Kisah Kewalian Guru Bangil

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
KH Muhammad Syarwani Abdan atau yang akrab disapa Guru Bangil
KH Muhammad Syarwani Abdan atau yang akrab disapa Guru Bangil
grosir-buah-surabaya

Guru Sekumpul sering bercerita tentang keistimewaan dan karomah yang dimiliki oleh KH Muhammad Syarwani Abdan atau yang akrab disapa Guru Bangil. Beliau adalah sosok waliyullah yang menyembunyikan kewaliannya (Wali Mastur) pada zamannya.

Guru Bangil aslinya berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan, dan masih keturunan langsung ulama besar Syekh Arsyad Al-Banjari (Datuk Kalampayan). Beliau kemudian merantau ke Bangil, Pasuruan, dan mendirikan pesantren yang diberi nama Pesantren Datuk Kalampayan. 

Guru Sekumpul sendiri masih memiliki hubungan kerabat sekaligus menjadi murid kesayangan beliau, sehingga banyak melihat langsung kelebihan yang dimiliki Guru Bangil.

Berikut adalah beberapa kisah kewalian beliau yang diceritakan langsung oleh Guru Sekumpul :

1. Membaca Langsung dari Lauhul Mahfudz

Guru Sekumpul bercerita: Jika ada persoalan atau rahasia ilmu yang belum diketahui oleh Guru Bangil, beliau hanya perlu berdoa memohon petunjuk kepada Allah. Setelah selesai berdoa, beliau cukup mengangkat wajah ke langit, dan seketika itu juga beliau bisa melihat jawaban dan keterangan yang tertulis jelas di dalam Lauhul Mahfudz. Begitu cepat dan terbuka pengetahuan yang Allah berikan kepadanya.

2. Sholat Jum'at di Mekkah, Padahal Berada di Bangil

Diceritakan pula oleh Almarhum Abah H. Abdur Rahman, bahwa pernah suatu hari terjadi pertemuan antara Guru Bangil dengan Syaikh Yasin dari Padang di kediaman beliau di Bangil. Saat itu bertepatan dengan hari Jum'at.

Sambil berbicara, Syaikh Yasin mengungkapkan kerinduannya untuk bisa melaksanakan sholat Jum'at di Masjidil Haram, Mekkah. Tanpa berlama-lama, Guru Bangil pun mengajak Syaikh Yasin masuk ke dalam kamar. Mereka berdua duduk, lalu Guru Bangil memeluk Syaikh Yasin sambil sama-sama memejamkan mata.

Dalam sekejap mata, tanpa berjalan kaki atau naik kendaraan, ruh dan jasad mereka berdua sudah sampai di Mekkah. Mereka pun sempat melaksanakan sholat Jum'at di Masjidil Haram, sebelum akhirnya kembali lagi ke Bangil dalam waktu yang sangat singkat.

3. Berziarah ke Makam Habib Luar Batang Tanpa Berpindah Tempat

Ketika itu umur Guru Sekumpul baru menginjak 32 tahun. Beliau bercerita saat diajak oleh Guru Bangil untuk berziarah ke makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, yang dikenal sebagai Habib Luar Batang di Jakarta.

Sebelum berangkat, Guru Bangil berpesan agar mulai berniat berbuat kebaikan jauh-jauh hari, sejak masih berada di rumah. Beliau berkata:

"Kalau kita berniat kebaikan dari rumah sampai tiba di halaman makam Habib Luar Batang, maka niat itu pasti akan diterima Allah. Itu adalah keistimewaan Habib Luar Batang, karena begitu tingginya derajat beliau di sisi Allah SWT."

Setelah segala sesuatunya siap, Guru Bangil menyuruh Guru Sekumpul memegang erat ujung baju beliau. Seketika itu juga, jarak antara Pasuruan dan Jakarta seolah hilang. Guru Sekumpul melihat dirinya dan Guru Bangil sudah berada di hadapan makam, bahkan bisa bertatap muka dan bercakap-cakap langsung dengan Habib Luar Batang.

Demikianlah sebagian bukti karomah KH Muhammad Syarwani Abdan, Tuan Guru Bangil, sosok Waliyullah Mastur yang penuh keutamaan. (*)