Tragedi Anatahan yang Terjebak bersama 32 Pria di Pulau Tanpa Hukum

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kazuko bersama puluhan pria di Pulau Saipan
Kazuko bersama puluhan pria di Pulau Saipan
grosir-buah-surabaya

Kisah ini berawal dari kebijakan ekspansi agresif Kekaisaran Jepang. Pada tahun 1939, seorang gadis belasan tahun asal Okinawa bernama Kazuko merespons panggilan nasional untuk bermigrasi. Ia menyusul kakak laki-lakinya ke Pulau Saipan, lalu berpindah ke pulau lain untuk bekerja sebagai pelayan kafe. Di sanalah ia memulai kehidupan dewasanya, jauh dari daratan utama Jepang.

Sekitar tahun 1941, Kazuko yang baru berusia 18 tahun menikah dengan Shoichi Higa, sesama perantau dari Okinawa. Shoichi adalah pekerja sipil di Perusahaan Pembangunan Laut Selatan (Nanyo Kohatsu). Pasangan muda ini kemudian ditugaskan ke Pulau Anatahan sebuah pulau vulkanik kecil sebagai wakil pengawas perkebunan kelapa (kopra). 

Di bawah pimpinan Kikuichiro Higa, mereka hidup damai mengawasi sekitar 45 pekerja lokal suku Chamorro. Anatahan pada masa ini adalah tempat yang terstruktur dengan hierarki sipil yang jelas.

Namun, ketenangan itu hancur pada awal tahun 1944. Pasukan Amerika Serikat mulai mendekati pertahanan Jepang di Pasifik. Khawatir akan keselamatan saudara perempuannya di Saipan, Shoichi memutuskan untuk menjemputnya. Ia berjanji kepada Kazuko akan kembali dalam waktu satu bulan. Tragisnya, serangan darat dan udara besar-besaran (Pertempuran Saipan) memutus jalur laut. Shoichi terjebak di Saipan dan mengira Kazuko telah tewas, sementara Kazuko tertinggal di Anatahan dalam ketidakpastian.

Perang membuat penduduk asli Chamorro perlahan meninggalkan pulau. Di tengah isolasi dan ketakutan, Kazuko hanya memiliki satu pelindung, Kikuichiro Higa. Membutuhkan jangkar fisik dan emosional, Kazuko akhirnya hidup bersama dan menikah dengan Kikuichiro, menciptakan sebuah ketenangan semu sebelum badai sesungguhnya tiba.

Pada pertengahan 1944, pesawat tempur Amerika Serikat menargetkan kapal-kapal pemasok Jepang di perairan Pasifik. Tiga armada Jepang dibombardir hingga tenggelam. Sebanyak 31 pria mayoritas berusia awal 20-an, terdiri dari prajurit wajib militer angkatan laut dan pelaut sipil berenang menyelamatkan diri dan terdampar di pantai Anatahan.

Kedatangan puluhan pria kelelahan ini seketika mengubah demografi pulau. Kikuichiro dan Kazuko menyambut mereka. Pada fase awal ini, disiplin militer masih terjaga. Mereka bahu-membahu membangun kehidupan subsisten, memanen kelapa, menangkap ikan, serta memburu babi hutan dan kelelawar buah.

Memasuki awal tahun 1945, militer Amerika Serikat yang sedang berpatroli sempat mendarat di pesisir Anatahan. Menyadari mereka kalah senjata, kelompok Jepang melarikan diri dan bersembunyi di dalam gua serta hutan lebat. Di saat yang sama, militer Amerika Serikat mengevakuasi sisa penduduk suku Chamorro. Sejak saat itu, 32 pria dan 1 wanita Jepang tersebut benar-benar terisolasi secara total.

Pada Agustus 1945, Kekaisaran Jepang menyerah tanpa syarat. Militer Amerika Serikat menjatuhkan selebaran kertas berbahasa Jepang dari udara yang menyatakan perang telah berakhir, memerintahkan mereka untuk menyerahkan diri. Namun, doktrin militer kekaisaran (Senjinkun) yang tertanam kuat mengajarkan bahwa menyerah adalah aib tertinggi.

Kelompok di Anatahan mengalami titik buta (blind spot) yang fatal. Mereka menolak realitas, menganggap selebaran itu sebagai propaganda dan tipuan murahan Amerika. Mereka mendeklarasikan diri sebagai prajurit yang terus bertahan (holdouts), sebuah penolakan sadar yang mengunci nasib mereka ke dalam ruang hampa isolasi absolut.

Menjelang akhir tahun 1946, saat mencari makanan di pegunungan, mereka menemukan bangkai pesawat pengebom B-29 Superfortress Amerika Serikat yang jatuh menabrak gunung.

Awalnya, moralitas dan kemanusiaan masih mereka pegang teguh. Menemukan jasad para kru pesawat Amerika yang tewas, para prajurit Jepang ini tetap menggali kubur dan memakamkan musuh mereka dengan ritual penghormatan militer serta doa Buddha.

Sebuah ironi besar, mengingat apa yang akan mereka lakukan terhadap sesama rekan sebangsa setahun kemudian.

Rongsokan B-29 itu kemudian dipanen untuk menyokong peradaban primitif mereka. Lembaran logam duralumin disulap menjadi panci dan wajan, kain parasut nilon menjadi pakaian dan tenda, sementara tabung oksigen dimodifikasi menjadi penampung air hujan.

Namun, bahan bakar kekacauan mulai tercipta di luar bangkai pesawat. Dengan melimpahnya pohon kelapa di bekas perkebunan itu, para pria mulai menyadap nira dan memfermentasinya menjadi tuak keras tradisional yang disebut Tuba. Rasa bosan dan putus asa membuat mereka sering mabuk, perlahan meluruhkan pertahanan diri dan moralitas.

Petaka sesungguhnya lahir ketika mereka menemukan beberapa pucuk pistol semi-otomatis milik kru pesawat yang rusak. Para pelaut dengan keahlian mekanik berhasil mengkanibalisasi suku cadang dan merakit dua buah pistol yang berfungsi sempurna.

Dalam hitungan detik, dinamika sosial Anatahan berubah total. Hierarki militer runtuh, perwira berpangkat tertinggi (Kapten Ishida) kehilangan otoritasnya karena ia tidak memegang senjata. 

Dua pelaut berpangkat rendah yang memegang pistol tiba-tiba memiliki kuasa mutlak atas nyawa seluruh pulau. Ketika Kikuichiro Higa meninggal secara mendadak akibat penyakit di akhir tahun 1946, Kazuko kehilangan pelindungnya. Kedua pemegang pistol itu langsung memaksakan otoritas mereka dan mengklaim hak atas Kazuko sebagai milik bersama.

Di bawah ancaman peluru dan pengaruh alkohol (Tuba), Anatahan berubah menjadi arena jagal berdarah. Ketegangan antara dua pemegang pistol memuncak pada tahun 1947, di mana salah satunya tewas tertembak dalam dalih kecelakaan. Pria yang tersisa menjadi penguasa tunggal atas kedua pistol dan Kazuko, sebelum akhirnya ia pun ditemukan tewas mengambang di laut senjatanya berpindah tangan.

Sejak saat itu, rentetan kecelakaan misterius mewabah. Perenang angkatan laut yang andal dilaporkan tenggelam saat memancing, ada yang tewas karena keracunan makanan, dan ada yang jatuh dari pohon kelapa dengan luka yang menceritakan sabotase.

Motifnya jelas,ini adalah pembunuhan berantai yang didorong oleh kecemburuan buta dan insting primitif untuk memperebutkan satu-satunya wanita.

Sadar bahwa pistol adalah katalis kehancuran, pada rentang tahun 1948–1949, kelompok ini bersepakat membuang kedua senjata api itu ke dasar laut. Sebagai langkah diplomatik terakhir untuk memulihkan tatanan moral, pimpinan kelompok memaksa Kazuko untuk resmi menikah dengan satu pria guna menetapkan status yang jelas agar ia tidak diganggu lagi.

Ternyata, solusi itu gagal total. Tanpa pistol, mereka beralih menggunakan puluhan pisau tajam yang sebelumnya mereka buat dari duralumin B-29. Suami baru Kazuko pun tewas dibunuh. Secara total, tercatat 11 hingga 12 pria tewas di pulau tersebut. Pembunuhan berlanjut secara diam-diam melalui penyergapan di hutan. Senjata api hanyalah alat pembuka jalan, sementara akar masalahnya adalah niat gelap di dalam benak mereka sendiri.

Memasuki pertengahan tahun 1950, sisa pria hidup dalam teror psikologis dan paranoia konstan. Setiap orang takut ditikam rekan di sebelahnya. Dalam keadaan terisolasi dan dihantui rasa bersalah kolektif atas pem*unuhan sesama kawan, mekanisme pertahanan ego mereka mengambil alih.

Mereka tidak mampu memproses kenyataan bahwa keserakahan merekalah yang membunuh belasan nyawa.

Sebagai pembenaran, mereka menciptakan kambing hitam, Kazuko Higa. Mereka menyimpulkan bahwa kehadiran sang Ratu Lebah ini adalah kutukan yang mencuci otak mereka.

Pada Juli 1950, sebuah pengadilan rahasia digelar tanpa sepengetahuan Kazuko. Keputusan diambil dengan suara bulat demi mengembalikan kedamaian di Anatahan, Kazuko harus dieksekusi keesokan harinya.

Namun, di tengah malam, struktur kesepakatan itu bocor. Salah satu pria diam-diam menyelinap dan memperingatkan Kazuko,"Larilah malam ini juga, atau besok mereka akan membunuhmu."

Tanpa pikir panjang, Kazuko melarikan diri ke dalam kegelapan hutan vulkanik lebat dengan perbekalan seadanya. Ironisnya, alam liar yang dipenuhi tebing curam dan cuaca ekstrem itu terbukti jauh lebih aman bagi Kazuko dibandingkan berdekatan dengan sesama manusia. Ia bertahan hidup selama 33 hari, bersembunyi di dalam gua dan memakan dedaunan.

Titik terang akhirnya muncul ketika sebuah kapal laut militer AS melintas. Mengabaikan risiko ketahuan kelompok yang memburunya, Kazuko berlari ke pantai dan melambaikan tangan dengan panik. Ia berhasil diselamatkan. Setibanya di atas kapal, ia membeberkan informasi intelijen krusial, masih ada belasan tentara Jepang di Anatahan yang tidak percaya perang telah usai.

Kepergian Kazuko menciptakan kedamaian semu di Anatahan. Tanpa wanita yang diperebutkan, pembunuhan berhenti. Sekitar 19 pria yang tersisa kembali pada rutinitas bertahan hidup yang monoton, masih terjebak dalam delusi bahwa mereka adalah benteng pertahanan terakhir Kaisar.

Berdasarkan kesaksian Kazuko, militer Amerika Serikat menyadari bahwa selebaran resmi pemerintah tidak akan mempan untuk meruntuhkan doktrin Senjinkun. Mereka bekerja sama dengan pemerintah Jepang pasca-perang untuk merancang senjata psikologis yang jauh lebih tajam,ikatan emosional dari kampung halaman.

Pada awal tahun 1951, pesawat Amerika Serikat menjatuhkan paket berisi surat tulisan tangan asli dari keluarga, foto-foto terbaru, dan surat kabar yang memperlihatkan Jepang yang sudah dibangun kembali.

Taktik ini menghancurkan dinding kognitif para prajurit. Mereka bisa menyangkal huruf cetak, tetapi mereka tidak bisa membantah tulisan tangan istri dan ibu mereka sendiri. Pukulan mental itu sungguh luar biasa, mereka akhirnya menyadari bahwa belasan rekan mereka tewas secara konyol di pulau terkutuk itu demi perang yang sudah bertahun-tahun selesai.

Pada tanggal 30 Juni 1951, kapal Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Cocopa merapat ke Anatahan. Sisa 19 pria yang kini tampak seperti manusia prasejarah dengan tubuh kurus kering dan pakaian perca dari nilon B-29 turun dari pegunungan. Mengibarkan bendera putih, mereka menyerahkan senjata tajam buatan mereka, mengakhiri Insiden Anatahan secara definitif.

Jika di Anatahan Kazuko menjadi korban insting primitif, di Jepang ia menjadi korban dari pembunuhan karakter berskala nasional.

Kepulangan 19 pria tersebut memunculkan masalah hukum. Untuk menutupi dosa pembunuhan sesama rekan militer (mutiny) dan menghindari rasa malu, mereka bersekongkol menyatukan cerita. 

Melalui buku harian dan wawancara, mereka menjual narasi bahwa Kazuko-lah yang dengan licik menggunakan rayuan untuk mengadu domba mereka. Para pria ini memposisikan diri sebagai korban dari tipu daya seorang femme fatale. Sebuah taktik pengkambinghitaman yang berhasil mengamankan reputasi mereka. Di sisi lain, para pria ini pun harus menelan pil pahit karena mayoritas istri mereka di Jepang telah menikah lagi dengan pria lain, menganggap mereka telah lama gugur.

Akibat narasi sepihak tersebut, pers mengeksploitasi Kazuko dengan julukan Ratu Lebah atau Ratu Anatahan". Terjepit oleh kemiskinan dan stigma, Kazuko yang tidak memiliki akses media untuk membela diri akhirnya mengeksploitasi ketenarannya sendiri dengan melakukan tur sandiwara ke berbagai kota. Citranya sebagai wanita penggoda semakin terkunci permanen di tingkat global melalui film Hollywood The Saga of Anatahan (1953) garapan Josef von Sternberg.

Pukulan psikologis terberat bagi Kazuko terjadi saat ia pulang ke Okinawa. Ia menemukan bahwa Shoichi Higa suami pertama yang kepergiannya menyebabkan ia terisolasi selama 6 tahun dalam neraka Anatahan ternyata selamat dari perang dan telah membangun keluarga baru, mengira Kazuko telah lama tewas.

Pada pertengahan tahun 1950-an, ketika minat publik mereda, Kazuko perlahan dilupakan. Ia sempat mencecap kehidupan normal; menikah dengan seorang duda dan membuka kedai kopi sederhana. Sayangnya, sembilan tahun kemudian sang suami meninggal dunia. Kazuko harus kembali berjuang sendirian melawan penyakit tumor otak, hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir pada awal tahun 1970-an di sebuah rumah sakit di Okinawa, tenggelam dalam kesepian dan kebisuan sejarah. (*)