Gerakan Pentakosta Lahir di Temanggung
Beberapa gedung misterius di sekitar daerah perkotaan Temanggung membuka fakta-fakta sejarah yang jarang dibicarakan : ternyata Temanggung sempat menjadi basis pergerakan Pentakosta di Indonesia pada tahun 1910 sampai 1929.
Sejarah Kekristenan di Indonesia seperti ini ternyata memang belum banyak dibahas dan masih absen dalam narasi sejarah arus utama. Padahal, dilansir dari tmg. heritage, sejarah harus inklusif dan representatif dalam menceritakan dinamika masyarakat dalam sebuah daerah, dalam hal ini perkembangan Kekristenan di Temanggung.
Bangunan-bangunan misterius di Temanggung
Di sekitar daerah perkotaan Temanggung, terdapat beberapa bangunan lawas yang masih misterius. Pertama, sebuah bangunan di Kompleks Panti Penganthi yang diduga dibangun pada tahun 1914. Penelusuran terakhir mengarah pada kesimpulan bahwa gedung ini sempat menjadi pusat kegiatan amal Barmhartigheid Huis atau Rumah Belas Kasih yang berpindah dari Gambang Waluh (Kaloran) ke Temanggung pada tahun 1921.
Bangunan yang kedua adalah Gedung Kantor SMK Dr Sutomo (Doksut) yang bergaya Indies Empire Style dengan pilar Doric-nya. Sejauh yang bisa tmg. heritage lacak, bangunan ini pada awalnya adalah sebuah gedung pemerintahan yang telah ada setidaknya sejak tahun 1880-an.
Pada tahun 1898, gedung ini dikelola oleh Pendeta R.J. Horstman sebagai kediaman pribadi sekaligus menjadi asrama dan sekolah bagi kalangan priyayi Jawa dan masyarakat Tionghoa di Temanggung.
Hingga tahun 1910-an, Hollandsch Javaansche School asuhan R.J. Horstman ini memiliki paling banyak 50 peserta didik yang dibagi menjadi beberapa kelas dengan pengajar orang Jawa dan Eropa. Namun pada tahun 1914, institusi sekolah ini dipindah ke Magelang oleh A Merkelijn karena jumlah peserta didik yang berkurang drastis karena berbagai alasan.
Sejarah Kekristenan di Indonesia masih minim representasi?
tmg. heritage menjumpai banyak hal menarik seputar Sejarah Kekristenan di Indonesia ketika mencari informasi tentang Barmhartigheid Huis dan Sekolah R.J. Horstman.
Namun, sangat disayangkan bahwa topik ini belum banyak dibahas dalam sejarah arus utama. Bahkan, dalam konteks sejarah lokal Temanggung, narasi perkembangan agama Kristen ini belum pernah disinggung. Padahal, Temanggung pernah menjadi pusat pergerakan Kekristenan di Jawa.
Lebih lanjut, penelusuran tmg. heritage mengungkap fakta sejarah menarik yang belum banyak diceritakan, bahwa Temanggung sempat menjadi pusat dan cikal bakal perkembangan gerakan Pentakosta abad ke-20 di Jawa.
Kala itu, ketika Sumowono belum dipisahkan dari Temanggung. Sisi Barat Gunung Ungaran yang meliputi daerah Sumowono secara historis termasuk dalam wilayah Kedu Lama. Hingga akhir masa Kolonial, daerah ini berada di bawah administrasi kawedanan yang beribukota di Kaloran, afdeeling Temanggung.
Pada tahun 1901, Lembaga Van den Steur di Magelang mengakuisisi lahan bekas perkebunan kopi milik pemerintah di desa Gambang Waluh, Kaloran (kini masuk Sumowono) untuk dikelola. Di lahan itu, didirikanlah pemukiman kecil yang dipimpin oleh Albertus dan Anna Binkhuijzen.
Barmhartigheid Huis atau Rumah Belas Kasih di Gambang Waluh
Pasangan Dominicus dan Maria Graafstal kemudian menggantikan kepemimpinan di Gambang Waluh pada 1904. Disana, didirikanlah Huis van Barmhartigheid atau Rumah Belas Kasih yang menampung anak-anak dengan disabilitas netra dan mental. Usaha amal ini lalu didukung oleh R.J. Horstman melalui Zendingsonderneming Temanggoeng pada tahun 1907. Namun, karena berbagai kendala di Gambang Waluh, pasangan Graafstaal pindah dari sana ke kota Temanggung pada tahun 1910.
Kedatangan Margaretha Adriana Alt ke Gambang Waluh
Besar kemungkinan bahwa pasangan suami istri Graafstaal yang pindah ke Temanggung bergabung dengan R.J. Horstman dan menjadi cikal bakal Panti Penganthi. Momen ini ditandai oleh gedung yang dibangun pada tahun 1914 itu.
Di sisi lain, permukiman di Gambang Waluh yang telah ditinggalkan diambil alih oleh M.A. Alt pada Oktober 1914 di bawah naungan Gereja Baptist Hari Ketujuh (GBHK).
Momen kelahiran gerakan Pentakosta di Temanggung
Perkembangan Pentakostalisme di dunia berawal dari Azusa Street Revival pada tahun 1906 di Amerika Serikat. Di Belanda, Gerrit Polman mendirikan gerakan Pentakosta di sana dengan terbitan berkala Spade Regen pada tahun 1908 yang disebarkan hingga ke Jawa.
Kontak dengan Polman ini yang mendorong terbentuknya kelompok doa di lingkungan keluarga Horstman yang simpatis terhadap gerakan Pentakosta pada sekitar 1911. Momen ini yang menandai kelahiran gerakan Pentakosta di Temanggung.
Kediaman R.J. Horstman di kota Temanggung kemudian menjadi basis penyebaran Pentakosta di Jawa. Di dekade 20-an, kontak dengan misionaris Pentakosta dari Belanda, Amerika Serikat, dan Denmark di kediaman Horstman akan membawa anak dan menantu Horstman, H.E. Horstman dan F. van Abkoude, bersama M.A. Alt sebagai pemimpin-pemimpin gerakan Pentakosta di Hindia-Belanda.
Kembali ke Gambang Waluh, usaha Zuster Alt pada tahun-tahun awal sangat berat. Namun, menjelang dekade 20-an mulai banyak sumbangan berdatangan.
Alt juga dibantu Do Graafstal yang telah membaptis 8 orang Jawa hingga tahun 1918. Di antara 8 orang itu, Iskaq dan Joenoes dari desa Porot menjadi penginjil yang giat. Setiap Sabat pagi, sekitar 50 orang dari desa-desa sekitar berkumpul di Gambang Waluh.
Saudara-saudari terkasih, ingatlah Jawa, doakanlah kami... Doakanlah Temanggoeng.
Johan Thiessen, dalam suratnya setelah berkunjung ke Temanggung yang dimuat dalam "Spade Regen" tahun 1922.
Pada September 1922, J. Thiessen dan Anna Gnirrep yang telah aktif dalam komunitas Pentakosta di Bandung dan Weltevreden berkunjung ke Temanggung. Di kediaman Horstman, mereka menyambut kedatangan pasangan penginjil William Bernard dan Marie Blekkink dari Belanda serta Mina Hansen dari Denmark. Thiessen dan Gnirrep juga mengunjungi Alt di Gambang Waluh.
Menurut surat dari Thiessen, Zuster Alt masih mengikuti Gereja Baptis Hari Ketujuh yang taat beribadah di hari Sabat. Namun, Alt juga disebut mulai mendekatkan diri dengan gerakan Pentakosta. Di Gambang Waluh, Thiessen bersama Bernard membaptis 37 orang.
Tumbuhnya jemaat Pentakosta di Gambang Waluh
Zuster Alt sebetulnya telah mengetahui gerakan Pentakosta sejak tahun 1912 ketika ia membaca terbitan Spade Regen. Selain itu, pada tahun 1920, ia telah berjumpa dengan misionaris Pentakosta bernama Elize Scharten yang singgah di rumah Horstman.
Baru pada 22 Februari 1922, Alt resmi melepas Sabat dan mengadakan ibadah di hari Minggu. Momen ini terjadi setelah beberapa anak disabilitas mental asuhan Alt dipindah ke Temanggung pada November 1921, menandai berdirinya Zwakzinnigenzorg Temanggoeng.
Selain di Temanggung yang disokong oleh H.E. Horstman (putra R.J. Horstman), F. van Abkoude (menantu R.J. Horstman), dan pasangan penginjil William Bernard dan Marie Blekkink, pada waktu yang sama kantong-kantong jemaat Pentakosta juga tumbuh di berbagai tempat di Jawa. Pergerakan di Bandung dipimpin oleh D. Weenink van Loon, di Cepu (Blora) oleh J. Thiessen, dan di Surabaya oleh F.G. van Gessel.
Di Cepu pada 29 Maret 1923, terjadi Cepu Revival di mana perjamuan yang diadakan Thiessen tercurahi oleh baptisan Roh Kudus. Sementara di Bandung pada 19 Juni 1923, didirikan organisasi legal pertama, Vereniging De Pinkstergemeente in Nederlands-Indie. Namun pada 1924, J. Thiessen memutuskan berpisah dan mendirikan kelompok baru, De Pinksterbeweging.
Gerakan Pentakosta menyebar ke seluruh Jawa
Dari pusat-pusat di Temanggung, Bandung, dan Surabaya, gerakan Pentakosta tersebar ke seluruh kota-kota di Jawa.
Begitupula komferensi banyak digelar, mulai pada tahun 1926 di Surabaya hingga pada 1930 di Bandung. Di bawah organisasi Vereniging De Pinkstergemeente in Nederlands-Indie, nama H. E. Horstman, F. van Abkoude, pasangan van Klaveren, F.G. van Gessel, M.A. Alt, dan D. Weenink van Loon muncul sebagai para pemimpin gerakan Pentakosta di Hindia-Belanda.
Penyebaran Pentakosta ke seluruh Jawa ini didukung oleh publikasi berkala organisasi yang diterbitkan di Temanggung. Pada awalnya, Pinkstergementee menerbitkan "De Pinksterkracht" dengan F. van Abkoud yang bertindak sebagai editor.
Pada tahun 1928, nama terbitan ini diganti menjadi "Gouden Schooven" oleh Alt. Publikasi ini memuat rubrik, korespondensi, berita penginjilan, hingga kesaksian-kesaksian.
Zuster Alt hijrah ke Surabaya
Pada tanggal 30 Mei 1929, M.A. Alt berangkat dari Temanggung untuk hijrah ke Surabaya dengan membawa 30 anak asuhannya. Sementara di Gambang Waluh, Temanggung jemaat diserahkan kepada Joenoes dari desa Porot, bersama dengan Elias, Jakobes, Stefanoes, dan Iskaq. Kepindahan Alt ke Surabaya ini menandai Temanggung tidak lagi menjadi pusat perkembangan gerakan Pentakosta.
Referensi :
Van der Laan, C. 2012 Mutual.
Influences of Indonesian and Dutch Pentecostal Churches. Gema Teologi, 36(1), 95-125. Article 6.
Johan Thiessen and Margaretha Alt and the Birth of Pentecostalism in Indonesia. PentecoStudies, 11(2), 149-170. Article 2.
2016, Moesje Alt: Pelopor Gerakan Pentakosta di Indonesia. Malang: Gandum Mas. Van der Laan, C.
2012, Mutual Influences of Indonesian and Dutch Pentecostal Churches. Gema Teologi, 36(1), 95-125. Article 6.
*) Source : tmg heritage
Editor : S. Anwar