Joe Hin Tjio Meluruskan Sejarah Kedokteran
Buku sejarah kedokteran dunia mencatat sebuah disrupsi besar yang terjadi pada pertengahan abad ke-20. Selama hampir 30 tahun, para pakar sains dan dokter di seluruh belahan bumi menyakini satu dogma mutlak : bahwa manusia memiliki 48 buah kromosom. Namun, siapa sangka kekeliruan global itu berhasil diluruskan oleh seorang ahli genetika brilian kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah?
Beliau adalah Dr. Joe Hin Tjio (1919–2001). Nama pria kelahiran tanah Jawa ini mungkin jarang terdengar di buku teks sekolah kita, namun di panggung sains internasional, ia adalah sosok legendaris yang meruntuhkan teori keliru para ilmuwan Barat.
Detik-Detik Runtuhnya Dogma Sains Dunia
Sebelum tahun 1955, dunia kedokteran mengalami jalan buntu dalam memetakan genetika manusia karena patokan jumlah kromosom yang salah. Menghitung jaringan sel manusia di bawah mikroskop pada masa itu sangatlah sulit; bentuknya sering kali terlihat menumpuk dan buram seperti untaian benang kusut.
Semua berubah tepat pada 22 Desember 1955. Saat itu, Joe Hin Tjio sedang bekerja sebagai ilmuwan tamu di Institut Genetika Universitas Lund, Swedia. Menggunakan teknik kultur jaringan baru yang ia kembangkan dan sempurnakan sendiri, Tjio berhasil memisahkan kromosom dari inti sel embrionik manusia dengan tingkat kejelasan yang belum pernah ada sebelumnya.
Ketika ia menghitungnya dengan cermat di bawah lensa mikroskop, dunia sains terhentak. Angka yang muncul bukan 48, melainkan 46 buah (atau 23 pasang). Tjio baru saja menemukan cetak biru sejati dari genetika manusia.
Penemuan revolusioner Joe Hin Tjio ini resmi dipublikasikan di jurnal ilmiah Hereditas pada awal tahun 1956. Tulisan tersebut langsung menjadi fondasi utama bagi lahirnya ilmu sitogenetika modern.
Dampak Besar Bagi Dunia Medis dan Karier Global
Berkat koreksi fatal yang dilakukan oleh Tjio, dunia kedokteran mengalami lompatan raksasa. Para dokter akhirnya memiliki acuan yang benar untuk mengidentifikasi berbagai kelainan genetik. Hanya berselang beberapa tahun setelah penemuannya, para ilmuwan berhasil mengetahui bahwa kelainan seperti Down Syndrome terjadi karena adanya kelebihan pada kromosom nomor 21.
Reputasi emas ini membawa Joe Hin Tjio terbang ke Amerika Serikat. Atas keahliannya yang luar biasa, ia mendapatkan posisi terhormat dan mendedikasikan 23 tahun sisa masa kerjanya sebagai peneliti senior di National Institutes of Health (NIH), pusat riset medis paling prestisius di Negeri Paman Sam.
Hingga akhir hayatnya di tahun 2001, Joe Hin Tjio tetap dikenang sebagai pionir yang membuka mata dunia tentang rahasia terdalam sel manusia. Kisah hidupnya menjadi bukti otentik bahwa pemikiran besar yang mengubah jalannya sejarah ilmu pengetahuan global, pernah lahir dari seorang anak bangsa yang berasal dari pesisir Pekalongan. (*)
Editor : S. Anwar