Biografi KH Abdul Qodir Hasan dari Martapura
KH Abdul Qodir Hasan dilahirkan pada tahun 1891 di Kampung Tunggul Irang Martapura dan memulai pendidikannya dengan mengaji di Martapura. Guru-guru beliau diantaranya, KH Abdur Rahman (Guru Adu) Tunggul Irang, dan KH. Muhammad Kasyful Anwar.
Setalah selesai di Martapura, KH Abdul Qodir Hasan melanjutkan pendidikannya dengan belajar kepada KH Kholil di Kabupaten Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang, yaitu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan sempat pula belajar di kota Makkah Al Mukarramah.
KH Abdul Qodir Hasan termasuk murid yang paling disayangi oleh KH Hasyim Asy’ari dan dipercaya untuk mendirikan cabang Nahdlatul Ulama (NU) pertama di luar Pulau Jawa, yakni di Kota Martapura setelah mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama pertama tanggal 21 Oktober 1926 di Surabaya. Dari kota Martapura inilah, KH Abdul Qodir Hasan mendirikan dan melantik cabang-cabang organisasi Nahdlatul Ulama di beberapa wilayah di Pulau Kalimantan sebagai rais syuriah pada masa itu.
Di masa kepemimpinannya sebagai pimpinan pondok dan rais Nahdlatul Ulama, KH Abdul Qodir Hasan melaksanakan pertemuan rutin setiap bulan di aula pondok Darussalam yang dihadiri oleh seluruh tuan-tuan guru yang ada di Kota Martapura dan sekitarnya untuk membahas persoalan agama yang timbul di masyarakat (bahtsul masa’il) dan ditutup dengan tahlilan.
Acara ini disebut dengan istilah lailatul ijtima. Hasil forum bahtsul masail ini kemudian disebarkan kepada masyarakat sebagai solusi terhadap berbagai persoalan keagamaan dan sosial yang terjadi di masyarakat.
KH Abdul Qodir Hasan dikenal sebagai sesepuh di Pondok Pesantren Darussalam dan seringkali dipanggil dengan sebutan Guru Tuha. KH Abdul Qodir Hasan adalah orang yang menjadi tangan kanan KH Muhammad Kasyful Anwar saat menjabat sebagai pimpinan Pondok Pesantren Darussalam tahun 1922 sampai dengan 1940 dan kemudian menggantikan sebagai pimpinan setelah KH Muhammad Kasyful Anwar wafat dari tahun 1940 sampai dengan tahun 1959.
Sejak pimpinan KH Kasyful Anwar sampai pimpinan KH Abdul Qodir Hasan, banyak guru pengajar di Darussalam yang ditugaskan untuk berdakwah dan mengajar agama Islam keluar daerah seperti Sampit, Pontianak, Kota Waringin, Kotabaru, Purukcahu dan daerah di luar Kalimantan Selatan lainnya. Para guru yang dikirim tersebut bermukim di tempat-tempat tersebut dan lalu mendirikan madrasah/pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Pada masa pendudukan Jepang, Pondok Pesantren Darussalam dipaksa untuk menjadi asrama tentara Jepang, namun oleh KH Abdul Qodir Hasan proses belajar mengajar masih tetap terus dijalankan dengan disebarkan di rumah-rumah guru pengajar dan terus istiqomah kegiatan sekolah dijalankan seperti itu hingga Jepang keluar dari Martapura tahun 1945.
Pada zaman zaman revolusi kemerdekaan, KH Abdul Qodir Hasan bertindak sebagai sesepuh gerakan gerilya di Kalimantan, memberikan semangat dan kekuatan moril bagi para pejuang gerilya yang berusaha mengusir tentara Belanda yang kembali hendak menjajah Tanah Air.
Pada tahun selanjutnya, awal kemerdekaan Republik Indonesia, KH Abdul Qodir Hasan turut aktif memulihkan keamanan bersama-sama dengan almarhum K.H. Zainal Ilmi Dalam Pagar Martapura.
KH Abdul Qodir Hasan wafat pada hari Sabtu, tanggal 11 Rajab 1398 Hijriah / 17 Juni 1978 Masehi. Tempat pemakaman beliau di kubah jalan Masjid Agung Al-Karomah Pasayangan Martapura. (*)
Editor : S. Anwar