Mengkritisi Lirik Bapakku NU, Ibu Muslimat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Warga bawa berkat
Warga bawa berkat
grosir-buah-surabaya

Syi’ir "Bapakku NU, Ibu Muslimat, Kakakku Ansor mbakyu Fatayat" yang dipopulerkan Ning Umi Laila dan viral di media sosial memang sukses memperkuat kebanggaan komunal warga Nahdliyin.

Secara psikologi massa, lirik ini efektif merekatkan identitas antar-badan otonom (Banom). Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan narasi yang reduksionistis atau penyederhanaan makna yang mengkhawatirkan. Nahdlatul Ulama (NU) seolah hanya dicitrakan sebagai label administratif keluarga, tanpa menyentuh esensi perjuangan dan nilai luhur organisasi.

Kritik utama terletak pada diksi "ngalor-ngidul nggowo berkat". Meski berkat adalah simbol tradisi warisan ulama, kearifan lokal, menjadikannya "wajah utama" dalam syi’ir populer justru mempersempit muruah Nahdlatul Ulama (NU). 

Narasi ini menciptakan citra karikaturistik bahwa warga Nahdlatul Ulama (NU) hanya bergerak di ranah ritualitas-konsumtif. Padahal, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sejarah besar dalam ijtihad politik, pemberdayaan ekonomi, dan benteng ideologi bangsa yang jauh lebih luas dari sekadar urusan bungkusan makanan.

Penonjolan sisi "berkat" ini secara tidak langsung mengerdilkan profil intelektual santri. Di era transformasi digital, narasi "ngalor-ngidul" terasa tidak kontekstual dan kurang inspiratif bagi kemajuan zaman. Kita lebih membutuhkan lirik yang menggambarkan Bapak Nahdlatul Ulama (NU) sebagai pelopor kedamaian, Ibu Muslimat sebagai penggerak ekonomi, serta Ansor dan Fatayat sebagai garda terdepan literasi serta kemanusiaan.

Absennya narasi kontribusi nyata ini berisiko menjauhkan generasi muda (Gen Z) dari substansi ke-NU-an. Jika identitas yang ditawarkan hanya sebatas romantisme struktural dan simbol makanan, maka daya tarik Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi modern yang solutif akan memudar. Keberhasilan Nahdlatul Ulama (NU) bertahan satu abad bukan karena mobilitas fisik mencari berkat, melainkan karena kedalaman ilmu ulama dan kemaslahatan umat yang diperjuangkan secara konsisten.

Sebagai solusi, perlu ada reorientasi kreatif dalam menggubah syi’ir identitas. Para kreator harus mulai memasukkan peran strategis NU, seperti menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mencerdaskan bangsa melalui pendidikan Ma’arif, dan kemandirian ekonomi. Kita perlu mengubah diksi "karitatif" (sekadar memberi/menerima) menjadi diksi "kontributif" (peran nyata di masyarakat). Kebanggaan ber-NU harus berbanding lurus dengan tanggung jawab sosial yang diemban.

Sudah saatnya kita memosisikan "berkat" bukan lagi sebagai bungkusan makanan, melainkan sebagai "Berkat bagi Bangsa". Syi’ir masa kini harus menjadi pemantik semangat untuk bergerak, bukan sekadar pelengkap seremonial. 

Dengan bait-bait yang lebih visioner, Nahdlatul Ulama (NU) akan terlihat sebagai lokomotif peradaban dunia. Menjadi Nahdlatul Ulama (NU) berarti menjadi bagian dari solusi global, bukan sekadar pelestari tradisi yang kehilangan esensinya. (*)

Rembang, 6 April 2026

*) Penulis : Aris Shoimin (Pecinta Sholawat, Warga Nahdlatul Ulama)