Jubah Usang Nabi Muhammad yang Menyembuhkan Kebutaan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi jual jubah
Ilustrasi jual jubah
grosir-buah-surabaya

Suatu Hari di Madinah, banyak penduduk disana sedang diuji oleh rasa lapar dan kesulitan. Di dalam rumah, Rasulullah SAW bersama sang istri tercinta, Sayyidah Aisyah R.A sudah berhari-hari tidak menyalakan tungku api karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak.

Di tengah keheningan tersebut, tiba-tiba terdengar ketukan lirih di pintu rumah beliau."Wahai Rasulullah, demi Allah, hamba lapar... berilah hamba sedekah," ratap suara parau dari luar. 

Rupanya, seorang pengemis tua berpakaian compang-camping sedang berdiri di depan pintu.

Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada Aisyah apakah ada sesuatu yang bisa diberikan kepada pengemis itu. Jantung Aisyah seakan berdegup kencang saat menjawab dengan suara bergetar, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, kita tidak memiliki apa-apa hari ini. Bahkan sebutir kurma pun tidak ada."

Bayangkan posisi itu. 

Rasulullah SAW adalah pemimpin tertinggi umat Islam, namun tidak memiliki sepeser uang atau makanan di rumahnya sendiri. Normalnya, seseorang akan menolak pengemis itu dengan halus. 

Namun, hati Rasulullah SAW tidak terbuat dari batu. Hati beliau adalah samudra kasih sayang. Beliau tidak pernah sanggup membiarkan seseorang pulang dari rumahnya dengan tangan hampa dan hati yang kecewa. Nabi SAW kemudian melihat ke tubuhnya sendiri. 

Rasulullah SAW sedang mengenakan sebuah jubah. Jubah itu bukanlah kain mewah bertabur benang emas, melainkan sehelai kain sederhana yang sudah sering dipakai. Tanpa ragu sedikit pun, Rasulullah SAW melepas jubah dari pundaknya. 

Rasulullah SAW melipatnya dengan rapi, lalu membukakan pintu dan menyerahkannya kepada sang pengemis. 

"Ambillah jubah ini, pergilah ke pasar, dan juallah. Gunakan uangnya untuk membeli makanan untuk keluargamu," sabda Nabi dengan senyuman paling tulus yang pernah ada di bumi.

Pengemis itu berjalan ke pasar dengan hati riang, membawa jubah yang masih menyisakan aroma harum tubuh suci Rasulullah SAW. Di tengah hiruk-pikuk pasar, ia berteriak : "Siapa yang mau membeli jubah Rasulullah? Siapa yang mau membeli jubah Rasulullah?" 

Suara itu terdengar oleh seorang saudagar kaya raya yang sedang melintas. Namun, ada satu ujian fisik yang dialami saudagar ini: ia buta. Kedua matanya tidak dapat melihat indahnya dunia.

Mendengar kata "Jubah Rasulullah", jantung saudagar itu berdebar hebat. Kerinduan dan cintanya yang mendalam kepada Nabi SAW langsung membuncah. Ia memanggil pelayannya dengan gemetar, "Cepat! Cari suara itu! Berapa pun harga yang diminta pengemis itu untuk jubah Rasulullah, bayar! Jangan menawar!"

Pelayan itu segera membeli jubah tersebut dari tangan si pengemis dengan harga yang sangat mahal, jauh melebihi nilai kain biasa. Pengemis itu pulang dengan kantong penuh uang, bersyukur karena kelaparan keluarganya telah sirna berkat kedermawanan sang Nabi.

Setelah jubah itu sampai ke tangan sang saudagar kaya, ia mendekapkan kain tersebut ke dadanya. Ia menangis tersedu-sedu, mencium aroma jubah yang pernah menyentuh kulit suci manusia agung kekasih Allah. 

Cinta yang murni tanpa pamrih bergejolak di dalam dadanya. Dalam isak tangisnya, saudagar itu mengangkat jubah tersebut dan mengusapkannya ke kedua matanya yang buta. Sambil berdoa dalam hati, ia bertawasul atas kemuliaan pemilik jubah tersebut.

Maha Suci Allah, Sang Pemilik Mukjizat! 

Tepat saat jubah itu diangkat dari wajahnya, seberkas cahaya masuk ke dalam matanya. Kegelapan bertahun-tahun lenyap dalam sekejap. Sang saudagar berkedip, memandang tangannya, memandang pelayannya, dan melihat sekelilingnya. 

Matanya telah sembuh total! Ia bisa melihat kembali berkat keberkahan jubah Rasulullah SAW.

Kegembiraan saudagar itu tak terbendung. Namun, ia tidak egois. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah membagi kebahagiaan ini dengan sang pemilik jubah. 

Ia segera berlari menuju Masjid Nabawi menemui Rasulullah SAW. Sesampainya di hadapan Nabi, saudagar itu berlutut dan meletakkan kembali jubah tersebut di pangkuan Rasulullah. 

Dengan air mata kebahagiaan yang mengalir, ia bercerita, "Wahai Rasulullah, pengemis itu menjual jubahmu kepadaku. Aku membelinya karena cintaku padamu. Lalu, aku usapkan jubah ini ke mataku, dan Allah mengembalikan penglihatanku! Sekarang, aku kembalikan jubah ini kepadamu sebagai hadiah, beserta seluruh harta yang aku bawa ini sebagai sedekah di jalan Allah."

Rasulullah SAW melihat jubah yang kembali ke pangkuannya, lalu memandang wajah saudagar yang kini bisa melihat. Seketika, air mata meleleh di pipi mulia Nabi Muhammad SAW.

Bukan karena sedih, melainkan karena takjub dan syukur atas skenario indah yang Allah jalankan. Nabi SAW tersenyum begitu indah hingga wajahnya bersinar bak bulan purnama, lalu beliau bersabda kepada para sahabat yang ada di sekelilingnya:

"Perhatikanlah jubah ini... Sungguh ajaib urusan jubah ini. Ia telah mengenyangkan orang yang kelaparan (si pengemis), memperkaya orang yang miskin (si pengemis), menyembuhkan orang yang buta (si saudagar), membebaskan budak, dan kini jubah ini telah kembali lagi ke pangkuanku."

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang keajaiban fisik, melainkan sebuah tamparan keras bagi ego manusia modern. Kisah ini mengajarkan kita tentang The Power of Giving—bahwa ketika kita memberi dengan ketulusan mutlak di saat kita sendiri sedang kekurangan, Allah tidak akan membiarkan kita kehilangan.

Rasulullah SAW memberikan satu-satunya jubah yang melekat di tubuhnya untuk menolong orang lain. Hasilnya? Allah menolong pengemis itu dari kelaparan, menyembuhkan kebutaan sang saudagar, meningkatkan keimanan umat, dan pada akhirnya mengembalikan jubah tersebut kepada Nabi dalam keadaan utuh, ditambah dengan limpahan berkah harta lainnya.

Itulah Nabi kita, Muhammad SAW. Manusia yang cintanya kepada umat mengalahkan cintanya pada diri sendiri. Manusia yang kedermawanannya menembus batas ruang dan waktu. (*)