Amanda Cole, Pemilik Sayurbox yang Masuk Jajaran Forbes 30 Under 30 Asia
Di era digital saat ini, memesan sayur-mayur, buah-buahan, hingga daging segar berkualitas tinggi semudah menyentuh layar ponsel. Di balik kemudahan belanja dapur yang dinikmati jutaan ibu rumah tangga di Indonesia ini, ada peran besar seorang perempuan muda yang visioner. Dialah Amanda Susanti Cole, atau yang akrab dikenal sebagai Amanda Cole.
Siapa sangka, berawal dari sekadar hobi berkebun dan empati mendalam terhadap nasib petani lokal, wanita kelahiran Jakarta, 22 Juni 1990 ini sukses menjelma menjadi salah satu "Ratu Startup" agritech paling berpengaruh di tanah air.
Keberhasilannya mendirikan dan membesarkan platform Sayurbox bahkan membawa namanya terbang tinggi ke panggung internasional dengan bertengger dalam daftar prestisius Forbes 30 Under 30 Asia.
Lulusan Inggris yang Pilih Pulang Kampung Menembus Lumpur
Latar belakang pendidikan Amanda Cole sebenarnya sangat mentereng dan jauh dari kesan dunia pertanian yang berlumpur. Usai merampungkan sekolah menengah di British International School Jakarta, ia terbang ke Inggris untuk menempuh studi S1 jurusan Management and Finance di The University of Manchester hingga lulus pada tahun 2011.
Sekembalinya ke tanah air, Amanda sempat mencicipi berbagai profesi humas dan sosial, mulai dari menjadi guru les bahasa asing hingga menjadi penulis konten sukarelawan demi mempromosikan kuliner nusantara. Namun, takdir hidupnya berubah ketika ia mulai mengurus kebun pertanian milik keluarganya di kawasan Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat.
"Dari hobi berkebun di Sukabumi itulah mata Amanda terbuka melihat sebuah realitas pahit. Ia menyaksikan langsung bagaimana para petani lokal harus mandi keringat bekerja keras, namun tetap kesulitan menjual hasil panen mereka akibat rantai logistik yang terlalu panjang dan permainan harga para tengkulak."
Tergerak oleh rasa empati, Amanda mengambil langkah berani. Di usia yang masih tergolong muda, yakni 27 tahun, ia nekat mendirikan startup e-commerce Sayurbox pada tahun 2017 bersama rekan-rekannya dengan misi mulia: memutus rantai tengkulak dan menghubungkan langsung hasil panen petani ke meja makan konsumen (farm-to-table).
Jatuh Bangun Sayurbox : Nyaris Bangkrut hingga Berkah Pandemi
Perjalanan Amanda membangun imperium agritech ini tidak dilewati di atas karpet merah. Di awal operasionalnya, Sayurbox sempat tertatih-tatih. Minimnya investor yang melirik sektor pertanian digital kala itu membuat Sayurbox kehabisan modal dan hampir berhenti beroperasi secara total.
Namun, roda nasib berputar. Titik balik kesuksesan besar Sayurbox justru datang di tengah situasi krisis global pada tahun 2020 :
Awal Perjuangan
2017
Sayurbox resmi berdiri. Menghadapi masa-masa sulit, minim pendanaan, dan hampir gulung tikar karena pasar e-commerce pangan belum terbentuk matang.
Meledak di Masa Pandemi
2020
Hantaman pandemi COVID-19 memaksa masyarakat beraktivitas di rumah. Pesanan Sayurbox meledak drastis karena warga beralih belanja bahan pokok secara daring.
Suntikan Dana Rp1,7 Triliun
2022
Mengamankan pendanaan Seri C senilai lebih dari US$120 juta (sekitar Rp1,7 triliun) dari investor raksasa seperti Northstar dan Alpha JWC Ventures.
Kini, dari platform yang awalnya hanya bermitra dengan segelintir petani, Sayurbox telah berkembang pesat menjalin kemitraan dengan lebih dari 300 peternakan lokal, melayani 50 ribu pelanggan setia, dan sukses mencatatkan hampir 1.000 pengiriman setiap harinya.
Pengakuan Internasional dan Ketegasan Seorang Pemimpin
Kelihaian Amanda Cole dalam memadukan teknologi dan pemberdayaan sosial menarik perhatian dunia. Di usianya yang belum genap 30 tahun saat itu, rentetan penghargaan bergengsi langsung disematkan kepadanya:
MIT Technology Review (2018): Dianugerahi penghargaan 35 Innovators Under 35 di kawasan Asia Tenggara.
Forbes 30 Under 30 Asia (2019): Resmi masuk ke dalam jajaran anak muda paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes untuk kategori Enterprise Technology.
Meski kariernya berkilau, Amanda terbukti sebagai CEO yang realistis, tangguh, dan berani mengambil keputusan pahit. Pada akhir tahun 2022, ketika industri teknologi global dihantam badai tech winter, ia tidak segan melakukan efisiensi dengan memangkas 5 persen jumlah karyawan demi menjaga keberlanjutan dan kesehatan finansial jangka panjang perusahaan yang ia rintis dari nol tersebut.
Di balik gemerlap karier profesionalnya sebagai CEO, kehidupan pribadi Amanda kian lengkap dan bahagia setelah ia resmi melepas masa lajangnya dengan menikahi sang kekasih, Phil Opamuratawongse, pada tahun 2023 lalu.
Kisah sukses Amanda Cole menjadi sebuah bukti nyata bagi generasi muda, bahwa kesuksesan bisnis terbesar tidak melulu lahir dari ide yang rumit. Seringkali, bisnis raksasa justru lahir dari sebuah hobi sederhana, yang dirawat dengan empati tinggi untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat, lalu dieksekusi dengan mental tangguh yang tak kenal kata menyerah. (*)
*) Source : Nasrul Koto Psu
Editor : Bambang Harianto