak. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1995 dengan predikat kelulusan tertinggi: Summa Cum Laude!
Visi hukumnya pun melampaui zamannya. Sejak menyusun skripsi di era 90-an, ia sudah menulis tentang pentingnya dibentuk sebuah lembaga Mahkamah Konstitusi di Indonesia—lembaga yang baru benar-benar lahir di negeri ini pada tahun 2003.
Kariernya sebagai akademisi hukum tata negara melesat hingga ia meraih gelar Profesor. Di luar kampus, ia dikenal sebagai "pendekar" antikorupsi yang sangat vokal. Keberaniannya membongkar skandal korupsi berjamaah di DPRD Sumatera Barat membuatnya dianugerahi penghargaan bergengsi Bung Hatta Anti-Corruption Award pada tahun 2004.
Menolak Jabatan Menteri demi Integritas
Integritas Saldi Isra yang sekokoh batu karang sempat membuat Presiden Joko Widodo kepincut. Ia pernah dipanggil ke Jakarta dan ditawari untuk masuk ke dalam kabinet menjadi seorang menteri.
Bagi banyak orang, tawaran kursi menteri adalah puncak kejayaan. Namun, dengan halus Saldi menolaknya. Ia menegaskan bahwa jiwanya adalah seorang akademisi, dan ia lebih memilih menjaga independensinya demi dunia hukum Indonesia ketimbang masuk ke politik praktis.
Puncak Pengabdian di Mahkamah Konstitusi
Jalan takdir akhirnya tetap membawa putra Solok ini ke ibu kota. Pada tahun 2017, ketika Mahkamah Konstitusi (MK) membutuhkan sosok hakim yang bersih pasca-skandal gratifikasi yang menimpa salah satu hakimnya, nama Saldi Isra keluar sebagai rekomendasi nomor satu di Indonesia.
Ia dilantik menjadi Hakim Konstitusi, dan kini dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Dari pemuda Solok yang meratapi kegagalan UMPTN di pematang sawah, kini ia berdiri di podium tertinggi negara, menentukan arah hukum dan keadilan bangsa ini.
"Kegagalan hari ini hanyalah jeda, bukan akhir dari cerita."
Kisah Prof. Saldi Isra adalah pengingat bagi kita semua, terutama anak-anak muda yang lahir dari keluarga biasa: jangan pernah minder dengan latar belakangmu, dan jangan pernah berhenti berjuang hanya karena beberapa kali terjatuh. Jujur, berani, dan konsisten akan membawamu ke puncak tertinggi. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar