Mengenal Tuanku Tambusai, Harimau Paderi dari Rokan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Muhammad Saleh atau Tuanku Tambusai
Muhammad Saleh atau Tuanku Tambusai
grosir-buah-surabaya

Dunia kolonial mengenalnya sebagai sosok yang licin, cerdik, dan mustahil untuk diajak berkompromi. Bagi Belanda, ia adalah momok menakutkan yang dijuluki "De Padrische Tijger van Rokan" atau Harimau Paderi dari Rokan. Dialah Tuanku Tambusai, ulama sekaligus panglima perang yang memilih mati di tanah pengungsian ketimbang harus berjabat tangan dengan penjajah.

Jejak Awal Muhammad Saleh

Lahir di Dalu-dalu pada 5 November 1784 dengan nama kecil Muhammad Saleh, ia tumbuh besar di bawah asuhan ayahnya, Tuanku Imam Maulana Kali, seorang guru agama tersohor. Sejak dini, Saleh tidak hanya dijejali dengan ilmu agama, tetapi juga ditempa dengan ketangkasan berkuda, ilmu bela diri, hingga tata cara bernegara.

Haus akan ilmu, ia merantau ke Bonjol dan Rao di Provinsi Sumatera Barat. Di sanalah ia mendalami ajaran Paderi dan mendapatkan gelar Fakih. Sepulangnya dari tanah suci Makkah—atas restu Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Arab—Saleh kembali dengan visi besar: melakukan pemurnian agama di tanah kelahirannya, Rokan Hulu.

Sang Arsitek Strategi dari Benteng Dalu-dalu

Pusat kekuatannya berada di Benteng Dalu-dalu, sebuah pertahanan kokoh yang menjadi saksi bisu kegigihannya. Selama 15 tahun, Tuanku Tambusai memimpin pasukan gabungan dari berbagai wilayah mulai dari Lubuksikaping, Padanglawas, hingga Mandailing dan Natal.

Kehebatannya bukan isapan jempol semata. Ia tercatat pernah:

Menghancurkan Fort Amerongen, benteng milik Belanda yang sangat dijaga ketat.

Merebut kembali Bonjol dari tangan Belanda, meski hanya untuk sementara.

Menghadapi musuh dari dua sisi, yakni pasukan kolonial dan sekutu lokal seperti Raja Gedombang (Regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo.

Pantang Berdamai hingga Akhir Hayat

Satu hal yang membuat Belanda frustrasi adalah prinsipnya yang keras. Saat Kolonel Elout menawarkan perdamaian, Tuanku Tambusai menolaknya mentah-mentah. Baginya, kedaulatan dan keyakinan tidak bisa ditawar.

Pada 28 Desember 1838, Benteng Dalu-dalu akhirnya jatuh setelah kepungan hebat. Namun, bak harimau yang lincah, ia berhasil meloloskan diri melalui pintu rahasia di saat-saat terakhir. Ia menyeberang ke Semenanjung Malaya dan menetap di Rasah, Seremban, Negeri Sembilan.

Tuanku Tambusai wafat di sana pada 12 November 1882 tanpa pernah menyerah kepada Hindia Belanda. Atas jasa dan keteguhan prinsipnya, Pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1995. (*)